Berdamai Dengan Perubahan

Berdamai Dengan Perubahan.

By: ‘Afiyah Salma Lathifa.

Kami menikah tahun 1997. Tak sampai setahun kemudian politik negeri ini bergejolak hingga berujung krisis moneter yang lumayan cihuy dampaknya buat pasangan muda seperti kami. Baru merintis karir, gaji berdua digabung belom sampe angka dua juta per bulan, punya bayi, sebelum krismon terjadi udah terlanjur nekad nyicil rumah dan kendaraan.

Sebulan setelah Pak Harto lengser, perekonomian masih jungkir balik, dan cicilan rumah BTN dari tiga ratus ribuan, naik jadi tujuh ratus lima puluh ribu rupiah per bulan. Nyesek? Ya iyalah. Nyerah? Bukan kami. Akhirnya buat makan kami sempfet berhutang. Bukan ke tetangga, bukan ke teman, bukan ke keluarga, tapi tersesat dan nyemplung jurang… Riba. Kartu kridit.

Tahun 2000 saya hamil anak kedua. Sempat terlintas digugurkan karena ibunya stres, nggak siap hamil lagi, kandungannya bermasalah, ngeflek terus, dan kondisi finansial kami masih belum sehat. Tapi akhirnya janin tetap dipertahankan, lahir dengan selamat, sehat, dan hari ini dia menjadi salah satu cahaya kebahagiaan kami.

Lima belas tahun pertama kami jalani. Suami tetap bekerja keras menafkahi kami dan saya pun terlibat bekerja, berdagang, sambil gendong bayi dan tas gembolan, naik, turun bus, angkot, Rawamangun – Slipi, Rawamangun – Depok, Rawamangun – Cimanggis, Rawamangun – Bekasi, Rawamangun – Cikarang. Setiap hari. Door to door. Geret koper isi dagangan.
Penolakan, celaan, hinaan, itu mah vitamin. Pernah juga difitnah, diusir orang.

Jaman dulu belum ada medsos. Mau ngeluh ama siapa? Mau maki siapa? Wong semua juga bokek. Doa kami waktu itu hanya, hutang lunas, dan anak-anak bisa sekolah sampai selesai kuliah. Tiap sholat malam kami bertobat ajaa, karena manusia pasti berbuat salah, dosa, yang berpotensi menghalangi rezeki. Kami jalanin semua nasehat ulama.

Jadi kalo kamu bilang, “Elu sih enaak , lakik lu orang gajian ,  enaak , horang kaiyaa.. Blablabla .”

 

Aamiin aamiin aamiin Ya Rabb. Alhamdulillah. 🤲 Allohumma sholli ‘ala Muhamad. 

Bray.. … 

Semua orang di seluruh dunia ini terdampak oleh wabah ini. Ada yang kaget, kecewa, marah. Ada yang berusaha mencerna hikmahnya. Ada yang happy. Ada yang bokek, ada yang mendadak tajir.

Tapi… Hidup terasa enak / nggak enak itu hanya soal persepsi.

Kami percaya. Hidup ini segalanya tentang perubahan. Dan perubahan itu banyakan ngga enaknya. Suka ngga suka, kami jalanin dengan ridho, ikuti iramanya, atau mati kelindes perubahan.

Pandemi telah memaksa kita berubah lebih cepat. Tadinya segala kegiatan dilakukan secara online mulai tahun 2025, jadi maju tahun 2020. Sekolah online. Rapat online. Seminar online. Olahraga online. Pengajian online. Jualan online. Suka atau tidak, kalo mau survive, ya harus belajar keterampilan ini. Gaptek? Ya belajar.

Mau hidup lebih nyaman, berkecukupan? Ya klean lebih tau lahh jawabannya musti ngapain aja.

Satu hal penting, kekayaan itu di hati, makin bersyukur, makin kaya. 😊 dan makin bahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s