Ulamaa, Pewaris Para Nabi. (2/2)

Kisah 15 Hari Buya Hamka ‘Disiksa’ Penguasa.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau akrab disapa Buya Hamka pernah mendapatkan ujian berat dan dijebloskan penjara di era rezim Soekarno.

Sunnahnya, semakin kokoh agama seorang hamba, makin beratlah ujiannya.

Kala itu, di siang Bulan Ramadhan, Buya Hamka, salah satu ulama besar Indonesia ditangkap dengan tuduhan penghianat bangsa.

Tuduhan sangat keji yang ditimpakan kepada ulama mulia yang sudah mulai memasuki masa senja.

15 hari Buya diinterogasi dengan kejam. Saat itu umurnya 58 tahun, sudah tua. Perihal penangkapannya ini dicurahkan dengan detail dalam pengantar cetakan XII buku “Tasawuf Modern“.

Berikut kutipkannya.

000

“Akhirnya, pengarangnya sendiripun terlepas dari bahaya besar, yaitu bahaya kekal dalam neraka jahannam sesudah hancur nama sendiri dan nama keturunan karena pertolongan “Tasawuf Modern”!

Pada hari Senin tanggal 12 Ramadhan 1385, bertepatan dengan 27 Januari 1964 kira-kira pukul 11 siang saya dijemput ke rumah saya, ditangkap dan ditahan. Mulanya dibawa ke Sukabumi.

Diadakan pemeriksaan yang tidak berhenti-henti, siang malam, petang pagi. Istirahat hanya ketika makan dan sembahyang saja. 1001 pertanyaan, yah 1001 yang ditanyakan. Yang tidak berhenti-henti ialah selama 15 hari 15 malam. Di sana sudah ditetapkan lebih dahulu bahwa saya mesti bersalah. Meskipun kesalahan itu tidak ada, mesti diadakan sendiri. Kalau belum mengaku berbuat salah, jangan diharap akan boleh tidur.

Tidur pun diganggu!

Kita pasti tidak bersalah. Di sana mengatakan kita mesti bersalah. Kita mengatakan tidak. Di sana mengatakan ya! Sedang di tangan mereka ada pistol.

Satu kali pernah dikatakan satu ucapan yang belum pernah saya dengar selama hidup.

“Saudara pengkhianat, menjual Negara kepada Malaysia!”

Kelam pandangan mendengar ucapan itu. Berat!

Ayah saya adalah seorang Alim Besar. Dari kecil saya dimanjakan oleh masyarakat, sebab saya anak seorang alim! Sebab itu maka ucapan terhadap diri saya di waktu kecil adalah ucapan kasih.

Pada usia 16 tahun saya diangkat menjadi Datuk menurut adat gelar pusaka saya ialah Datuk Indomo.

Sebab itu sejak usia 12 tahun saya pun dihormati secara adat. Lantaran itu sangat jaranglah orang mengucapkan kata-kata kasar di hadapan saya.

Kemudian sayapun berangsur dewasa. Saya campuri banyak sedikitnya perjuangan menegakkan masyarakat bangsa, dari segi agama, dari segi karang-mengarang, dari segi pergerakan Islam, Muhammadiyah dan lain-lain. Pada tahun 1959 Al-Azhar University memberi saya gelar Honoris Causa, karena saya dianggap salah satu ulama terbesar di Indonesia.

Sekarang terdengar saja ucapan: “Saudara pengkhianat, menjual negara kepada Malaysia.”

Memang kemarahan saya itulah rupanya yang sengaja dibangkitkannya. Kalau saya melompati dia dan menerkamnya, tentu sebutir peluru saja sudah dalam merobek dada saya. Dan besoknya tentu sudah dapat disiarkan berita di surat-surat kabar: “Hamka lari dari tahanan, lalu dikejar, tertembak mati!”

Syukur Alhamdulillah kemarahan itu dapat saya tekan, dan saya insaf dengan siapa saya berhadapan. Saya yang tadinya sudah mulai hendak berdiri terduduk kembali dan meloncatlah tangis saya sambil meratap: “Janganlah saya disiksa seperti ini. Bikinkan sajalah satu pengakuan bagaimana baiknya, akan saya tandatangani. Tetapi kata-kata demikian janganlah saudara ulang lagi!”

“Memang saudara pengkhianat!” katanya lagi dan diapun pergi sambil menghempaskan pintu.

Remuk rasanya hati saya. Mengertilah saya sejak saat itu mengapa maka segala barang tajam wajib dijauhkan dari tahanan yang sedang diperiksa.

