Inspirasi Mengelola Ketakutan

Inspirasi Mengelola Ketakutan.

By: ‘Afiyah Salma Lathifa.

Manusia, sedikit atau banyak, sering atau jarang, pasti memiliki ketakutan. Takut miskin, takut ditinggal orang yang disayang, takut penyakit, takut gagal, takut ditolak, takut dimarahin, dan sebagainya.

Menjadi stay-at-home-mom adalah impian saya. Jadi princess, di rumah aja, menikmati peran dan kodrat alamiah sebagai muslimah. Kecukupan itu relatif. Kadang, iya ada lintasan pikiran, ketakutan, ketika orang lain cerita, “Temen gue ada tuh, ga kerja, ngurus rumahtangga doang, eh suaminya meninggal, dahh keteteran dia pontang panting cari duit.”

Na’udzubillahi min dzalik. Kita berlindung kepada Allah dari kefakiran dan kekufuran.

Berusahalah menghindari pikiran, angan-angan, sesuatu yang buruk yang belum tentu terjadi. Bukankah lebih baik hidup dengan optimis, positive thinking. Yakin, selama nafas masih berhembus, rezeki masih ada. Yakin, setiap ujian sesuai kapasitas diri kita masing-masing.

Yakin saja tidak cukup. Perlu ilmu, perlu amalan. Tetap belajar yaa, caritahu, pintu-pintu rezeki, jalan-jalannya, wasilah, pengundang rezeki. Bertebaran kajiannya di youtube.

Setelah bolak-balik nyimak, amalkan. Jalin silaturahim, hubungan baik dengan sesama, sedekah, interaksi dengan Al Quran, perbaiki kualitas sholat wajib, tambah rakaat sholat dhuha dan qiyamul lail, bakti pada orangtua, belajar ketrampilan-ketrampilan baru, ngajarin orang lain ketrampilan baru, dan sebagainya.

Intinya, manfaatkan waktu luang sebaik-baiknya untuk ilmu dan amal.

Jangan juga terlalu kepo. Semuaaa dibaca, semuaaa didengar, semuaaa dipikirin, termasuk informasi yang buruk-buruk. Baca koran lampu merah yang isinya kriminal, baca isu politik yang belum jelas kebenarannya, baca berita korban kopit. Bukan nggak boleh. Tapi secukupnya, aja. Sambil lalu. Dan kurangi porsinya.

Banyakin waktu baca Quran, bergaulnya sama orang-orang yang positif, orang-orang shalih, ngobrolnya juga tema yang bawa energi positif, baca buku kisah-kisah keteladanan, biografi orang shalih, biografi orang sukses, nyimak kajian islami, nyimak seminar parenting, seminar kesehatan, seminar bisnis, itu jauh lebih bermanfaat, mencerahkan, dan meng-adem-kan.

Nemu doanya juga, nih… yang dicontohin oleh RasuluLLaah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

doa berlindung dari bencana

 

 

 

Zoom Halbil Alumni Haji

Cerita menyenangkan hari ini, “halalbihalal” ibu-ibu alumni haji angkatan XXV Dewan Dakwah Islam Indonesia. Nostalgia keseruan di Tanah Harom 2018. Kabar duka bersanding kabar gembira. Ada beberapa yang sudah berpulang ke Rahmatullah. Ada yang sudah bermantu, bercucu.

Alhamdulillah semua partisipan dalam keadaan sehat, ada yang sambil ngantor, ngajar, WFO, WFH. Kesempatan ini saya gunakan untuk menyampaikan kabar gembira, status evaluasi kesehatan saya, dan mengucapkan terimakasih atas segala support dan doa-doa beliau-beliau untuk saya.

