Belajar Ridho dengan Pilihan Allah.

.

Dulu aku pernah punya idealisme, anak-anakku harus sekolah di esde, esempe, esema terbaik, bilingual, gurunya native speaker. Qadarullah suatu masa kami harus hijrah dari Depok ke Rawamangun, dan biaya sekolah bilingual di tengah kota Jakarta saat itu benar-benar tak terjangkau oleh penghasilan kami berdua.

Anak-anak pun masuk SDN, sekolah dasar negeri 01 Rawamangun (populer dengan nama SD Bedeng). SMP, yang satu di pesantren Darul Quran Mulia, yang satunya di sekolah negeri lagi sampai SMAnya. Kami bangga, dan tidak pernah merasa gengsi atau malu nyekolahin anak di sekolah negeri, yang SPPnya gratis. Walaupun ada aja yang sinis, julit. Sapi sa-kecamatan mengucapkan: bodo amat.

Alhamdulillah ketika di SMA banyak banget pertolongan Allah, dimampukan bimbel sana sini, dari SMA Negeri si kakak lolos masuk PTN jalur undangan, dan lulus S1 di tahun keempat, sekarang gadis ini berkhidmat di dunia kesehatan. Sedangkan si adik, kuliah di dua kampus syariah, Al Hikmah Jaksel dan Universitas Igdir Turki (daring).

Saya pernah punya cita-cita jadi dokter. Qadarullah belok jadi IT programmer, belok lagi jadi marketing, belok lagi jadi Stay at home Mom.

Saya juga pernah berharap ada satu anak kami yang jadi dokter. Qadarullah, mulut emak berbusa-busa promosi, tidak satu pun yang tertarik masuk fakultas kedokteran. Alasannya simpel: “Sekolahnya lama, buu.. kalo masuk kedokteran aku harus ambil spesialis dan sub spesialis.. capek belajar melulu.” Ha-ha. Jujur. Baiklah. Alhamdulillah kami meridhoi pilihan-pilihan mereka.

Kami tidak pernah menuntut anak-anak dapat nilai sempurna. Fokus kami anak-anak bahagia, nyaman belajar, nyaman dengan gurunya, nyaman dengan teman-temannya, punya cita-cita, tahu cara meraihnya, dan bertanggungjawab atas pilihan-pilihannya.

Setiap orangtua berhak mengusahakan pendidikan yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya. Tapi ketika kenyataan membelokkan arah cita-cita, terimalah dengan ridho, lapang dada. Tetap bersangka baik. Tetap bersyukur. Tetap mendoakan yang terbaik.

Jangan sinis dengan pilihan orangtua lain. Kita tidak pernah tahu nasib kita ke depan. Jangan julit dengan pilihan orangtua lain. Kita tidak pernah tahu alasan sebenarnya. Bisa jadi ketika dijelaskan pun kita tidak mampu paham. Fokus aja sama anak-anak sendiri. Salam bodo amat.

.

Kami memang tidak pernah menuntut anak-anak mengejar nilai sempurna. Bukan berarti kami tidak pernah memperkenalkan anak-anak orientasi target. 🎯

Orangtua yang paling kenal karakter anak-anaknya. Orangtua yang paling paham keunggulan dan kelemahan anak-anaknya. Orangtua yang paling tahu bagaimana memotivasi anak-anaknya.

Ada anak teman kami, keunggulannya hanya di computer science, matpel lain mentok di batas bawah, yang penting naik kelas. Orangtuanya mengirim ke sekolah khusus di Perancis, sekolah menengah jurusan computer science.

Ada anak teman kami yang potensi, kemampuan dan minatnya luarbiasa di bidang seni saja. Orangtuanya mencarikan sekolah khusus kesenian.

Ada juga orangtua yang hobby kunjungan pameran pendidikan. Anaknya masih SMA kelas dua diikutkan ujian masuk perguruan tinggi di Singapura, lulus tes, langsung kuliah. Jadi nggak punya ijasah SMA, tapi punya ijasah S1 & S2 jurusan Finance.

Kami juga berusaha menggali dan melatih semua potensi, bakat, dan minat anak-anak. Melukis, menari, olahraga, bahasa, science, dan lomba-lomba lainnya. Hingga ketika di SMA si kakak mantap di jurusan eksakta, adik di jurusan sosial-bahasa. Ketika si kakak keukeuh dengan pilihannya jurusan Gizi IPB, dan berhasil lolos jalur undangan, langsung saya komentarin, “Selamat ya Nak, ibu bahagia dan bangga banget. Kamu hebat, pasti bisa selesai dalam 4 tahun dan dapetin beasiswa, in shaa Allah.”

Jreng! Jreeeng! 😀

Semester pertama IPK 4 dong. Gala dinner dengan rektor dan tawaran beasiswa terbuka dari beberapa perusahaan. Lumayan disubsidi enam jutaan per semester. Ma shaa Allah tabarakaLLaah.