Di saat seperti itu, setelah saya tinggal seorang diri, datanglah tetamu yang tidak diundang, dan yang memang selalu datang kepada manusia di saat seperti demikian. Yang datang itu ialah SETAN! Dia membisikkan ke dalam hati saya, supaya saya ingat bahwa di dalam simpanan saya masih ada pisau silet. Kalau pisau itu dipotongkan saja kepada urat nadi, sebentar kita sudah mati. Biar orang tahu bahwa kita mati karena tidak tahan menderita.

Hampir satu jam lamanya terjadi perang hebat dalam bathin saya, di antara perdayaan Iblis dengan Iman yang telah dipupuk berpuluh tahun ini. Sampai-sampai saya telah membuat surat wasiat yang akan disampaikan kepada anak-anak di rumah.

Tetapi Alhamdulillah! Iman saya menang.

Saya berkata kepada diriku: “Kalau engkau mati membunuh diri karena tidak tahan dengan penderitaan bathin ini, mereka yang menganiaya itu niscaya akan menyusun pula berita indah mengenai kematianmu. Engkau kedapatan membunuh diri dalam kamar oleh karena merasa malu setelah polisi mengeluarkan beberapa bukti atas pengkhianatan. Maka hancurlah nama yang telah engkau modali dengan segala penderitaan, keringat dan air mata sejak berpuluh tahun.

Dan ada orang yang berkata: Dengan bukunya “Tasawuf Modern” dia menyeru orang agar sabar, tabah dan teguh hati bila menderita satu percobaan Tuhan. Orang yang membaca bukunya itu semuanya selamat karena nasihatnya, sedang dirinya sendiri memilih jalan yang sesat. Pembaca bukunya masuk Surga karena bimbingannya, dan dia di akhir hayatnya memilih Neraka.”

Jangankan orang lain, bahkan anak-anak kandungmu sendiri akan menderita malu dan menyumpah kepada engkau.”

Syukur Alhamdulillah, perdayaan setan itu kalah dan diapun mundur. Saya menang! Saya menang!

Klimaks itu terlepas.

Setelah selesai pemeriksaan yang kejam seram itu, mulailah dilakukan tahanan berlarut-larut. Akhirnya dipindahkan ke rumah sakit Persahabatan di Rawamangun Jakarta, karena sakit. Maka segeralah saya minta kepada anak-anak saya yang selalu melihat saya (besuk) agar dibawakan “Tasawuf Modern”.

Saya baca dia kembali di samping membaca Al Qur’an.

Pernah seorang teman yang datang, mendapati saya sedang membaca “Tasauf Modern”. Lalu dia berkata: “Eh, Pak Hamka sedang membaca karangan Pak Hamka!”

“Memang!” –jawab saya: “Hamka sedang memberikan nasihat kepada dirinya sendiri sesudah selalu memberi nasihat kepada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan buku ini. Sebab telah banyak orang memberitahukan kepadanya bahwa mereka mendapat ketenangannya kembali karena membaca buku “Tasawuf Modern” ini!”

Ulama akan diuji. Ini pasti.

Yang belum pasti itu kita. Jangan-jangan ujian ke ulama menjadi ujian pula untuk kita. Dimana posisi kita?

Apakah kita termasuk sang pencaci, yang karena kejahilan diri menghina orang-orang yang Allah cintai?

Atau malah kita ada dibarisan pecinta ulama? Yang dengan kecintaan ini kita berharap….benar-benar berharap… Allah mengumpulkan kita bersama beliau-beliau yang mulia. Ulama Rabbani. Bersama, di Surga.*/Syamsuddin Arif, dari buku “Mukadimah” buku Tasawuf Modern.

Ulamaa, warosatul anbiyaa. (1/2)

Ulamaa, adalah orang-orang yang takut kepada Allah.

IMAM SYAFI’IE
Tangan dan kakinya dirantai lalu dibawa menghadap pemerintah dan hampir-hampir dipancung karena dituduh Syiah dan pemecah-belah masyarakat.

IMAM HANAFI
Ditangkap, dipenjara, dicambuk, disiksa dan dipaksa minum racun oleh pemerintah lalu meninggal dunia karena tidak setuju dengan dasar-dasar pemerintah.

IMAM MALIKI
Dicambuk dengan cemeti lebih kurang 70 kali sepanjang hayatnya oleh pemerintah kerana sering mengeluarkan kenyataan yang bertentangan dengan kehendak pemerintah.

IMAM HAMBALI
Dipenjara oleh pemerintah dan dirotan belakangnya hingga hampir terlucut kainnya kerana mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan kehendak pemerintah. Pemerintah menganggap mereka lebih betul daripada ulama.

