Mohon keridhoan memaafkan kekhilafan saya.

Cancer itu bisa dibilang makhluk ciptaan-Nya. Mereka punya sistim metabolisme sendiri. Hanya Allah yang dapat mengendalikannya, menaklukkannya.

Dzikrullah, mengulang-ulang taubat, istighfar, tahmid memuji Allah atas segala ni’mat-Nya yang tak terhitung, memperbanyak shalat, shadaqah, membaca Al Quran, akan membawa ketenangan dan kejernihan berpikir bagaimana langkah ikhtiar selanjutnya.

Saya mohon maaf dari awal kita berkenalan hingga nanti maut memisahkan, jika ada (pasti ada) tindakan, sikap, kalimat saya yang kurang berkenan di hati keluarga dan sahabats. Saya mengakui, diri ini miskin ilmu, miskin amal, miskin adab, kaya dosa kaya maksiat. Mohon keridhoannya memaafkan kekhilafan saya, dari awal sampai akhir.

Pengobatan baik medis atau non medis adalah Pilihan yang Wajib ditempuh sebagai bukti kesungguhan doa-doa kami. Saya sangat percaya dan yakin Allah mengabulkan harapan, doa-doa keluarga, sahabats, semua orang yang menyayangi saya. Sangat mudah bagi Allah menyembuhkan, hanya dengan Kun. Dan peran saya adalah melakukan ikhtiar Terbaik yang saya mampu.

Terima kasih atas dukungannya, cintanya, perhatiannya, doa-doa indahnya. Jazakumullahu khairan. Hanya Allah yang mampu membalas kebaikan keluarga dan sahabat semua.

Persiapan kemoterapi kelima, 4 Agustus 2018.

Advertisements

Nahh kaaann, ditolak…. jadi baper sendiri kan.. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Ngasih saran sih, boleh…. Boleh banget….
Tapi liat dulu sikonnya, liat waktunya, tempatnya, pilih kalimatnya.

Kenapa saya sering bilang “jangan sotoy” ….?

Tidak semua jenis Cancer bisa dikasih tindakan yang sama. Dokter saja ngasih obat per kasus. Sama-sama cancer payudara, jenis operasinya beda, jenis obatnya beda, jumlah jenis obatnya beda, jumlah dosisnya beda, lama pengobatannya beda.

Demikian juga, saran-saran lain. Pelengkap pengobatan. Bukannya kami menolak perhatian kasih sayang, bukan pula tidak mau cepat sembuh. Tapi berilah kami keleluasaan mengambil keputusan dan pilihan apapun, secara sadar, dalam keadaan tenang, sesuai dengan yang kami yakini.

Keluarga pasien sudah mengalami tekanan yang luar biasa. Please jangan lagi kita menambah dengan judgement-judgement, “Kurang zakat kalik tuh, kurang sedekah tuhh, emak bapaknya kebanyakan dosa tuhh, nggak mau berobat ke sana siih, nggak mau diet anu siih, sering ngelakuin ini itu siih …. dsb.”

Heyyy….. it can happen to anyone. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Cancer, bisa menclok pada siapa saja lohh. Bahkan pada orang yang sudah bertahun-tahun berusaha menjalani gaya hidup sehat. Jangan sombong dulu. Kita belum tahu, sepekan – sebulan – setahun kemudian takdir kita dan keluarga kita. Bukan saya nyumpahin lohh. Ngingetin. Jangan sombong dulu. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Akan lebih baik bagi kita mendoakan. Semoga Allah melimpahkan mereka kesembuhan yang tuntas, kesehatan paripurna, dan sisa usia barokah penuh manfaat. Kalo mau ditambahkan semoga diampuni dosa-dosanya, lebih bagus. Dan lebih bagus lagi doakanlah diam-diam. 😊😊😊

Tahukah kita…. Doa itu efeknya bisa lebih dahsyat dari pada pengobatan itu sendiri. Kebaikan doa itu pun kembali kepada kita yang mendoakan. Kita nggak mau, mendapat kebaikan doa ini? 😊😊😊

So… jika kita sayang, peduli, saran terbaik adalah, Doakanlah. Hiburlah. Buatlah pasien dan keluarga lebih rileks, lebih banyak tersenyum, lebih bisa tertawa. Boleh beri saran Hanya Jika Diminta.