Emaknya setia mengantar jemput, nungguin di parkiran sambil dzikir, tilawah, chatting. Pas di perjalanan pulang, puji-puji lagi, singgung tipis-tipis peluang S2, kalo memang anaknya suka, mampu, dan mau, push terus! 😀

Sedangkan si adik, lebih ambisius lagi. Gak bisa tenang liat kakaknya dipelukin dipuji-puji ayah ibunya. “Aku juga bisa.” Dah, kalo udah gini kan emaknya enak banget molesnya. 😀 Ma shaa Allah tabarakaLLaah. 🤲

Simpulannya, anak-anak itu unik. Tidak ada yang sama. Peran orangtua, mengenali, menggali dan melatih semua potensi, bakat, dan minat anak-anak. Mendorong, memotivasi, mengobarkan daya juang, agar anak-anak mengeluarkan seluruh kemampuannya. Libatkan Allah dalam setiap proses dan pengambilan keputusan.

Wallahu’alam bish showab. Kesempurnaan milik Allah, kesalahan kekhilafan milik kami pendosa dan fakir ilmu. Mon maap 🙏🙏 lahir bathin.

Tolong Jangan Puji Kami

.

Kalau manteman takjub membaca cerita keluarga kami… Tolong..

Tolong. Jangan puji anak kami. Jangan puji orangtuanya. Karena pujian-pujian itu bisa membinasakan. 😭😭😭 Naudzubillahi min dzalik.

Pujilah Allah dengan kalimat “Ma Syaa Allah tabarakallah”

Sungguh, ikhtiar kami tidak ada artinya sama sekali, tanpa hidayah dan pertolongan Allah. La haula wala quwata illa biLLah.

Jika ada terselip harapan pencapaian yang sama, maka doakanlah kami, mintakan ampunan atas dosa-dosa kami, mintakan perlindungan atas diri kami dan keturunan kami dari gangguan syaithan dan sekutunya, dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya, dari fitnah, bala’ musibah, penyakit dan hal-hal yang tak diinginkan.

Semua doa, akan kembali kepada yang mendoakan.

Jika kami ditanya, caranya bagaimana, kami hanya bisa berbagi cerita pengalaman, ikhtiar-ikhtiar sederhana, tidak ada amalan spesial. Sama seperti keluarga awam. Tidak suka nonton tivi. Lebih suka membaca, novel, majalah, atau traveling.

Alhamdulillah kami dikasih keterbatasan ekonomi ketika anak-anak masih kecil, sehingga sekolahnya di SDN. Sekolah Dasar Negeri, yang SPP-nya gratis.. Boro-boro les balet, piano, bimbel aja baru di ujung kelas enam sebagai persiapan UAN.

Kami juga hanya bisa ngasih pilihan, mau melanjutkan SMP SMA di pesantren, atau tetap di sekolah negeri. Pesantren kan tetep aja, mahal. Betul, dan kami sudah komitmen akan mengusahakan yang terbaik, kalo perlu jual asset, atau berhutang, agar anak-anak bisa mendapat lingkungan yang sholeh.

Si sulung konsisten di sekolah negeri. Okay diijinkan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Cari sekolah negeri yang prestasi lulusannya banyak berhasil masuk perguruan tinggi negeri, dan yang ROHIS-nya aktif, dan anak ini wajib aktif juga di ROHIS, kata kuncinya “aktif” yaa, bukan gabut, dan lokasi sekolah tersebut dekat rumah supaya nggak terlalu kecapekan kalo lagi banyak tugas.

Enaknya lagi, jaman anak-anak sekolah dulu, kami baru mampu beliin henpon yang cuma bisa teleponan dan sms-an doang. Alhamdulillah.

Saya tidak melanjutkan bekerja kantoran, palingan dagang baju dari pengajian ke pengajian, fokus dampingi si Sulung di SMP dan SMA. Alhamdulillah anak ini tanggung jawab dengan pilihannya. Jelang ujian pasti nggak mau diajak kemana-mana. Belajaaarr melulu. Bahkan seringkali, makan pun masih perlu disuapin. Setahun terakhir SMA barulah kami masukkan bimbel, persiapan SBMPTN.

Allah ijinkan masuk Fakultas Ekologi Manusia Jurusan Ilmu Gizi, institut pertanian Bogor, melalui jalur nilai rapor. Tanpa tes tulis SBMPTN. Saya kembali mengingatkan, ibu ridho kamu masuk PTN asal belajar tahsinnya dilanjutkan. Empat pekan pertama yang saya cecar, gimana, kapan mulai tahsin. Alhamdulillah Masjid Al Hurriyyah IPB ada kelas tahsin, dan si kakak gabung.