SUFYAN AT TSAURI
Seorang wali Allah yang termasyhur. Ditangkap tanpa bicara karena berani menegur kesalahan khalifah dan dihukum gantung tetapi sewaktu hukuman hendak dijalankan kilat dan petir menyambar pemerintah dan menteri-menterinya lalu mereka mati tertimbun tanah.

SAID BIN JUBAIR
Seorang wali Allah yang dikasihi harimau. Dibunuh karena didakwa memecah-belahkan masyarakat, menentang kerajaan dan berkomplot untuk menjatuhkan pemerintah.

ABU YAZID AL-BUSTAMI
Wali Allah yang terkenal dengan pelbagai karamah. Dituduh sesat karena ilmu agamanya lebih tinggi daripada pemerintah. Dihukum pancung oleh pemerintah tetapi tiada siapapun berhasil memancungnya.

ABUL HUSIN AN-NURI
Wali Allah yang mampu menundukkan api. Ditangkap dan hampir dihukum karena dia menentang tindakan pemerintah yang membenarkan minuman arak berleluasa dalam negara.

IMAM NAWAWI
Hampir-hampir dipukul dan telah dibuang negara oleh pemerintah karena menegur tindakan pemerintah menyalahgunakan uang rakyat. Juga seorang wali Allah yang terkenal sepanjang zaman.

Subhanallah Allahu Akbar La haula wala quwwata illa billah….

قل الحق ولو كان مرا

Katakanlah yang haq walaupun pahit

Semoga kita diberikan keistiqomahan dalam menegakkan yang haq, dan senantiasa mampu mengikuti ulama ulama yang istiqomah dalam berjuang … Aamiin.

Tips Menghafal Ustadz Deden

8 HAL AGAR MENGHAFAL AL-QUR’AN TERASA NIKMAT

Berikut ini adalah 8 hal yg insya Allah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an.

Tips ini kami dapatkan dari ust. Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan.

Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.
Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau. “Ustadz.. menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa hatam??” “SEUMUR HIDUP” jawab ust. Deden dengan santai. Meski bingung, Ibu itu tanya lagi “Targetnya ustadz???” “Targetnya HUSNUL KHOTIMAH, MATI DALAM KEADAAN PUNYA HAFALAN” jawab ust. Deden. “mm.. kalo pencapaiannya ustadz???” Ibu itu terus bertanya. “pencapaiannya adalah DEKAT DENGAN ALLAH” kata ust. Deden. menggelitik, tapi sarat makna.

Prinsip beliau “CEPAT HAFAL itu datangnya dari ALLAH, INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari SYETAN”…(Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu 1 jam perhari khusus untuk qur’an.

Kapanpun itu, yg penting durasi 1 jam)
Mau tahu lebih lanjut, yuk kita pelajari 8 prinsip dari beliau beserta sedikit penjelasan dari saya.

1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL.

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yg berbeda2 pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs -yg mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya- yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yg sudah kita agendakan HANYA untuk menghafal.

2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA.
Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah WAKTU KHUSUS untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar2 kita hafal. Nikmati saja saat2 ini.. saat2 dimana kita bercengkrama dengan Allah. 1 jam lho.. untuk urusan duniawi 8 jam betah, hehe…
Toh 1 huruf 10 pahala bukan?? So jangan buru2… Tapi ingat! Juga bukan untuk ditunda2.. habiskan saja durasi menghafal secara ‘PAS’

3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QUR’AN.
Kondisi HATI yang tepat dalam menghafal adalah BERSYUKUR bukan BERSABAR. Tapi kita sering mendengar kalimat “menghafal emang kudu sabar”, ya kan?? Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat2 itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat2 kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam).

Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan BUKAN SEBAGAI BEBAN. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang?? Setialah bersama Al-Qur’an.

4. SENANG DIRINDUKAN AYAT.
Ayat2 yg sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, tu ayat sebenarnya lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe..Coba dibaca arti dan tafsirnya… bisa jadi tu ayat adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru2 suntuk dan sumpek ketika gak hafal2, senanglah jadi orang yg dirindukan ayat..

