Target Utama

Ketika saya menyebut kata Pasrah, banyak yang mengira saya pesimis, kehilangan semangat, kehilangan keyakinan untuk sehat.

Subhanallah… ampun, itu bukan gue, mak… πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Nih yaaa tandain ajaa…. kalo saya “ngilang” berhari-hari dari blogging, nahh saat itulah boleh dicurigai, saya sedang Down….. atau, emang bener2 gak sempfet…

Tapi kalo dalam 3-7 hari masih muncul obrolan baru di blog ini…. in syaa Allah saya baik-baik saja… πŸ˜†

Kalo pilihan kata yang saya gunakan terkesan mengeluh, melemah, meloyo… ya, maap…πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† namanya juga ngobrol lewat tulisan, minus ekspresi…. maanaaa ekspresinyaaaa πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† (teriakin sutradara).

Saya hanya… nggak mau kepedean “pasti sembuh” …. Yakin dengan takabur itu kadang bedanya tipis, mak… πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Kalau saya ngajak, dzikrul maut, sama-sama berbekal dan menambah bekal. Tohh memang pada akhirnya kita semua sampai di sana kan? Kematian, tidak memilih yang sakit saja, atau yang sudah tua saja, ya kaan. Berapa banyak kita dengar kabar kematian mendadak, kemarin sehat gagah ketawa-tawa. Esoknya jadi berita duka.

Cancer is a blessing, karunia, amanah, misi dari Allah.
Berdoa, berobat, itu adalah Adab, kewajiban pasien.
Memperbaiki tauhid, mindset, akhlak, amalan, akhirnya juga menjadi satu paket pengobatan.

Sembuh itu Bonus, bukan goal/target utama.
Target Utama:
Robbana atina fiddunnya hasanah, wa fil akhiroti hasanah waqina ‘azabannaar.
Allohumma sholli wa sallim wa barik ‘ala Muhammad.
.
.
.
Nungguin si abang pulang…..

Eneng udah wangi cakep nih Bang…
#lempengin_alis
#merah_merahin_bibir

Advertisements

Kemoterapi ketiga.

Sabtu 23 Juni 2017 adalah jadwal kemoterapi ketiga. Alhamdulillah malam sebelumnya, cukup tidur, cukup istirahat, fisik lebih siap dibanding kemo kedua. Berangkat ditemenin suami dan si ragil saja, karena si kakak sudah aktif kuliah lagi.

Sepanjang perjalanan saya berusaha memperbanyak istighfar dan berdoa, “Ya Allah saya mohon petunjuk, kekuatan, pertolongan, ampunan, taqwa, dan saya mohon limpahan rasa ridha atas segala kehendak-Mu…”

Lanjutkan membaca klik di sini
Continue reading

Hanya satu kata.

Sebuah kata di medsos itu bisa mengundang banyak interpretasi. Tergantung sikon pembacanya. Kalo hubungan pembaca dengan penulis sangat baik, atau pernah berjuang bersama dalam visi misi yang sama, atau pernah melalui kejadian yang sama…. pasti beda responnya dibanding hubungan yang baru sebatas saling say-hi.

Tergantung juga… sikon pembaca saat membaca postingan… good mood, or bad mood…. kalo dia lagi good mood, responnya positif…. Kalo dia lagi bokek? πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Tergantung juga, pengetahuan, wawasan, pengalaman pembaca….

Tergantung juga, kebiasaan membaca… suka baca, atau suka puyeng, haha….

Orang yang nggak biasa baca tulisan panjang, palingan yang dikomentarin cuma 2 paragaf pertama… komentarnya pasti nyambung, untuk 2 paragraf pertama….. Padahal kadang intinya di paragraf akhir… Yaaa positive thinking Fii…. They are super fast readers.

Emangnya saya.. Kayak keyong…. Siput….. kalo mau nulis komentar di postingan orang… telaten bacaaa dulu ampe titik terakhir…. bacain jugaaa komentar-komentarnya… jadi kalo ada pertanyaan yg sama, dan sdh dijawab, saya ngga perlu nanya ulang… pastiin dulu, harapan penulis, kira-kira apaan nih… kalo emang buat lucu2an, cekikikan, hayo nimbrung, bray….