Semester pertama, Alhamdulillah IPnya empat. Ma Syaa Allah tabarakallah. Saya pernah ngomong, coba iseng-iseng caritahu info jalur beasiswa Nak. Nggak serius-serius amat juga. Alhamdulillah semester 5-6 dikasih Allah, beasiswa dari salah satu bank asal Malaysia, dan di semester ke delapan dia lulus S1 dengan predikat cum laude. Ma shaa Allah tabarakaLLaah. 😭

Peran ayah.
Suamiku, rajin sholat di masjid, rajin membaca Al Quran setiap hari, rajin shodaqoh, rajin sholat malam, rajin bebenah rumah dan sangat memuliakan perempuan-perempuan di rumah ini. Super sabar. Ma Syaa Allah. Tidak ada manusia sempurna. Beliau tipe plegmatis melankolis, salah satu keunggulannya, beliau telah setia bekerja untuk satu perusahaan, selama lebih dari dua puluh lima tahun. Kata orang, di sana gajinya kecil. Benar. Tapi rezeki dari Allah bisa lewat mana saja lohh. Pas butuh bayar uang kuliah anak, pas bonus turun. Allah Maha Kaya, Maha Mencukupi.

Peran para eyang.
Beruntung banget kami dapat orangtua yang “terserah kalian” mau didik anak pakai pola asuh kekgimana, mereka menyesuaikan diri, mendukung, mendoakan. Walaupun iya kadang ada juga eyel-eyelannya. Terutama di awal kami berniat memasukkan si bungsu ke pesantren. Alhamdulillah akhirnya sepakat juga.

Peran ibu.
Bukan cuma jadi ojek/supir antar jemput. Saya sempat perkenalkan anak-anak kepada teman-teman saya yang berprofesi sebagai dokter, psikolog, pengacara, arsitek, guru ngaji, dosen, dan lain-lain. Agar supaya anak-anak kenal beragam peran mulia di dunia ini. Tiap abis sholat, istighfar, lalu doain banyak orang, doain orangtua, doain anak, doain anak orang juga. Saya percaya, kekuatan doa, baliknya ke yang berdoa juga. Sejak kuliah saya sudah suka, hadir seminar parenting. Waktu masih ngantor juga pernah rajin seminar workshop leadership. Jadi pas punya anak, tinggal praktekin mana yang cocok. Sampai sekarang juga saya masih senang, belajar. Uang jajan dari suami, saya pakai kursus bahasa Arab, dan kursus tahsin (lagi). Tiada hari tanpa membaca buku / mengerjakan tugas. Ma Syaa Allah. La haula wala quwata illa biLLah.

Hidup ini kayak naik 🎢 rollercoaster. Nanjak, nukik, melintir, jumpalitan, tegak, silih berganti. Kesempurnaan hanya milik Allah, kami hanya menjalani takdir. Ridho, sabar, ikhlas tak mampu diraih kecuali dengan pertolongan Allah.

Menulis, mengingatkan diri sendiri. Astaghfirullah wa atuwbu ilaih.

Semoga bermanfaat.
Terimakasih telah mendoakan kami. 🙏

Belajar dari anak sendiri, mengelola kekecewaan.

Jam 10 pagi sebuah pesan teks masuk, “Ayah, ibu, hasil seleksi S1 LIPIA sudah diumumkan. Qadarullah namaku nggak ada dalam daftar.”

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Aku langsung lari masuk kamarnya, memeluknya.

Paham, tidak mudah perjuangan dua tahun di level i’dad lughowi sebagai syarat seleksi Program S1 Syariah universitas bergengsi afiliasi Riyad Saudi Arabia. Saya tauu dia belajar sampe begadang, dan sakit tifus.

Syaithan coba memprovokasi kami lewat, blaming, nyalahin sistim, nyalahin si A, B, C.

Saya berusaha mengkaunter lintasan pikiran liar ini dengan kalimat, “Tidak ada kerja keras yang sia-sia, yang ada hanya.. ikhtiar terbaik untuk Qadha Qadar terbaik saja. Jalanmu memang lewat sini, Nak.”

Dia ngangguk-ngangguk, tak lama kemudian menjawab, “Aku tau diri, bu. Selama ini kepingin apaa aja, dapet, mudah, hampir tanpa delay. Sekarang aku sedang mencerna hikmahnya. Omongan ibuk banyak pengaruh jalan hidupku. Dulu ibuk pernah bilang ikut lomba, buat dapetin temen lebih banyak, guru lebih banyak, ilmu lebih banyak, menang juara itu bonus, ketemu orang penting itu bonus, keliling Indonesia, ke luar negeri itu bonus. Dulu ibuk pernah bilang pengen aku belajar Quran di Madinah, terwujud. Bu, aku mau percaya, ini adalah jalan menuju mimpi yang lain.”

Ma Syaa Allah tabarakaLLaah.

Semoga Allah ganti dengan yang lebih baik, yang terbaik bagi dirinya, agamanya, keluarganya, hartanya, cita-cita dunianya, dan akhiratnya. Semoga dikuatkan, dicukupkan rezekinya, dan dilindungi Allah dengan penjagaan terbaik-Nya.

La haula wa la quwata illa biLLaah.. 🤲