5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP.
Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang2. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake sendok nasi (centong) bikin muntah karena terlalu banyak. Menghafalpun demikian. Jika “amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “amma” diulang2, jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “anin nabail adzim” kemudian diulang2. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN
“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

7. MENGUTAMAKAN DURASI.
Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada DURASI bukan pada jumlah ayat yg akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan 1 jam kita pada Allah.. syukur2 bisa lebih dari 1 jam. 1 jam itu gak sampe 5 persen dari total waktu kita dalam sehari…!!! 5 persen untuk qur’an

8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID.
Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yg ‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak untuk Al-Qur’an… dalam hal apapun yg berkaitan dengan Al-Qur’an ; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

NB : setiap point dari 1 – 8 saling terkait…Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi.. mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal. Kami yakin ada yg tidak setuju dengan uraian di atas, pro-kontra hal yg wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan.
Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama2 berkutat dalam mencari2 metode menghafal yang cocok dan pas, dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yg marketable.
Percayalah.. 1 metode itu untuk 1 orang, si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B, karena si B cocok dengan metode Y. dan yakini sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu PENELADANAN PADA SUNNAH NABI BUKAN PENERAPAN PADA SUATU METODE.

Satu lagi.. seringkali teman kita menakut2i “jangan ngafal.. awas lho, kalo lupa dosa besar”.. hey, yg dosa tu MELUPAKAN, bukan LUPA. Imam masjidil Haram pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar???
Oke ya… Semoga kita masuk syurga dengan jalan menghafal Qur’an. Amiin…selamat menghafal..

(Catatan dari Kajian Indahnya hidup dengan Menghafal dan Mentadabburi Al Quran bersama Ustadz Bachtiar Nashir dan Ustadz Deden Mukhyaruddin di Masjid Al Falah; 7/6/’15)

Ar Rozzaaq

Kajian tentang Ar Rozzaaq (Maha Pemberi Rezeki) kemarin pagi di AQL Center, oleh ustadz Bachtiar Natsir, beliau sharing… dari literatur2 yg beliau pelajari…. org2 yg sdh wafat, di dlm kubur memohon kpd Allah agar dipinjamkan waktu kembali hidup agar bisa lebih banyak beramal-shalih. Tapi tidak bisa.

Nah… mumpung kita masih ada sisa umur, mumpung msh dikasih kesempatan ketemu Ramadhan, yuuk manfaatkan semaksimal yg kita mampu utk mengisi bekal dunia dan akhirat juga.  󾌵

Syarat sukses, memang harus berani kerja professional. Tapi kerja keras saja ternyata bukan jaminan kesuksesan. Apalagi kalau sampai, meninggalkan solat, tidak sempat membaca Al Quran, demi target penghasilan. Banyak mau, banyak keinginan, banyak angan-angan, jadi hidup hanya kerja – kerja – kerja. Ini mindset masyarakat ekonomi lemah, kata Ustadz Bachtiar Natsir.

Padahal, siapakah yang memberi rezeki?  Siapakah yang mengijinkan kita berhasil meraih keinginan dan harapan kita?  Siapakah yang sesungguhnya mampu mewujudkan impian kita jadi kenyataan?

Agar hidup berubah lebih baik. Perlu perubahan mindset, pola pikir, sikap mental. Hidup tak hanya kerja dari pagi sampai pagi demi mengejar omset / kenaikan gaji. Tapi juga perlu makanan jiwa, kebahagiaan, dan tambahan bekal akhirat.

image

Buat kita para pekerja keras, yang punya banyak kebutuhan dan merasa rezekinya agak seret, atau rezeki banyak tapi masalah tambah banyak dan utang juga lebih banyak dari pada penghasilan…. Ustadz Bachtiar Natsir memberikan tips tips praktis….

1. memulai hari dengan dzikrullah, membaca Al Quran, dan bersedekah.

2. Perbaiki kualitas solat wajib. Bagi laki-laki wajib solat fardhu di masjid.  Tambahkan dgn solat-sholat sunnah,  dhuha 4 rokaat,  solat sunnah taubat dan tahajjud di akhir malam.

3.  Dzikrullah. Istighfar 100x sehari. Dzikir tiap selesai solat, tasbih 33x, tahmid 33x, takbir 33x, tahlil.  Dzikir pagi.  Dzikr petang.

4.  Jalin silaturahim dgn orang2 baik.
5.  Niatkan dlm hati, klo dpt rezeki lebih banyak, tekadkan buat bayar lunas hutang dan bersedekah lebih banyak lagi.

6. Berdoa kpd Allah, agar diberikan kenikmatan beribadah, berdiri lama, ruku lebih lama, sujud lebih lama, sholat lebih khusyu,  baca Quran lebih nikmat, dsb.