Kalo sekiranya penulis butuh dukungan, penguatan, saya lebih suka nulis komentar yg intinya mendoakan, bukan menasehati “sabar ya.. ikhlas ya..” ….. karena Doa, itu lebih kuat, powerful, mampu menembus ‘arsy.

Satu kata, bisa jadi banyak output.
Bahasa tulisan di medsos memang rawan misinterpretasi, salah paham, karena minus gesture, minus intonasi, minus eye-contact.

Cobaaa, tulis komentar di bawah…. Apaa yang muncul di pikiran kita ketika membaca kata-kata di bawah ini.

1. Semangat
2. Loyo
3. Hidup
4. Mulia
5. Sukses
6. Berkah
7. Berserah
8. Pasrah
9. Kenyang.
10. Mati.

Mana yang rasanya “enak” di hati, mana yang agak ngga enak?

Memotivasi Anak Masuk Pesantren?

Banyak terima pertanyaan-pertanyaan,
1. anakmu masuk pesantren maunya sendiri atau disuruh?
2. gimana awalnya, sampek mau di pesantren?
3. gimana cara memotivasi anak mau mondok?
4. cocok nggak yaaa dengan tipe karakter anakku?

dan sebagainya, yang intinya sama.

Sharing pengalaman pribadi….

Sejak punya balita, saya sudah mulai mikir gimana caranya memperkenalkan pesantren ke anak-anak.

Cari teman-teman yang pernah mondok…. ngobrol…. galii suasana belajar di ponpes, enak ngga enaknya.

Lanjutkan membaca, klik di sini
Continue reading

Gagal SBMPTN bukan kiamat.

Di bawah ini ada kisah suksesnya ibu Fifi Proklawati Jubilea, founder / owner JISC. Jakarta Islamic School.

.

Saya dulu gak lulus SBMPTN
Anak anak saya juga gak ada yang lulus SBMPTN
Saya gak pede untuk mendaftarkan diri , jadi saya daftar di Trisakti , cuma sekali dan langsung ditrima . Dan karena saya waktu itu malas belajar jadi saya hanya dapat rangking IV , biayanya 7,5 juta .

Waktu itu ayah saya dapat bonus , sebagai pegawai negeri zaman itu , uang itu besar banget . Jadi saya nyesal gak belajar , coba kalau saya belajar siapa tahu dapat ranking 2 atau 3, maka bonus ayah saya masih tersisa untuk adik adik saya .
Tapi ayah saya hanya bilang ” Ini rezeqi kamu , pas 7,5 juta ” . Dengan berlinang airmata aku cium tangan ayah yang coklat keriput dan aku berjanji dalam hati gak akan minta apa apa lagi pada ayahku . Ayah juga gak tanya dan gak minta aku masuk PTN . Mungkin ayah tahu aku gak secerdas tetangga sebelah atau kakakku . Di situ aku melihat , ayah sangat bijaksana .

Saya kemudian baru ngeh betapa pentingnya ikut UMPTN ( dulu namanya gitu ) ketika teman saya di Trisakti lompat lompat di kantin karena dia di terima di UI pada tahun berikutnya . Dan katanya gratis .

Lalu , waktupun berlalu , dan saya punya anak yang usianya cukup untuk daftar UMPTN tapi saya gak daftarkan bahkan gak ingat bahkan gak engeh , masing masing malah sibuk daftar di Curtin n Cambridge . Mungkin karena SMU nya di sana bukan di Indo . Jadi euphoria di terima di SMBPTN tidak ada dalam keluarga kami ., Baru engeh ketika buka Facebook . Baru sadar ketika buka sekolah SMU , ternyata bangga bila ada anak didik yang ditrima . Berarti anak kita pinter .

Tapi saya gak pernah menyesali kuliah di Trisakti , dari situ saya naksir cowok dan cowoknya ikutan Pesantren Kilat , saya ngikutin dia kemudian saya jadi faham agama dan kemudian cowok itu jadi gak menarik lagi buat saya , malah kemudian saya menikah dengan seseorang yang tak terduga dari Trisakti juga , lalu saya ikut beliau ke Australia , disana saya sempat aktive ngajar anak anak di Islamic centre dan kemudian suami kerja di Malaysia dan anak anak saya sekolah di Malaysia dan saya jadi guru di Malaysia lalu saya pulang ke Indonesia dan bikin sekolah ‘ ala ala Malaysia dan Singapura campur campur dengan Australia .

