Para Perindu

Pernah dapat cerita dari seorang guru Quran, tiga bulan lalu, bahwasanya:

Orang-orang yang bersedia meluangkan sumber dayanya (waktu, tenaga, pikiran, uang) untuk belajar Al Quran, padahal mereka punya kesibukan, peran-peran dengan tanggung jawab yang luarbiasa, mereka ini adalah orang-orang pilihan. Allah swt yang telah memilih mereka untuk berada di majelis Kitabullah.

Tapi…

Tapi kemudian, di antara mereka, ada yang mundur di awal perjalanan, atau di tengah-tengah ketika pelajaran sudah terasa sulit dan beban tugas makin banyak, bentrok dengan prioritas utama. Ada yang Allah uji dengan sakit berat, atau oleh sebab yang lain.

Ada juga yang lalai, terlena oleh godaan dunia.

 

Sebagian dari mereka ini kemudian merasa kosong, hampa, dan rindu bahagia bersama majelis Quran, hingga kemudian memutuskan: kembali berjamaah. Back for good, in syaa Allah.

Ada juga yang meski terasa berat bagi mereka, terseok, tertatih, tersandung, jatuh, bangkit, jatuh lagi, terjerembap, babak belur, dengan sisa kekuatan, bangkit lagi, berusaha tetap berada di dalam barisan orang-orang pilihan tersebut.  Karena mereka merindukan ampunan-Nya, mereka merindukan surga-Nya, mereka merindukan melihat kemahaindahan wajah-Nya.

Wahai diriku… engkau mau di golongan mana?

 

Belajar dari ujian orang lain.

Kemarin terima tilfun dari seseemak yang sedang butuh self healing dengan bercerita. Walaupun sulit bagi tipe saya yang talker, tapi saya berusaha mendengarkan dengan zero-mind. Menahan diri untuk tidak menasehati. Lebih fokus membuka pikiran untuk belajar menemukan hikmahnya bagi diri sendiri.

Saat ini beliau sedang Allah uji dengan Long Distance Marriage, mengasuh dua remaja, mengurus rumah tanpa ART (asisten rumah tangga), dan gangguan kesehatan yang tidak serius tapi karena terjadi di masa pendemi maka dokter menyarankan London-Argentina mandiri selama 14 hari nggak bisa bercengkrama dengan kedua anaknya.

Sahabat saya ini rajin hadir kajian di masjid, semangat belajar dan mengamalkan ilmunya. Hampir tiap hari selalu ada saja info kajian yang saya terima darinya. Kadang beliau mampir jemput saya dulu, kita pergi bareng. Kadang kita ketemu di tekape, tanpa janjian. Kajian bukan hanya untuk menuntut ilmu, tapi juga ajang silaturahim, dan jajan. 😊

Sejak pemerintah memberlakukan PSBB semua kegiatan pengajian ditunda sampai waktu yang belum bisa dipastikan. Panjangnya masa PSBB ini sedikit banyak mampu mempengaruhi kadar keimanan. Karena kita terbiasa apa-apa berjamaah. Ya Rabb, ampuni kami.

Balik ke cerita sahabat saya. Dalam keadaan kurang sehat, sendirian, gak bisa mendampingi dan mengurus anak-anaknya, gak berani curhat nelpon sang suami karena kuatir mengganggu, hal-hal ini bikin lebih sedih, rindu, lintasan pikiran berbagai ketakutan, campur aduk. Tapi…

Tapi hal baiknya, beliau bilang, dua belas hari terakhir sendirian, memberi waktu dan ruang kontemplasi, hubungannya dengan Allah jadi lebih mesra, indah, syahdu. Sholat jadi lebih khusyu. dzikir dan doa lebih mudah menangis. Kasih sayang Allah tu, nyata keren bangeet. Allahu Akbar walillaahil hamdu.

Ujian hidup, bagi hamba-hamba yang beriman, yang ridha, yang benar-benar mengenal dan mencintai Rabb-nya, justru akan semakin menambah kokoh keimanannya. Bagaimana mencapai derajat golongan ini? Doa, ilmu, dan amal yang masif, adalah koentji.

Saya mengenal sahabat saya ini sebagai pribadi yang (menurut observasi saya pribadi ya) amalan hariannya masif banget. Sholat fardhu tepat waktu. Memelihara wudhu. Tilawah Quran, dzikir pagi sore, dan qiyamul lailnya bisa dibilang istiqomah. Dan kepeduliannya menolong orang lain sampai sering mengorbankan kepentingannya sendiri. Ma Syaa Allah tabarakallah.

Dunia adalah tempatnya ujian. Ada yang diuji lewat kesehatan, kegagalan, kesenangan, kesedihan, kehilangan, ketakutan, gangguan ekonomi, pasangan, keturunan, orangtua, atau dirinya sendiri.

Orang-orang beriman menyikapi ujian dengan mengamalkan QS Al Baqarah ayat 45, 152, 153. Ulama besar Ibnu Taimiyah berkata, orang-orang shalih jaman dahulu ketika diberi ujian, mereka berdoa kepada Allah, meminta Ridha, yakni keadaan yang lebih baik dari Sabar.

Wallahu’alam bish showab.