7. Jaga pola arus kehalalan rezeki, krn kelak akan dihisab /  dipertanggungjawabkan  dari mana dan untuk apa.

Menurut beliau, kalau mau hidup lebih baik, amalkan tips tips ini tiap hari berturut-turut. Niatnya karena Allah…
󾌵

Ada seorang pengusaha sawit yang melihat kebunnya mulai kekeringan, seperti akan terjadi batal panen… Beliau menelpon sahabatnya yang orang ‘alim.  Lalu bersama – sama sahabatnya itu , mereka berkeliling mengunjungi rumah-rumah penduduk sekitar , berbagi sembako  (berinfaq). Lalu mengajak seluruh masyarakat sekitat perkebunan itu, datang ke lapangan , sholat istisqo, minta hujan.  Dua hari setelahnya, turun hujan, hanya di sekitat  pemukiman penduduk dan perkebunan.

image

Ayat ini juga solusi bagi masalah krisis ekonomi dunia.

Tips bagi pasangan suami istri yang sedang dalam upaya menyelamatkan pernikahannya:

1. Tips bagi suami, pangkal setiap masalah rumahtangga ada pada suami. Bertaubatlah kepada Allah. Jika masih cinta, maka terimalah istrimu dan maafkanlah semua kesalahannya.

2. Tips bagi istri, jangan kikir memaafkan. Bertaubatlah kepada Allah. Jika masih cinta, jangan mengungkit kesalahan masa lalu. Maafkanlah dan terimalah.

Siapa yang ingat syair ini, di film Cinderella Indonesia, 
“Kerja-kerja.. mari kita kerja.. gunting jahit, jadilah gaun.. gaun indah menarik.. untuk putri yang cantik..”

Yuk, awali hari dengan Dzikrullah, baca Al Quran, dan bersedekah. Hingga Allah ridho, dan menurunkan bala tentara-Nya, malaikat-malaikat-Nya menolong menyelesaikan urusan kita dan Allah cukupi segala kebutuhan kita. 

*cuplikan catatan dari Kajian Asmaul Husna – Ar Rozzaaq – di AQL Center. Tebet.

Cerita Lain tentang Keikhlasan

MERBOT MASJID‎

(Kisah nyata dari Masjid di Puncak, Bogor)

Ada dua sahabat yg terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yg biasa2 saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal.

Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yg istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid megah dg arsitektur yg cantik, yg memiliki view pegunungan dg kebun teh yg terhampar hijau di bawahnya. Sungguh indah mempesona.‎

Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Necis. Perlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya.

Ia punya kebiasaan. Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yg ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu yg diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai tambahan.

Seperti biasa, ia tiba di Puncak Pas, Bogor. Ia mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yg ia temukan.

Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun.

Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbot masjid..!‎

“Maaf,” katanya menegor sang merbot. “Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?”.

Yang ditegor tidak kalah mengenali.
Lalu keduanya berpelukan.
“Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…”. Zaenal terlihat masih dlm keadaan memakai dasi. Lengan yg digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. “Ah, biasa saja…”.

Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sdg memegang kain pel. Khas merbot sekali. Celana digulung, dan peci
8 didongakkan sehingga jidatnya yg lebar  terlhat jelas.

“Mad… Ini kartu nama saya…”.

Ahmad melihat. “Manager Area…”. Wuah, bener2 keren.”‎

“Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, kalau kamua berminat, di kantor saya ada pekerjaan yg lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Maaf…”.

Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih2 dulu… Silahkan ya. Yang nyaman”.

Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yg pintar, kemudian harus terlempar dari kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yg salah dg  pekerjaan sebagai merbot, tapi merbot… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan.
Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yg tidak berpihak kepada orang2 yg sebenernya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.

Air wudhu membasahi wajahnya…

Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yg sedang bebersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbot. Melainkan “office boy”.

Tanpa sadar, ada yg shalat di belakang Zaenal. Sama2 shalat sunnah agaknya.
Ya, Zaenal sudah shalat fardhu di masjid sebelumnya.
Zaenal sempat melirik. “Barangkali ini kawannya Ahmad…”, gumamnya.
Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dg Ahmad.

“Pak,” tiba2 anak muda yg shalat di belakangnya menegur.

“Iya Mas..?”

“Pak, Bapak kenal emangnya sama bapak Insinyur Haji Ahmad…?”

“Insinyur Haji Ahmad…?”

“Ya, insinyur Haji Ahmad…”

“Insinyur Haji Ahmad yang mana…?”

“Itu, yg barusan ngobrol sama Bapak…”

“Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?”

“Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun ini masjid…”.

Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal… Dari dulu sudah haji… Dari sebelum beliau bangun masjid ini…

Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah yg merbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yg bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau bangun sendiri masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yg mau shalat. Bapak lihat mall megah di bawah sana? Juga hotel indah di seberangnya? … Itu semua milik beliau… Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan…”.