Dan Alhamdulillah saya sekarang punya sekolah fullday 3 TK , 3 SD , 2 SMP n 1 SMU plus boarding school 1 SMP n 1 SMU , total 11 sekolah dengan 425 pegawai yang beberapa diantaranya katanya pernah ikut SBMPTN ( dulu UMPTN ) .

Saya rasa , tak dapat SMBPTN tak apa apa , kita gak tahu rezeqi kita kemudian ada di mana , tak mesti tak lulus SBMPTNmaka masa depan kita kurang bagus .
Sekali lagi , bagi yang tak lulus SMPBTN tak apa apa , lulus alhamdulillah , gak lulus gak papa , masih banyak pathway menuju masa depan yang lebih baik . Keberhasilan itu bisa didapat dari mana saja ..

” Jamgan sedih yaa nak .. ” ~ bilang mama , masuk swasta aja kayak tante Fifi .
Udah tua bisa ke Singapore dan makan chese cake pagi pagi ~ asyik asyik tanpa korupsi .. ^^ .

# Mari makan Hokaido cheesecake
.
.

Saya share di blog ini karena berempati pada anak-anak yang belum beruntung lulus PTN, kalo masih ada peluang beasiswa, kejar lahh Nak…. kalo mau ngulang SBMPTN tahun depan, lakukan persiapan 3x lebih baik dari tahun lalu….. atau kalo sikonnya memang sudah mentok, gelap, berdaganglah, atau cari kerjalah, atau lakukan apapun yg bermanfaat yang Allah ridho…..

.

Barakallahufik, ibu Fifi…. Proklawati Jubilea Mamahnya Ben.

Family Coaching

Emang gak pernah ngomelin anak Fi..?

Pernah lahh…. Namanya juga, emak.

Kapan?

Pertama, ketika mereka lalai dari tanggung jawab harian. Misalnya, lalai dari standar kebersihan diri, kamar pribadi, dan seluruh bagian rumah. Lalai dari disiplin meletakkan barang kembali ke tempatnya, manajemen tepat waktu, manner, attitude.

Kedua, ketika… tindakan mereka mulai nggak fokus, nggak selaras dengan cita-cita yg mereka pilih. Refreshing boleh-boleh ajaa. Tapi jangan sampai lalai dari tanggung jawab masa depan.

Tapi ketika saya lihat mereka sudah berjuang sungguh-sungguh, hasilnya tidak memenuhi harapan. Malah saya kasih hadiah. Jalan-jalan kemana, maksibar, nobar, dufan.

Kalo lagi bokek, pelukin ajaa. Puji-puji. Nobar di kamar ajaa, filmΒ² komedi. Ngobrolin yg lucuΒ²……

Setelah mereka terlihat rileks, kita evaluasi bareng. What next. Mulai dari awal, sesuatu yang baru, atau target lama dengan rencana dan cara kerja yang berbeda.

Beda anak, beda karakter. Kakak, dari A sampai Z, semuanya dia yg memutuskan. Selalu siap dengan alasan-alasan kuat, jawaban untuk setiap pertanyaan kami, “Kenapa kamu pilih itu? Apa yg kamu harapkan? Bagaimana cara kamu ke sana?”

Adiknya, agak berbeda. Lebih santai tapi banyak maunya, hahaha. Kami dorong dia untuk riset lebih dalam, goal-target yg dia mau capai. Bagaimana caranya, perlu persiapan apa saja, tantangannya apa, bagaimana rencana kerjanya, dsb. Jadi kayak sidang skripsi, dia harus bolak balik revisi, sampai kami lihat dia mantap dengan pilihannya.

Cara ini sudah saya lakukan bahkan sejak mereka SD, sejak mereka punya pilihan ekskul. Tentu saja dengan bahasa dan gaya sesuai usia pemahamannya.

Inii ceritaku…. Mana ceritamu? πŸ™‚

Peluang Sukses Selalu Ada Nak

Peluang Sukses Selalu Ada, Nak…

Saya ini “produk” gagal UMPTN (sekarang namanya SBMPTN). Sempat kepingin ikut ujian tahun berikutnya. Tapi akhirnya “nurut” saran orangtua. Kuliah di swasta jurusan teknologi informasi.

Padahal… Tahu gak, SMA saya jurusan Biologi…. Tapi hati saya pingin kuliah dimana? Sastra Perancis, wkwkw… Jauh.

