Tentang Belajar Mengelola Rasa

.

Mustahil, seseorang hidup tanpa rasa.

Karena rasa itu adalah karunia Sang Pencipta, bawaan manusia yang masih hidup.

Rasa itu bagian dari takdir.

Empati, cinta, lega, bahagia, nyaman, enak, mual, nyeri, ngilu, panas, dingin, senang, sedih, marah, kecewa, bangga, harapan, takut, berani, menyesal, puas, bahkan curiga atau waspada pun bermanfaat.

Mungkin lebih tepat bilangnya, hidup kedua ini adalah tentang belajar mengelola rasa.

Ngomong doang sihh gampaang. Nulis doang sihh, enteeng.

“Aku sih orangnya cuek lohh. Kayaknya di group ini cuma aku doang yang santuy, woles, nggak baperan.”

Alhamdulillah, ma shaa Allah, iyaa bagus dooung.

Silakan. Bebas aja sikk. Orang boleh memuji dirinya sendiri “santuy, woles, nggak baperan” iya mungkin ketika itu dia sedang di puncak bahagia. Saat itu yaaa. Waktu ngomong gitu.

Dia sedang lupa mikir, apa iya sih, 24 jam kali 7 hari kali 12 bulan, manusia itu selalu auto happy menyikapi perubahan?

Realistis aja lahh. Yang namanya hidup itu ibarat naik rollercoaster. Up, down, melintir, jumpalitan, tegak, silih berganti.

Satu kejadian bisa banyak rasa. Tergantung bagaimana memaknainya.

Manusiawi banget, ketika suatu kejadian itu mempengaruhi rasa/emosi. Gak perlu malu, gak perlu gengsi, ketika rasa ketidaknyamanan itu hadir. Tidak harus dilawan, karena semakin dilawan biasanya malah jadi semakin kuat.

Saya lebih suka berproses mengenali rasa, menerima, belajar memaknai, baru kemudian melepaskannya. Waktu tempuhnya berbeda-beda, antara kejadian satu dengan kejadian lain. Mulai dari mengenali – menerima – hingga melepaskan / mengikhlaskan. Ada yang semenit beres. Ada kejadian yang butuh berhari-hari termehek-mehek baru rilis, lepas, ikhlas. Ya, iman saya nggak sehebat kalian yang selalu bisa langsung ikhlas, ridho, bahagia, menerima qodaruLLaah.

Maka tulisan ini hanya untuk mensupport orang-orang yang selevel dengan saya kadar keimanannya. Kita boleh kok merasa tidak nyaman. Kenali saja. Terima saja dulu. Memaknainya, dan mengikhlaskannya dengan pertolongan Allah.

Karena rasa itu, karunia.
Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s