Wuah, entahlah apa yg ada di hati dan di pikiran Zaenal…‎

*****‎
‎Bagaimana menurut kita ?

Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin begitu ketemu kawan lama yg sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita siapa yg sebenernya.

Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita merbot masjid,  maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yg membangun masjid ini.

Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Ia selamat dari rusaknya nilai amal, sebab ia cool saja. Tenang saja. Adem. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa2. Dan kemudian Allah yg memberitahu siapa dia sebenarnya…‎

“Al mukhlishu, man yaktumu hasanaatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi”
(Org yg ikhlas itu adl org yg menyembunyikan kebaikan2nya, spt ia menyembunyikan keburukan2nya)

(Ya’qub rahimaHullah, dlm kitab Tazkiyatun Nafs)‎

*****

Copas dari japrian bu Janti odoj 951 Cirebon.

Satu Fragmen dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Satu fragmen yang menggambarkan tingkat
tajarrud Umar bin Abdul Aziz yang luar biasa
adalah kisah “cintai tak sampai”-nya beliau.

Dikisahkan bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah
jatuh cinta dengan sangat berat dan mendalam
terhadap budak perempuan milik istrinya,
Fathimah binti Abdul Malik.
Perempuan itu memang hanyalah seorang
amah, seorang budak perempuan, namun, ia
sangat cantik jelita, mengalahkan banyak
wanita merdeka di zamannya, dan budak itu
milik Fathimah binti Abdul Malik bin Marwan,
istri Umar bin Abdul Aziz.
Sebelum Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah,
berkali-kali ia meminta kepada Fathimah,
istrinya, agar sang istri menghibahkan budak
perempuan itu kepadanya, atau menjualnya
kepadanya.

Namun, karena budak itu sangat cantik jelita,
dan sang istri mengetahui betapa berat dan
mendalam “rasa cinta” Umar bin Abdul Aziz
kepadanya, sang istri tidak mau memenuhi
permintaan sang suami. Wajar lah, wanita
mempunyai rasa cemburu, dan ia takut “kalah
bersaing” dengan sang budak itu.
Sang amah atau budak perempuan itu pun
mengetahui betapa berat dan mendalam “rasa
cinta” Umar bin Abdul Aziz kepadanya.

Sampai akhirnya, tibalah masa di mana
tanggung jawab kehilafahan jatuh pada Umar
bin Abdul Aziz.
Perlu diketahui bahwa dulunya gaya hidup Umar
bin Abdul Aziz adalah gaya hidup istana, penuh
dengan kemewahan dan bergelimang dalam
harta dan fasilitas.
Maklum lah, ia adalah putra Abdul Aziz, dan
Abdul Aziz adalah putra Marwan bin al-Hakam.
Pamannya dan sekaligus mertuanya adalah
Abdul Malik bin Marwan, salah seorang khalifah
Bani Umayyah yang sangat terkenal.

Bahkan life style Umar bin Abdul Aziz yang
sangat berbeda dari sisi kehebatan
penampilannya itu, sampai-sampai muncul
istilah: Cara berpakaian Umar, parfum Umar,
gaya berjalan Umar, dan sebagainya.
Bahkan, banyak anak gadis menjadikan Umar
bin Abdul Aziz sebagai model dalam life style
mereka.
Dulunya, Umar bin Abdul Aziz adalah seorang
pemuda yang bercita-cita “unik”.

Sewaktu masih lajang, cita-citanya adalah
menikahi Fathimah binti Abdul Malik bin
Marwan, putri cantik jelita anak khalifah yang
sangat terkenal itu. Maka ia persiapkan dirinya
sedemikian rupa, baik materi maupun inmateri,
agar dapat memenangkan “kompetisi” dalam
“memperebutkan” Fathimah bin Abdul Malik.
Dan akhirnya, berhasil lah ia menikahi Fathimah
binti Abdul Malik.