H-1 di Arofah saya sempfet dehidrasi dan heat strzok. Ya, itu adalah hari ke-14 pasca kemoterapi kelima. Suhu udara 45° Celsius. Saya sudah minum banyak, qadarullah tetep nggak cukup. Saya harus diinfus, pindahan tukeran slot tidur di tenda, minum aja disuapin, baju basah semua karena diguyur air es dari kepala sampe punggung, intinya, jadi ngerepotin banyak orang. Tapi mereka amat sangat sangat tulus membantu saya. Barokallohufihim. 🤲

Di Padang ‘Arofah lahh saya diberi ni’mat mencicipi aneka rendang, segala jenis rendang, ada di tenda kami. Uwaw banget dahh. 💖

Di akhir acara tadi siang, ibu-ibu ini berencana bikin kajian-kajian online, tukeran kado, dan bercita-cita… umroh bareng plus sholat di Masjidil Aqsha Palestina tahun 2022 in syaa Allah, aamiin Ya Rabb. Doa dulu aja, yaa. Dan harapan kami pembimbingnya Ustadz Kasyful, pembimbing haji kami. Ustadz yang ilmunya tinggi, tapi menyampaikannya sabar banget.

Saya pribadi sangat terkesan pada Ustad Kasyful ketika memutuskan mengubah waktu dan rute lontar jumroh. Beliau nggak ngoyo saklek item putih harus rute sunnah, tapi mempertimbangkan kekuatan jamaah banyak yang resti (resiko tinggi, usia 60+, kursi roda, obesitas, jantung, diabetes, kanker), maka beliau bolak-balik bertanya kepada para syaikh, guru-gurunya di Masjidil Harom, kemudian menyesuaikan rute dan waktu lontar jumrah. Yang penting hajinya Sah.

Ustadz Kasyful juga mau menerima masukan dari jamaah yang pasca haji sebagian merengek minta ke Tho if. Kota yang sejuk seperti di Puncak Pass Bogor, kaya buah-buahan, dan buah delimanya super duper endeuss ranum, terletak di provinsi Mekkah. Akhirnya kami sewa bus ziaroh ke Tho if.

Kenapa sebegitu pentingnya kota ini bagi kaum muslimin? Baca sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaaa manteeman, tentang kota yang satu ini.

Menulis, memeluk syukur mengikat kenangan. Alhamdulillah alladzi bini’matihi tattimmush shalihaat.

Inspirasi Mengelola Niat

Kebanyakan pasien fokusnya pada, “Nggak boleh makan A, B, C.” dan mereka berusaha banget taat mematuhi pantangan, sampai baper liat orang makan. Pen makan mie-ayam, sedih, ga bole. Pen makan rendang, sedih, ga bole. Padahal kalo kepengen banget ya makan aja, dikiit. Ngilangin kangen. Cheerleader 🎉🎊

Bagi saya pribadi, lebih penting mengelola rasa, mengelola niat, mau melakukan apa-apa, untuk apa, untuk siapa, supaya kenapa, dan bagaimana caranya, cara melakukan apa-apa dengan bahagia. Rileks. Lepas, ikhlas.

Saya kurang setuju dengan orang-orang yang niat melakukan sesuatu, karena… ingin pengakuan, misalnya. “Saya mau buktiin ke si anu, si anu, si anu… kalo saya kuat.”

Pertanyaan saya, kalo kamu iya beneran kuat, bahkan lebih kuat dari yang kamu duga, emang si anunya peduli? 😊

Niat itu soal pilihan sih. Menurut saya nggak ada yang salah. Tapi sayang aja, kalo niatnya cuma segitu doang. Sayang banget.

Pasang dong niat besar, yang mulia, yang positif, yang terukur, detil, di tengah-tengah antara cita-cita idealis dan realistis. Contoh: saya mau sembuh, karena masih punya hutang sama Allah, mau bikin pesantren yatim dhuafa. Saya akan mulai dari, mewakafkan waktu luang saya untuk melayani ustadzah fulanah. Saya mau sembuh karena masih pingin berbakti pada orangtua.

Niatkan untuk pencapaian dunia dan akherat. Niatkan untuk caper sama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Dzat yang paling pantas kita persembahkan segala pembuktian dari seluruh kemampuan kita.

Niatkan juga, saya begini begitu, dalam rangka bersyukur kepada Allah, yang telah memberi saya ni’mat A,B,C sebut deh semua karunia-Nya.

Kenapa? Penting banget ya, ngelempengin niat? Menurut klean bagaimana? 😊 ayoo tulis komentar… Gantian, kasih saya feedback.