Semoga bermanfaat.
Fifi Alhamdulillah ‘ala kulli hal Sofida.

Berkeluh kesah?

Manusia… memang salah satu tabiat dasarnya, berkeluh kesah. Sesekali, dua kali, tiga kali mengeluh, menurut standar saya sih manusiawi ya. Wajar banget lahh. Etapinya standar orang boleh beda-beda, sigh…

Kalo mau jujur, setiap kita pasti ada masa-masa hanya ingin didengarkan… Kalo mau jujur, sebagian dari kita pasti merasa kadang butuh teriak, menangis, sebelum akhirnya tersungkur sujud mengiba kepada-Nya.

Mungkin sebagian kita menganggap, menangis itu cengeng, tidak sabar, tidak tegar, payah. Saya berbeda pendapat dalam hal ini. Menangis lahh jika itu akan membuatmu lega, dan kuat keesokan harinya. Saya merasa nggak perlu terlihat sok-kuat. Apa adanya, aja.

Kalo mau jujur, setiap kita pasti pernah merasa butuh, menceritakan masalah kepada sesama manusia, dengan harapan mendapat inspirasi jalan keluar yang win win solution. Hanya saja ini beresiko, sharing kepada salah orang, bukannya solusi yang didapat, tapi malahan.. sampah. πŸ˜‚πŸ˜‚

Ya, jadikan pelajaran saja di kemudian hari. Liat-liat orangnya. Biasanya, orang yg pernah mengalami hal yg sama, akan lebih mudah berempati dan memberikan ide solusi praktis. Atau.. orang-orang sholih yang kenyang ujian hidup, biasanya, akan merespon dengan ilustrasi-ilustrasi yang indah, hingga kita bisa menemukan sendiri solusi bagi masalah kita. Boleh jadi, itulah jawaban dari doa-doa kita.

La haula wa la quwata illa biLLah.
Fifi Sabarnova Istighfarlagina Sofida.

Kebiasaan baru

Sedang membangun kebiasaan baru sejak entah sebeΔΊum atau sesudah operasi. ΔΉupita eike persisnya kapan. Tiap pagi suami berangkat ngantor, bukan hanya cium tangan dan peΔΊuk, tapi juga minta maaf. Kadang airmata hampir membasahi kemeja beΔΊiau. “Maafin aku, mas…”

Begitu juga ketika anak-anak pamit keΔΊuar rumah. Bukan hanya membiarkan mereka cium tangan saya, tapi saya doakan di ubun-ubunnya. Kebiasaan ini sudah saya lakukan sejak mereka KeΔΊompok Bermain. … Dan sekarang saya tambahkan dengan ucapan, “Maafkan ibu ya Nak..”

Kenapa selebay itu sih Fi…..

Menurut saya, ini nggak lebay. Manusia pasti berbuat kesalahan dan nggak perlu nunggu lebaran utk minta maaf. Apalagi karakter saya, yang impulsif. Ceplas ceplos. Yakin saya.., anak-anak dan suami sering “mangkel” dengan tindakan dan ucapan saya..

Akhir2 ini saya hanya sering merasa ngeri, hidup saya “selesai” sebelum urusan dengan manusia selesai (minta maaf). Saya pikir ini hanya salah satu ikhtiar kecil, menyelaraskan doa dan impian. Husnul khatimah.

Mohon doanya, semoga istiqomah.
Jika dirasa bermanfaat silakan ditiru dan disempurnakan…
Allohumma inna nas aluka Husnul khatimah wa na udzubika min azabil qobr, wa na udzubika minannaar.