Lalu, ia pun bercita-cita ingin menjadi gubernur
Madinah, satu jabatan kegubernuran yang
paling bergengsi pada zaman itu, dan posisi
yang paling banyak diminati oleh keluarga besar
Bani Umayyah. Maka ia pun mempersiapkan diri
sebaik-baiknya, baik dari sisi kapasitas moral,
ilmiah, dan sebagainya, agar pilihan sang
khalifah jatuh kepadanya untuk menjadi
gubernur Madinah. Dan akhirnya, cita-cita ini
pun berhasil ia raih.
Sukses menjadi gubernur Madinah, ia pun
bercita-cita ingin menjadi khalifah. Maka ia
persiapkan diri sebaik-baiknya, agar saat cita-
cita itu tercapai, ia menjadi seorang khalifah
yang sukses, dunia dan akhirat. Dan akhirnya,
ia pun menjadi seorang khalifah.
Karena sudah tidak ada lagi cita-cita duniawi
yang lebih tinggi dari khalifah, maka, setelah ia
menjadi khalifah, ia bercita-cita ingin masuk
syurga Allah SWT.

Maka dipilihlah gaya hidup baru sebagai cara
dan jalan untuk menggapai cita-citanya yang
terakhir ini, disamping dengan cara menjadi
khalifah yang seadil-adilnya.
Dan gaya hidup baru itu adalah gaya hidup
zuhud. Maka seluruh harta yang ia miliki ia jual,
dan hasilnya diserahkan ke baitul mal,
sementara itu, sebagai seorang khalifah, ia
hanya mengambil gaji dua dirham perhari, atau
60 dirham perbulan.
Sehingga, setelah ia menjadi khalifah, ia hidup
sebagai seorang yang sangat miskin, dan
fisiknya pun tidak lagi parlente, megah dan
mewah seperti dahulu.
Kembali kepada kisah cintanya…

Setelah Umar bin Abdul Aziz menjadi miskin,
dan hari demi hari disibukkan oleh upayanya
menjadi seorang khalifah yang adil, istrinya,
Fathimah bin Abdul Malik, merasa iba dan
kasihan kepadanya. Maka dihibahkanlah
budaknya yang cantik jelita itu kepada Umar bin
Abdul Aziz.
Di luar dugaan sang istri dan budaknya
sekaligus, ternyata Umar bin Abdul Aziz
menolak hibah tersebut.

Sebenarnya, kalau saja sang istri dan sang
budak itu mengetahui hal yang sebenarnya,
keduanya tidak perlu terkejut, sebab,
momentum penghibahan itu terjadi setelah
Umar bin Abdul Aziz bercita-cita ingin masuk
syurga.

Sementara Umar bin Abdul Aziz tahu
betul bahwa syurga itu diperuntukkan bagi
seseorang yang memenuhi kriteria tertentu,
yang diantaranya adalah firman Allah SWT:
ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﺎﻑَ ﻣَﻘَﺎﻡَ ﺭَﺑِّﻪِ ﻭَﻧَﻬَﻰ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯ ﻓَﺈِﻥَّ
ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻫِﻲَ ﺍﻟْﻤَﺄْﻭَﻯ
“..dan adapun orang-orang yang takut kepada
kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya
syurgalah tempat tinggal(nya).” (Q.S. An-
Nazi’at: 40 – 41).

Bahkan Umar bin Abdul Aziz bertindak lebih
jauh dari sekedar menolak hibah istrinya itu,
meskipun hibah itu sendiri adalah budak
perempuan yang sangat cantik jelita dan yang
“dicinta”-nya secara berat dan mendalam.

Umar meminta kepada Fathimah untuk
menjelaskan asal muasal budak perempuan itu,
yang kemudian diketahui bahwa ia pada
asalnya adalah tawanan perang yang kemudian
menjadi budak. Dan pada saat para tawanan itu
dibagi-bagikan kepada para prajurit, ia otomatis
menjadi bagian dari milik seorang prajurit.

Tetapi, dengan alasan menghilangkan
kecemburuan prajurit lainnya, budak perempuan
itu akhirnya diambil oleh khalifah Abdul Malik
bin Marwan, yang lalu dihibahkan kepada
putrinya, Fathimah.

Mendengar penjelasan itu, maka Umar bin Abdul
Aziz meminta agar prajurit itu dipanggil untuk
menerima kembali jatah dan bagiannya yang
selama ini tertunda.

Prajurit itu pun datang, maka oleh Umar bin
Abdul Aziz, diserahkanlah budak perempuan
yang cantik jelita itu kepadanya.

Sang prajurit pun berkata: Wahai amirul
mukminin, budak perempuan itu adalah milik
anda, maka terimalah. Namun Umar tetap
menolak.

Prajurit itu pun berkata: “Kalo begitu, belilah ia
dariku, dan aku dengan senang hati akan
menerima akad jual beli ini”.

Tawaran ini pun ditolak oleh Umar. Dan ia pun
bersikeras agar sang prajurit itu membawa pergi
budak perempuan tersebut.

