PetCT scan

11 Mei 2019. Alhamdulillah herceptin ke-18 selesai dengan lancar. Dokter Findy merujuk saya untuk melakukan evaluasi hasil treatment setahun terakhir ini dengan teknologi pemindaian yang dinamakan, PetCT scan.

Pengalaman Pertama PetCT.

Apakah PetCT scan itu? Teknologi pemindaian, untuk mengevaluasi treatment selama setahun terakhir, untuk mengetahui apakah masih ada sisa atau sudah bersih.

Kapan?

Setelah selesai semua rangkaian kemoterapi dan radiasi.

Dimana?

Setahu saya di Jakarta ini ada di RS Dharmais, RS MMCCC Siloam Semanggi, dan RS Gading Pluit Jakarta Utara.

Karena tidak dikaver BPJS maka saya memilih PetCT di Gading Pluit, dengan alasan: paling dekat dengan rumah, sudah kenal baik nyaman dengan dokter-dokternya, dan antriannya juga lebih sedikit, lebih cepat dapat jadwal tindakan, dan boleh pilih dokter yang kita merasa lebih nyaman (ini penting buat saya). Harga paket PetCT di RS Gading Pluit ini Rp 13,5juta. Ya, mahal banget. Teknologinya yang paling baru. Pasien dari Bandung, Palembang, Medan, Aceh dirujuk ke RS ini karena di Penang belum ada PetCT.

Hari Rabu dapat jadwal wawancara dengan spesialis kedokteran nuklir, dr. Aulia Huda Sp KN, dan beliau lah yang saya pilih untuk membaca hasil-hasil PetCT.

Jumat subuh saya mulai puasa. Tindakan pertama jam 10, saya masuk kamar khusus, pakai baju khusus, pasang jarum infus, ada 3 gelas air @240ml (yang sudah dicampur obat) saya diinstruksikan minum segelas tiap 10 menit. Disuntikkan obat lagi lewat infusan 15 menit sebelum masuk “kapsul” PetCT.

Selama di dalam kapsul TIDAK boleh bergerak, napas harus rileks selama 45 menit, dan 3 menit sebelum selesai kembali disuntik cairan kontras yang rasanya panas di sekujur badan.
Keluar ruang PetCT, saya dikasih makan siang segabruk. Cabut infus. Selesai.

Belum boleh berdekatan dengan bayi, balita, dan ibu hamil, karena tubuh saya menyebarkan radiasi nuklir, yang luruh dalam 24 jam. Suami inisiatif sewa kamar di sebuah hotel di Cikini, khawatir pulang ke rumah banyak ponakan / anak-anak tetangga. Jadi, satu malam, diisolasi dulu saiyah. Perlu banyak-banyak minum air putih untuk mempercepat peluruhan obatnya.

Rasanya? Campur aduk, tapi selama total 2,5 jam tindakan, modal saya dzikrullah, dzikron katsiron. Ala bidzikrillah tatmainnul qulub.

Rabu, 26 Juni 2019 dengan pedenya nyetir sendirian ke RS Gading Pluit, ambil “rapor” PetCT. Saya ini kan orangnya kepo banget yaa. Nekad saya buka dooung. Saya baca-baca. Hah?!? Metastasis kelenjar getah bening kiri dan dua paru-paru?!? Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Badan langsung gemeteran, nangis hampir sejam di parkiran. Ya Allah limpahi hamba kekuatan, ketenangan hati, keselamatan sampai di rumah.

Istighfar terus sepanjang sisa hari. Shalat taubat. Ngadu: aku ‘dah nurut saran dokter, nurut suami, nurut emak, jaga makan, olahraga, udah berdoa tiap hari. Yakin Allah telah beri kesembuhan, bersih dari kanker. Tapi…

Tapi kalau ternyata Allah berkehendak lain, yang aku minta kemudian adalah, dilimpahi kekuatan, kesabaran, rasa Ridha, menerima dengan Syukur yang hebat.

Keesokan harinya, sudah lebih tenang. Berusaha bersangka baik kepada Allah, misi saya belum selesai. Malamnya diskusi sama Dr Findy. Beliau baca teliti buku rapor PetCT scan aku. Beliau belum berani sepakat dengan analisa Dr nuklir bahwa ini metastasis. Karena….

Karena, di payudara kanan dan kiri, bersih, tidak ada benjolan. Jadi alarm nyala di kelenjar getah bening kiri, belum bisa dipastikan metastasis. Ada kemungkinan infeksi bakteri atau virus.

Kalau pun banyak terjadi kasus metastasis paru, itu kejadiannya di bagian yang sama. Kalo kankernya di kanan, biasanya paru kanan dulu yg kena, di petCT terlihat lebih luas nyala-nya, dibanding kiri.

Sedangkan di rapor aku, kanan kiri rata seimbang, berupa titik-titik. Ukurannya kecil banget. Maka…

Maka….
Buku rapor aku dibawa dulu, untuk dipakai diskusi dengan dokter lain sebagai Second Opinion.

Ya. Harus. Second opinion.

Saya disuruh makan makanan bergizi tinggi: putih telur, buah, sayur, ikan. Tidak boleh makan daging merah sama sekali. Tidak boleh gorengan sama sekali. Olahraga yang disarankan adalah, isometric, yoga, pilates, atau berenang. Wajib tiap hari 30 menit.

Bulan September in syaa Allah CT scan ulang di RS Mitra, saja. Semoga hasilnya bersih, aamiin Ya Mujib, Ya Syafi.

Kenapa saya keluar dari beberapa wa group?

Karena saya butuh waktu menenangkan diri dulu. Butuh space buat kontemplasi. What next.

Mohon maaf belum menjawab komentar, pertanyaan, saran, rekomendasi, DM, japrian, waprian.

Saat ini saya sedang mengutamakan rasa nyaman, rileks dulu, untuk bisa melihat peluang-peluang, pilihan-pilihan ikhtiar yang semoga diridhoi Allah.

Jangan kuatir.

Saya masih tetap semangat menempuh ikhtiar terbaik dengan yakin, percaya, dan tawakkal.

Terimakasih atas perhatiannya, doa dan support hebat tiada batasnya. Saya tidak ingin mengecewakan kalian, kesayangan-kesayanganku. Senyom dolo, dooung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s