Berdamai Dengan Si Caca

Berdamai Dengan Si Caca.

By: ‘Afiyah Salma Lathifa

Maret 2018 terditeksi invasive carcinoma of No Special Type pada mamae dextra dengan ukuran diameter tumor 2,5 cm. Dokter Alfiah Amiruddin melakukan operasi BCS, breast conserving surgery. Buang tumornya saja dan copot 8 nodes dekat ketiak sebelah kanan.

April 2018 saya terima IHK, immunohistokimia, HER2+++ itu karakter kankernya Grade III (pembelahannya sangat cepat, gesit banget, lincah, petakilan). Status ER/PR positif, artinya hormon estrogen dan progesteron saya berperan juga mencetus kanker.

Kabar baiknya, dari 8 nodes (kelenjar getah bening) yang dicopot, diteliti, tidak ditemukan si caca. Alhamdulillah.

Mei 2018 mulai kemoterapi besar, mengalami efek samping yang beragam, kadang lemes, kadang mual, kadang nyeri di bagian tertentu, tapi tidak selalu. Botak? Benar. Sampai ke alis, mata, tangan, kaki, gak perlu diWax, udah mulus bagaikan kulit bayi. Tapi tenang, tetap pede ketemu orang, berkat pensil alis sejuta umat, Viva. 😊

Kemoterapi besar hanya dapat 5x karena keburu berangkat haji. Pulang haji saya jalani radiasi 30x dan terapi target Herceptin untuk menekan HER2+++ saya lanjutkan per 3 pekan sampai 18x, selesai Mei 2019.

Banyak yang komentar, kok kuat sih. Ma Syaa Allah tabarakallah.

Hasbunallah wani’mal wakil. La haula wa la quwata illa biLLaah. 🤲

Sejujurnya, waktu ngejalanin pengobatan itu saya pasrah, kalo umur masih panjang saya minta sehat, kalo Allah hendak memanggil saya pulang saya mohon ampunan dulu. Pasrah. Berserah dan bersangka baik, apapun ketetapan-Nya pasti terbaik.

Kenapa terkesan pesimis? Saya menyaksikan pasien-pasien yang ngotot banget kepingin sembuh, justru satu per satu berpulang ke Rahmatullah. Maka dari itu saya merasa harus mempersiapkan segala kemungkinan.

Tapi ikhtiar saya fokus untuk sehat dong. Mengurangi potensi stress. Nggak lagi memendam rasa ngga enak ama orang. Kalo saya gak nyaman, ya ngomong, saya maunya ini, begini. Saya juga belajar banyak, ilmu ridhaa, sabar, legowo, ikhlas. Tidak semudah diucapkan, Alfredo. 😊

Saya belajar memperbaiki hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena DIA yang menyelipkan si caca di tubuh ini. DIA Maha Berkehendak.

Saya juga belajar berusaha jadi orang yang nggak terlalu serius-serius amet. Rileks, brayy. Lepasin. Lemesin. Belajar jadi orang yang mudah memaafkan, dan belajar prinsip-prinsip BODO AMET. 😊

Nggak akan keteteran ketika porsi “makan” Al Quran tercukupi. Saya tandain, kalo seharian mumet, ngerungsing, waktu serba kurang, ada masalah ama manusia, itu sudah pasti akibat dari paginya kurang sarapan tilawah, atau kurang sedekah, belum dzikir pagi-petang, sholat tidak tepat waktu, atau bikin dosa apalah-apalah, makan makanan syubhat, atau, beberapa hari absen olahraga.

Mengurangi asupan bacaan dan obrolan politik. Kalo pun nggak terhindarkan, saya filtering. Konversi, ubah imajinasi di kepala dalam gambar-gambar lucu.

Pilihan kata, pilihan bacaan, pilihan audio, pilih juga teman-teman yang enak dipandang, enak diajak diskusi santuy, selera humornya sefrekuensi, dan saya juga memilah-milih-malih channel YouTube dan follow Instagram.

Terapi-terapi besar sudah selesai. Rambut udah balik cakep lagi. Sekarang fase kontrol rutin dan evaluasi per 3 bulan. Selama 5 tahun pertama. Alhamdulillah setahun terakhir 3x evaluasi… Zonk!

Semoga istiqomah. 🤲

Catatan ini saya tulis untuk mengingatkan diri sendiri. Tetaplah belajar menjadi pribadi yang lebih woles, baek, dan mendingan. 😊

‘Afiyah Salma Lathifa adalah nama pemberian ibu saya, dan ustadz saya. Artinya: sehat sejahtera, selamat, dan kelembutan. Ma Syaa Allah tabarakallah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s