Jaga Tauhid kita.

Bismillah.

Mohon ijin berbagi lagi, ya.
Bulan Juni 2019 hasil PetCT saya kurang menggembirakan. Tak perlu saya ceritakan detil, ya.

Awalnya reaksi saya, menangis satu jam di parkiran RS.

Pulang, nyetir sendirian, dalam keadaan… Marah, sedih kacau.

Sampai di rumah, nangis lagi. Sampai capek, ketiduran. Suami pulang, nangis lagi. Nggak bisa ngomong apa-apa.

Suamiku bilang, “Kita lanjutkan perjuangan. Kita berjuang sama-sama ya. Aku temenin kamu.”

Kami sholat di tengah malam, di ruang berbeda, karena rumah kami belum ada mushollanya, kamar pun kurang luas untuk dipakai sholat bareng.

Baru takbiratul ihram ajaa, saya udah nangis lagi. Dalam sujud saya bertanya, “Ya Allah, saya sudah berobat selama setahun, saya sudah berdoa, ibu saya pun sudah berdoa kepada-Mu, sahabat-sahabat sholeh sholehah saya mendoakan saya juga. Tapi hasil PetCt koq kayak gini?”

Saat itu saya kecewa, marah, sedih. Saya keluar dari beberapa WA-group. Uninstall medsos. Untuk menenangkan diri.

Saya bertemu Dr Findy, konsultasi, beliau kelihatan tidak sependapat dengan simpulan hasil pembacaan Dr Aulia, dengan beberapa alasan. Hasil PETct saya dibawa ke RSCM untuk second opinion.

Tiap sholat saya berdoa, kembali memohon kekuatan, menerima pendapat dokter-dokter RSCM nanti. Saya mohon diberikan hati yang ridha menerima ketentuan Allah.

Pasrah… kalo emang masih harus melanjutkan terapi, semoga tubuh dan jiwa ini, kuat, sabar, ridha.

Alhamdulillah dipertemukan dengan Ummu Aufa di Sahabat Sehat, yang pernah berjuang bertahun-tahun dengan kasus yang jauh *tidak* lebih baik dari saya, tidak bisa jalan, mengalami berkali-kali anfal, divonis tidak bisa punya keturunan, berobat sampai berhutang ke (maaf) rentenir, dikejar-kejar debt collector….. Siapa yang menyangka, sekarang beliau sangat aktif nggak ada capeknya, punya sekolah tahfidz, setahun lalu melahirkan anak keenamnya. 😍

Ma Syaa Allah πŸ’–

Saya jadi ngerasa, ihh cemen banget gue. 🀭 baru dikasih segitu aja udah nangis berjam-jam. Malu sama Allah.. ☺

===

September 2019 harusnya jadwal CT-scan (ulang) tapi Dr Findy bilang, nggak usah. Hasil darahnya bagus semua. Hasil pemeriksaan fisik juga tidak ditemukan benjolan. Pesan beliau hanya, usahakan kontrol per 3 bulan tepat waktu ya.

Bersyukur dan mengambil pelajaran:

1⃣ terdapat perbedaan manhaj/madzhab di kalangan dokter

2⃣ hasil pemeriksaan di atas kertas, bisa benar, bisa juga salah. Tergantung siapa yang baca.

3⃣ Manusiawi, kalo kita merasa sedih, kecewa, marah. Tapi jangan kelamaan ya. Jangan biarkan hasil pemeriksaan, vonis dokter, merusak keyakinan kita kepada Allah. Tetap lanjutkan ikhtiar, all-out. Totalitas.

4⃣ Kembalikan semuanya kepada Yang Memberi Ujian, dan terus bangun Sangka Baik kepada Yang Memberi. …. Bagaimana besok, adalah hasil ikhtiar dan keyakinan kita hari ini. πŸ˜ŠπŸ™

5⃣ ikhtiar sungguh-sungguh, all-out, totalitas, disiplin.

Dan jangan kepedean dengan mengatakan “saya pasti sembuh karena dokternya terbaik , RS terbaik , obatnya paten, saya sudah disiplin, jaga makan, dsb.” …. Jangan sampai jatuh menuhankan ikhtiar.

Kesembuhan itu mutlak hak prerogatip Allah, yaa manteman.. πŸ™

Sahabat Sehat

Kegiatan Komunitas Sahabat Sehat selama bulan Oktober 2019. Selain Berbagi Biryani di Rumah Singgah Pasien setiap Jumat. Yoga for Cancer, Sabtu pagi di Taman Suropati. Kami juga belajar berkebun apotik sehat, ngeJus bareng, masak bareng, bikin asinan sayur ala Sahabat Sehat, yang bumbunya kompilasi dari resep-resep Salad di Instagram.

Pssstt… kami juga belajar dari dokter-dokter jagoan, lohh. Tak hanya soal pengobatan medis. Tapi juga: NLP. Neuro Language Program, untuk Self-Healing. Bagaimana mengolah pikiran dan hati agar tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri… 🀲 in syaa Allah… Semoga dimudahkan..