Budak perempuan itu pun menangis dan
berkata: “Kalau begini jadinya, mana bukti
cintamu selama ini wahai amirul mukminin??”.

Umar menjawab: “Cinta itu tetap ada di dalam
hatiku, bahkan jauh lebih kuat daripada yang
dahulu-dahulu, akan tetapi, kalau aku
menerimamu, aku khawatir tidak termasuk
dalam golongan orang yang “menahan dirinya
dari keinginan hawa nafsu” sebagaimana yang
difirmankan Allah SWT dalam Q.S. An-Nazi’at:
40 – 41.”

Semoga Allah SWT senantiasa merahmatimu
wahai Umar bin Abdul Aziz.

*diambil dari fb Ustadz Musyafa
Ahmad Rahim

Payah-Payah Bekerja

PAYAH-PAYAH BEKERJA

*Nasihat bagus dari seorang saudara

——-

Pada suatu malam, ada 3 orang sahabat yang lagi pulang kerja,
kebetulan mereka tinggal di satu apartement yang sama dan berada dilantai 18 paling atas. Sesaat mereka sampai di apartement, dan ingin menaiki lift, tiba-tiba liftnya rusak, terpaksa harus menggunakan tangga darurat. Terjadilah percakapan:

A: Eh, gimana kalo gue cerita lucu, biar nanti gak kerasa kalo udah sampe atas?

B: Boleh juga tuh.

Setelah si A selesai cerita, gak terasa mereka udah sampe lantai 10.

B: Nah, sekarang gantian gue, mau cerita serem.

A & C: Jangan serem-serem kali ya!

Akhirnya si B selesai cerita. Bulu kuduk A & C pun berdiri semua, dan tak terasa mereka udah sampe lantai 15.

C: Nah, sekarang giliran gue cerita sedih ya!

A & B: Ah, udah mau sampe, lagi pula masa cerita sedih sih, bisa panjang nanti ceritanya.

C: Ya gak apa-apa lah… Singkat kok ceritanya.

A & B: Ya udah, emang cerita sedih kayak gimana sih?

C: Sedih banget dah pokoknya!

A & B: Ya udah, cerita….
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
C: Kunci apartement kita ketinggalan di mobil…

A & B: ~!@#$%^&*()_+ *nangis berjamaah*

LELAH TETAPI NGGAK BERMANFAAT……
Wahai saudaraku jika seandainya kita tinggal di sebuah apartemen lantai 18,kemudian ketika kita akan naik tiba-tiba lift tidak dapat berfungsi dikarenakan listrik yang padam,akhirnya dengan terpaksa kita naik ke lantai 18 dengan menggunakan tangga….

Setelah sampai dengan susah payah ternyata kunci kamar kita tertinggal di mobil,tentu perasaan lelah dan kecewa bercampur aduk…….
Begitulah saudaraku……..
Demikian juga dalam melakukan sebuah ibadah…
Kita harus memahami dan membawa kuncinya agar ibadah kita tidak sia-sia….
Pernahkan kita membaca sebuah kisah yang sangat berharga….
Sahabat Umar bin Khatab suatu ketika menangis……
Apakah gerangan yang membuat beliau menangis……?
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan satu riwayat dari Abu Imran Al-Jauni, bahwa suatu ketika Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu pernah melewati sebuah kuil, yang ditinggali seorang rahib nasrani.

Umarpun memanggilnya,
‘Hai rahib… hai rahib.’ Rahib itupun menoleh.
Ketika itu, Umar terus memandangi sang Rahib.
Dia perhatikan ada banyak bekas ibadah di tubuhnya.
Kemudian tiba-tiba Umar menangis.
Orang di sekitarnya keheranan, mereka bertanya,

‘Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuat anda menangis?.
Mengapa anda menangis ketika melihatnya.’
Jawab Umar,

‘Aku teringat firman Allah dalam Al-Quran, (yang artinya) ‘Rajin beramal lagi kepayahan, namun, memasuki neraka yang sangat panas’ Itulah yang membuatku menangis.’
(Tafsir Ibn Katsir, 8/385).
Oleh karena itu wahai saudaraku yang kucintai karena Allah…
Ketahuilah bahwasannya kunci diterimanya amalan adalah:
1.Beriman
2.Ikhlas
3.Ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi)

Ibnul Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang Ikhlas dan Ittiba, beliau rahimahullaah berkata :

“Amalan yang dilakukan tanpa disertai Ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ittiba) bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”

Imam Ibnu Katsir rahimahullah salah seorang ahli tafsir al-Qur’an paling terkemuka, berkata :

“Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rosulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.”

(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205, Muassasah Qurthubah)