Tentang Rezeki Pasca Risain.


“Aku stress Mak, kalo jadi ibu rumahtangga doang.”

Ya pasti stress lahh, kalo nggak punya visi misi akherat, stressful kalo ngeliatnya “ke atas” melulu, stressed kalo akrabnya, kongkow²nya, ama pecinta dunia doang, kalo yang dominan dibaca dan ditonton cuma cerita-cerita hedonism, tapi sedikit banget porsi baca Quran.

Aku kasitau, ya.

Temen aku banyak Mak, yang risain ketika anak-anaknya masuk SMP, sepuluh tahun berlalu, para emaknya happy happy aja tu. Tetep silaturahim, tetap berkomunitas, tetep belajar. Ada yang mahir menjahit, menyulam, masak, baking, menggalang pertemanan, kerja bareng bikin sedekah jumat, kerja bareng support pendidikan yatim dhuafa.


Bahagia itu ‘kan pilihan. Bahagia itu liat anak-anak tumbuh kembang dari waktu ke waktu. Membiarkan mereka salim cium tangan dan memeluk ibunya, pamit berkegiatan. Bahagia itu dengar suara suami pulang kerja, “Assalamualaikum”. Bahagia itu bertambah ketika fokus kita hanya pada rasa syukur, qonaah, action plan belajar dan berbagi.


Keputusan bakar kapal, dan mempercayakan sepenuhnya soal nafkah pada suami, awalnya memang bikin ketar ketir, ngeri-ngeri sedap. That’s why butuh lingkungan yang memperkuat tauhid, yakin dan percaya, Allah Maha Mencukupi.


Bersahabatlah dengan orang-orang berilmu, yang ikhlas, yang sedekahnya jorjoran tapi tidak mau dikenal. Berkomunitaslah . Kenalan teman-teman baru. Belajar ketrampilan-ketrampilan baru. Bersahabat dengan para pecinta Quran dan sibuk dengan Al Quran.


Perkara rezeki?
Allah Maha Kaya.

Banyaaakk, sahabat saya, orangnya masih hidup tu, yang setelah sekian lama risain, malah tambah kaya. Ada yang punya sekian warung makan, usaha konveksi, toko herbal, toko oleh-oleh haji umroh, usaha pendidikan, konsultan, usaha jastip, jadi penulis produktif, editor buku anak-anak.


Ada juga yang sekarang punya rumah bagus, dapur bagus, kendaraan bagus, traveling ke luar negeri, dengan keahlian memasak dan baking. Benar-benar Kerja Dari Rumah. Ma shaa Allah 💖 saya salut.


Ada juga cerita, enam bulan setelah seseemak risain dengan niat mau berkhidmat pada keluarga, suaminya naik pangkat, penghasilan naik sebanyak gaji si emak waktu masih ngantor. Temen aku itu becanda, “Tau gini kan dari dulu ajaa gue risain. Ha-ha. “


Rezeki nggak hanya berupa materi, uang, dan pencapaian duniawi. Tapi juga mencakup rasa. Cukup, qonaah, sakinah, ketentraman hati. Nikmat dan khusyu dalam sholat, juga rezeki. Kesehatan adalah rezeki derajat tertinggi.


Kata orang-orang shalih, kunci pembuka pintu rezeki itu selain silaturahim, sedekah, menuntut ilmu, pergi haji dan umroh, istighfar, taubat, dan mengamalkan ini, mengamalkan yaaa, bukan menghapalkan, “Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberi jalan keluar.” – Quran Surat At Talaq ayat 2.


===




‘Aafiyah Lathifa.

Menulis, untuk mengingatkan dan menguatkan diri sendiri.

https://www.facebook.com/fifisofida33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s