Terima kasih doa dan dukungannya, yaa manteman πŸ™πŸ˜Š

===

Berbagi Biryani :

BNI SYARIAH
0856102555
SUSANTI –
Konfirmasi :
Irma 0816-854-402
Santi 0813-1510-5682

Ganti Pertanyaannya

Biasanya, berbagi inspirasi dan motivasi lewat tulisan. Pagi tadi terima tantangan, sharing tatap muka berhadapan dengan pasien-pasien baru (kanker) di Rumah Teduh Jakarta.

Sebelum berangkat, saya dibriefing dulu oleh pak-suami. Nanti ngobrolin apa aja. Poin-poinnya.

Cerita pengalaman pribadi, mulai dari vonis, merasakan kecemasan, ketakutan, kegalauan, hingga memutuskan berani menjalani kemoterapi, operasi, 30x radiasi, 18x targeted therapy, 12x MLDV, … sampai akhirnya bisa bangkit kembali semangat melanjutkan hidup, yang lebih sehat. 🀲

Saya juga menceritakan kisah keren inspiratif seorang penyitas kanker Ummu Aufamira Saefuloh dan sang suami yang pernah ikhtiar total habis-habisan bahkan berhutang puluh-puluh juta untuk biaya berobat, dikejar-kejar debt collector, divonis tidak bisa punya keturunan, mereka ridha, berserah diri kepada Allah, hingga kesabaran mereka kini berbuah maniiiss. Alhamdulillah setahun lalu beliau melahirkan bayi keenam. Punya Sekolah Tahfidz. Rumahnya dipugar dirapikan Tim ACT, jadi bagus, nyaman, asri. Ma Syaa Allah.

Berhubung pak-suami berhalangan hadir, maka saya ajak ibu-saya turut berbagi semangat, pengalaman merawat pasien kanker, tips-tips menjaga kesabaran bagi para caretaker / keluarga pendamping pasien di Rumah Teduh. ….. Pasien-pasien, istri /suami pasien, orangtua, anak, kakak-kakak pendamping pasien, antusias menyimak dan bertanya pada ibu-saya. Wajah beliau pun kelihatan haru dan happy banget. Ma syaa Allah. πŸ’–

Saya juga cerita, bagaimana menjawab tantangan berubah pola makan, yang tadinya doyan gorengan, steak, sate kambing, ketoprak, mie-ayam, gudeg, nasi kapau. Kini semua yang enak itu harus jadi mantan terindah. Tiap pagi jus sayuran. Malam jus buahan. Nasi putih ganti nasi merah / singkong / pisang / oatmeal / bekatul. Olahraga lebih rutin, disiplin. Manajemen stress. Dan istirahat yang cukup.

Tips atau pesan penutup dari saya, adalah: Ganti pertanyaannya. Jangan lagi bertanya, “Why me? Kenapa harus saya yang menerima ujian ini?” Karena jawabannya PASTI: You are the chosen one. Anda adalah hamba pilihan. Pilihan-Nya, untuk menjalankan sebuah misi yang tidak semua orang mampu menempuhnya. Tujuannya untuk meninggikan derajat kemuliaan kita di sisi-Nya. …. Yakin, nggak mau? 😊

Ganti pertanyaannya dengan doa, “Bagaimana caranya agar saya dapat survive Wahai Tuhan, mohon kekuatan, petunjuk, pertolongan-Mu, bagaimana mengisi sisa usia dengan amal yang Engkau ridhoi, dan bagaimana cara saya dapat membahagiakan orang-orang yang tulus menyayangi saya?”

Rumah Teduh, 3 November 2019. Pukul 12.30 wib. Alhamdulillah, nggak sempfet foto-foto πŸ™πŸ˜Š tapi semoga bermanfaat.

Paan ci? Sera lodeh.

Dokter, bukan. Professor, bukan. Psikolog, bukan. Ulama, bukan. Komentarin pasien kanker panjang lebar, kanker itu karena begini begono bla-bla-bla.

Kalo dibilang karena genetik, banyak kasus emak bapaknya sehat, nenek kakeknya sehat, tante om-kandungnya sehat, anaknya/ponakan/cucunya kena.

Kalo dibilang penyebabnya makanan, atau gaya hidup. Banyak lohh penganut pola makan “sembarangan”, tapi badan mereka tetep sehat. Malahan kebanyakan pasien kemoterapi yang saya kenal, mereka sangat disiplin menjaga pola makan gizi seimbang, tidak merokok, tidak minum alkohol, dan rajin olahraga.

Kalo dibilang karena dosa-dosa atau kurang sedekah. Banyak pasien kanker, bayi! Bayi punya dosa apa? Terus mau ngeles, karena dosa orangtuanya? Numpang tanya : Emang situ yakin, lebih suci dari mendiang Ustadz Arifin ilham? Amalan situ lebih hebat yes? 😊

Kalo dibilang karena stress, bisa jadi. Dan banyak juga orang stress berat, ngga kena kanker tuh, palingan ketawa-ketawa sendiri..