Sayangi dirimu

Hidup adalah Pilihan.

Kalo saya…. nggak mau jadi dokter diri sendiri.
Penakut sih penakut…
Tapi lebih takut lagi, membiarkan berlarut dalam ketakutan, menghindari dokter, sotoy ngobatin sendiri pake ini itu anu hanya berdasarkan testimonials dan katanya-katanya. Karena badan orang beda-beda.

Banyak sudah kasus, membiarkan benjolan berbulan, bertahun, akhirnya bernanah, udha paraah ajaa… ujung2nya, ketemu dokter juga kaaann…..

Tahukah kita….. ada orang-orang yang sangat menjaga pola makan dan gaya hidup sehat anti stress… rajin memeriksakan diri ke dokter…. terakhir kontrol empat bulan lalu dinyatakan sehat….. hari ini menerima vonis, cancer stadium 3B.

Jadi, saran saya nih ya… kalo kita tahu, ada “benjolan” yang mencurigakan.. sebaiknya segera ketemu dokter… supaya?

1. Lebih cepat ketauan sumber masalahnya.
2. Lebih cepat antisipasi jangan sampe makin parah.

karena… badan orang beda-beda.
Alhamdulillah syukur kalo hasil pemeriksaan, aman. Semoga kita semua, dipanjangkan usia dalam sehat dan taqwa, aamiin.

Hidup ini Pilihan.
Mari sayangi diri kita. Sayangi keluarga. Sayangi semua orang yang menyayangi kita. Periksakan keluhan kita ke ahlinya. Siapkan pertanyaan. Ketemu, kenalan, ngobrol ama dokter.

Postingan ini tidak mengandung iklan berbayar. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Another judgement.

“Ngga capek Fi, pencitraan terus, pura-pura bahagia dengan sakit loe…”

Astaghfirullah.. Subhanallah.. walhamdulillah.. La ilaha illaLLah Muhammad Rasulullah.. (usap-dada, usap boxy). …. inhale, exhale…

Untuuung, gue lagi pengen insap.. πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ
Kalo nggak… rujakan bareng, kitah…. πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Orang yang cerdas, pasti paham, tulisan-tulisan saya, status-status saya, adalah bagian dari usaha berdamai dengan takdir, belajar mengamalkan ilmu sabar, ridha, yang selama ini baru teori saja dari kajian-kajian…. bagaimana mengolah banyak rasa, ketakutan, kecemasan, menjadi harapan dan ikhtiar….. bagaimana mengubah masalah menjadi ilmu yang (semoga) bermanfaat bagi banyak keluarga…. dan mengatasi judgement-judgement manusia sotoy πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ agar saya tetap waras. πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ ……

Woy… ngopi dong, ngopi.. sini, kenalan… πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Fifi Sabarnova Istighfarlagina Sofida.

Makan Buah Pisang

Dulu saya nggak doyan buah pisang. Sejak menjalani kemoterapi, buah pisang menjadi salah satu makanan wajib saya. Bagaimana caranya agar buah tersebut tertelan dalam porsi banyak?

1. Ubah mindset saya.

Pisang itu, salah satu buah-buahan yang ada di surga, kelak. (Referensi: Al Quran).

2. Afirmasi: buah pisang itu lebih enak dari ais krim, sambil bayangin rasa ais krim favorit.

3. Kreatifitas.
Pilih jenis pisang yang, lumayan mendingan rasanya. Seperti, pisang raja, rajasereh, emas.

Campurkan ke dalam menu, salad buah, oatmeal, bubur selasih, siram yogurt, siram kefir rasa buah beri-berian, campur ais krim, dsb.

4. Doa.
Minta rasa enak, menikmati makanan apapun yg dianjurkan utk hidup lebih sehat dan nyaman.

.

.

Rempong, yeay.. haha πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