Kegagalan ituu Vitamin

Kegagalan itu Vitamin.

By: ‘Afiyah

 

Bukan nggak mau berempati. Tapi realistis aja. Kalo udah terkait kebijakan, apalagi ada bau politik. Yahhh emang biasanya rakyat bisa apa? Mengubah kebijakan? Lo jadi Luhut dulu.

 

Belajar dong, ngajarin anak menerima kekecewaan. Jadi orangtua juga belajar terus dong, rela menerima perubahan. Jangan mau jadi korban keadaan. Berdamai dengan apalah namanya, nasib, takdir, qadha, whatever.

 

Gw ngomong pake pengalaman. Sejak gw mulai masuk sekolah taon 1979, tiap ganti menteri, ganti kebijakan. Kagak ada yang enak. Usia masuk SD, skill calistung. Bayar SPP. Buku paket. Iuran POMG. Ebtanas berubah jadi Ujian Nasional. Sistim rayon. Sistim zonasi. UMPTN jadi SBMPTN. Ujian berbasis komputer. Semua gaduh. Suka atau tidak, tetep harus nurut ikut peraturan.

 

Anak tu perluuu nyicipin vitamin kegagalan. Karena entar di kemudian hari, tidak semua harapannya terwujud, tidak semua kekuatirannya terjadi. Tidak semua kerja keras berujung sukses. Tapi sukses pasti adalah buah dari kerja keras dan pengorbanan. Jalannya bisa lewat mane ajee.

 

Kenalin dong, deketin ke Tuhannya. Libatkan Allah dalam setiap langkah dan pengambilan keputusan. Selipin rukun iman. Percaya semua takdir itu baik. Sering-sering ajak ngobrol tentang Kemahakuasaan Allah. Pelajaran aqidah adalah tanggungjawab orangtua. Bukan guru. Nanti di akherat, orangtua yang diminta pertanggungjawaban.

 

Ajarin juga anak-anak bermimpi besar, jauuh, nggak secetek sekedar bangga keterima di sekolah favorit. Kalo mau jadi orang sukses, jangan tanggung, mau yang kekgimana. Pelajari karakter sukses. Akhlak orang sukses. Termasuk cara mengelola konflik dan menerima kekecewaan.

 

Banyak cerita, anak pinter rajin belajar sayang ngga keterima di PTN impian. Sebaliknya, anak santuy malah lolos. Pas berkarir, dia yang rajin datang lebih pagi, mengerjakan project dengan sempurna, tapi yang dapet promosi temannya yang modal carmuk. Pas bisnis, dia yang riset, dia yang prospek, dia keluar duit entertainment, ehh competitornya yang closing. Jodoh juga, udah lamaran, udah sewa gedung, nyebar undangan, ehh ditikung, nikahnya ama orang lain. Jangan nuduh, ini bukan pengalaman gue! 😊

 

Ya, intinya, ajarin anak-anak belajar berdamai dengan takdir. Sukses itu bisa lewat sekolah mana aja. Tergantung anaknya, tergantung bimbingan orangtua dan lingkungannya. Saat ini Lo boleh kecewa, Lo boleh marah, Lo boleh maki-maki Anies, tapi jangan lama-lama. Karena anak Lo tetep harus sekolah, kan? Mereka masih punya cita-cita, kan?

 

Masa depan mereka lebih membutuhkan kekuatan mental spiritual dan akhlak, dari pada ijasah sekolah impian. Bacalah bareng-bareng, biografi orang-orang sukses. Diskusi, bagaimana perjuangan mereka bangkit dari kekecewaan. Bagaimana sikap mental mereka. Nggak ada orang sukses yang “jadi” dari keadaan yang serba nyaman, serba terpenuhi keinginannya. Semua orang yang super sukses itu 100% melalui jalan berliku. Nah, anak kita mau kita arahkan jadi orang biasa-biasa aja kayak orangtuanya, atau jadi orang yang kemudian mampu mengubah dunia semakin baik?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s