Terus apa dong penyebabnya? Tanya saja, kepada yang menciptakan sel kanker. Sesama dokter aja sampai sekarang masih berbeda pendapat mengenai faktor pencetus kanker.

Tahun lalu saya masih mau menjelaskan ke orang-orang yang saya kira keliru memahami penyebab kanker. Ada yang berubah pandangannya. Banyak juga yang keukeuh pendapatnya benar. Youwis, sak-karepmu. 😊Sekarang? Liat-liat dulu orangnya, apakah dia benar butuh penjelasan atau cuma perlu stiker. 😊

Empatiku

Saya berusaha menghindari kalimat, “Sabar ya.. ” sebagai ungkapan empati. Karena belum tentu saya mampu sesabar mereka ketika diberi karunia ujian yang sama. Dan lagi, jujur ya, kalimat “Sabar ya.” itu beneran terasa, klise bangett, lip service, hambar, nggak ada energinya, kosong.

Saya lebih suka bilang, “Kamu orang pilihan, kamu hebat, kuat, ahli sabar, kamu menginspirasi saya.” Lalu mengucapkan doa-doa perlindungan, keselamatan, seperti: Yassarallahu lak. Semoga Allah memudahkan segalanya bagimu.

I love you, all.. because of Allah.. πŸ’–

Belajar menikmati cinta Sang Maha

Kanker itu qadarullah ada jenis yang gesit, ada yang gesit banget. Dia punya metabolisme sendiri. Ada yang saking gesitnya, dari 1 sel berkembang jadi 2, 2 jadi 4, 4 jadi 16, 16 jadi 256, dan seterusnya. Dalam hitungan bulan saja bisa naik dua stadium, yang awalnya hanya lokal, kemudian metastasis atau menyebar, ke kelenjar getah bening, tulang, paru, hati, otak. Naudzubillahi min dzalik. 🀲

Salah satu cara menghentikan atau memblokir perjalanannya, adalah dengan kemoterapi. Pengobatan ini memburu setiap sel yang membelah. Jangan takut botak, mual muntah, kulit berubah gelap eksotis, karena 3-6 bulan setelah selesai kemoterapi, in syaa Allah bakalan kembali sehat cantik/ganteng lagi. 😊

Biaya.
Minta sama Allah, sungguh-sungguh. Yakin dan percaya. Dia Yang memberi ujian, Dia juga Yang memiliki jalan keluar terbaik. Berusahalah, urus faskes, BPJS, claim asuransi kesehatan, jual assets, bersedekah, lakukan segala yang terbaik yang memang seharusnya dilakukan, kemudian berserah dirilah kepada Sang Pengatur Semesta.

Jika tugasmu di bumi belum selesai, engkau akan sembuh dan hidup lebih lama. Tapi jika Tuhan memanggil pulang, maka yakin dan percayalah, Dia juga yang akan mengurus orang-orang yang Kau tinggalkan. Dia Maha Pengasih Maha Penyayang Maha Bijaksana.

Maafkan semua yang pernah menyakitimu. Ridha, ikhlaskan, persiapkan. Bangun ulang visi misi hidup yang baru. Syukuri setiap detik yang telah dilalui. Berbagi, akan mengundang kebahagiaan dan kecukupan. Berdoa, akan membuat hatimu lebih tentram, damai, percaya diri. Luruskan niat: tidak ada kerja keras dan pengorbanan yang sia-sia.

Affirmative self talk.
Belajar berdamai dengan takdir.
Belajar menikmati keindahan cinta Sang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Sayur Taubatan Nasuha πŸ˜

Kenapa saya sebut ini menu Taubatan Nasuha? Karena isinya in syaa Allah yang sehat-sehat aja, dan cara mengolahnya pun sederhana, praktis. Matang tapi tidak overcooked (gosong/layu). Dimasaknya di dalam gerabah, panci tanah liat.

Bahan-bahan:

Brekele / brokoli.
Paprika merah.
Zucchini.
Wortel.
Timun.
Nanas.
Bawang Bombay.
Bawang putih.
Jahe.
Kayumanis.
Butter untuk menumis.
Lada bubuk.

Dressing:
VCO.
Minyak zaitun.
Jeniper.
Garam himalaya.
Madu.

Cara memgolah:
Tumis bawang sampai wangi. Masukkan lada, jahe dan kayumanis. Aduk. Masukkan brokoli, aduk 2 menit. Masukkan zucchini, wortel, timun, nanas. Aduk 2 menit. Matikan api.

Kalau bosan serba tumis, bisa dipanggang. Caranya: taburi lada dan garam di atas sayuran, panggang semua sayuran di dalam oven.

Saran penyajian:
Siram dressing sebelum makan. Aduk.

Rasanya?
Kayak asinan sayur.
Segeerrr… Hangat, asem, manis.

Kalo suka pedas bisa tambah bon-cabe. Makin seru! 😁😁