Berkah nurut ortu. Sepekan lulus ujian S1, belum wisuda, saya sudah diterima bekerja di perusahaan Jepang (dulu namanya SANYO) sebagai Programmer tahun 1996 dengan gaji awal Rp 625.000,- lumayan besar untuk lulusan S1 cupu kayak saya jaman ituu.

Tahun berikutnya menikah. Setahun kemudian punya bayi. Tujuh tahun kemudian, loncat ke dunia marketing, manajemen, dan kecantikan. #uhuk

Alhamdulillah 8 tahun karir saya di marketing, bisa dibilang lumayan. Sempfet dapet reward jalan-jalan ke Yunani tahun 2008, nraktir bapak saya (Allohuyarham) umroh, ganti kendaraan, dan investasi properti.

Setelah anak-anak beranjak remaja, saya memutuskan menjadi stay-at-home-mom. Harapan saya bagaimana caranya punya keturunan yang Qurrota A’yun, sesuai dengan doa yg sering kami panjatkan (surat Al Furqan ayat 74).

Alhamdulillah, hingga cerita ini saya ketik, anak-anak kami dimudahkan oleh Allah meraih goal-target sesuai passionnya masing-masing. Yaaa, tantangan kegalauan kekecewaan, pasti ada dong. Saat itulah peran orangtua merangkul, memberi semangat, tambahan informasi dan masukan normaΒ² positif.

Putri sulung saya konsisten di sekolah negeri, mulai SD, SMP, SMA hingga saat ini semester lima di FEMA, fakultas ekologi manusia, jurusan ilmu gizi, Institut Pertanian Bogor. Dua tahun lalu dia masuk jurusan tersebut lewat jalur SNMPTN. Alhamdulillah berkah dari banyak doa keluarga dan sahabat untuk si kakak. Terima kasiiih… Jazakumullahu khairan.

Sedangkan adiknya, tahun inii pede banget nolak ikutan SBMPTN karena keukeuh pingin fokus persiapan ke Syariah LIPIA Jakarta, Al Azhar Kairo Mesir, dan Maroko. …. Mohon doanya lagi, yaaa.. Semoga Allah beri yang Terbaik, aamiin.

Jadi….
.
.

Anak-anakku sayaang yang tahun ini belum berhasil masuk PTN pilihan…….

Kecewa… Wajar… Krn kamu sudah belajar keras….
Sedih? Boleh banget… manusiawi….
Tapi jangan kelamaan yaaah….

Berlian ituu… jadi kelihatan indah dan mahal setelah ….. direndam, diperas,
disaring, dipanaskan, ditempa, dipukul, dikerok, dipanaskan lagi, ditempa ulang, dikikis……

Sedangkan kalian?
Kalian lebih mahaaaall lagii dibandingkan berlian. Priceless. Tak ternilai harganya.

Apapun cita-cita mulia kalian, orangtua pastii akan dukung, mengusahakan dan mendoakan yang terbaik.

Kuliah dimana pun, atau pun qadarullah tidak kuliah pun…. Peluang jadi orang sukses itu selalu ada dan banyak pilihan jalannya…

Dimana ada kemauan, di sana ada jalan.
Bila belum ketemu jalan, maka buatlah jalan.
Mari jalan-jalan. #eh

Coba …. sekarang… tulis ulang Dream kalian, impian, cita-cita, berikut rencana-rencana kerjanya, mau ngapain dulu, minta bantuan siapa,, abis itu ngapain, abis itu belajar apaan lagi. Tempel di dinding kamar, di meja belajar, jadikan wallpaper laptop, sleep-mode henpon. Makin mudah terlihat makin sering tiap hari. Makin bagus…..
Coba merenung ulang, evaluasi, hal-hal apa saja yg perlu diperbaiki.

Bungkus semuanya dalam doa. Setiap hari. Lakukan apa saja yang bisa dilakukan semampu kalian. Sebaik-baiknya.

Pemain sepak bola yang jagoooo banget cetak Goll, itu latihannya nendang bola lebih dark seribu kali, sehari. Mereka lakukan setiap hari. Berminggu. Berbulan. Konsisten. Persisten.

Kesuksesan akan mendatangi orang-orang yang kenyang persiapan. So.. Are you ready?