Bagaimana Cara Memperlakukan Hamba-Hamba Pilihan, di masa 3-6 bulan pertama sejak vonis dokter.

Beberapa survivors kanker yang saya kenal sangat baik, lebih suka menutup diri, menyimpan sendiri, karena alasan, mereka merasa tidak nyaman dengan nasehat-nasehat klise yang terasa kurang empati, kurang memahami sikon, atau nasehat pengobatan yang keberhasilannya dari katanya-katanya, atau menghadapi penilaian orang seperti, “kamu sedang sekarat, bentar lagi mati.” Atau bahkan hujatan, “Penyakit kutukan karena dosa masa lalu, orangtuanya begini begitu sih, suaminya begini begitu sih, kurang sedekah sih, kurang amal sih, dsb.” Bahkan ada lohh, pasien yang sensitif dengan pandangan mata. Rasanya seperti sedang diadili. Hakimnya siapa?

Saya juga hingga detik ini, masih menerima komentar negatif. Cuma sekarang karena sudah keseringan, jadi bisa lebih santai menyikapinya. Saya lebih fokus sama orang-orang yang menyenangkan, yang lucu, yang wawasannya luas, menilai dari sisi positif, yang menghibur.

Walaupun kadang ada saatnya merasa, nggak nyaman, dinasehati hanya melulu di satu kalimat, “penyakit menggugurkan dosa-dosamu.” Rasanya sama, seperti sedang diadili. Hakimnya siapa?

Lahh terus, maunya gimana?

Pertanyaan ini yang sering diabaikan oleh keluarga, teman-teman, lingkungan pasien kanker.

Kami berharap satu saja. Dipahami.

Tanyakan mulai Hal sepele:
1. Mau dibawain apa?
2. Apa yang dirasa sekarang?
3. Rencananya selanjutnya mau bagaimana?

Daripada menasehati dengan kata-kata yang klise, seperti Sabar ya, ikhlas ya… Lebih baik katakan, “Semoga Allah melimpahimu berjuta kebaikan dari langit dan bumi, kekuatan, kesabaran, kemudahan segala urusan, dan semoga Allah meninggikan derajatmu.. ”

Jika ia hobi membaca, kirimi buku-buku yang ia suka, yang menginspirasi, novel pembangun jiwa, komik lucu. Bacaan ringan. Sehari selesai.

Jika ia doyan ngemil, bawakan makanan kesukaannya. Jika ia tipe melankolis, siapkan cadangan kesabaran kita untuk menampung keluh kesah tangisannya. Jika ia tipe sanguinis, siapkan kesabaran kita merespon celotehannya, bete bersama, tertawa bersama, sesekali memuji keputusannya.

Buatlah, pasien, merasa bahwa ia tidak sendirian. Datangi, dengarkan saja, setuju saja, jangan beri nasehat kecuali diminta. Karena saat itu ia sedang melepaskan rasa, beban batin, yang akan membantu menguatkannya, untuk bangkit.

Jangan interupsi. Jangan menilai. Cukup dengarkan, fokus, pahami. Bertanyalah tentang harapan-harapannya. Berikan pelukan. Usapan. Pijatan lembut. Atau berkelakarlah. Buatlah pasien tersenyum, tertawa.

Ketika pasien sudah mulai mau membuka diri, berusahalah jeli melihat gelagat atau kode, kebutuhannya, misalnya, kita boleh bertanya, “Kamu sudah gabung group khusus Ca mamae? Enaknya, bisa berbagi rasa sama yang senasib, ngobrol nyambung, nggak merasa sendirian, kamu juga bisa gali informasi lebih banyak pengalaman orglain dengan ikhtiar pengobatannya.”

Hal-hal tersebut sangat membantu, pasien merasa disayangi, diinginkan, dibutuhkan, sehingga bisa muncul semangatnya untuk tetap hidup lebih sehat panjang umur kaya manfaat.

Semoga sharing ini bermanfaat.

#SecondLife #Love #Life #Laugh #Pray #Thankful #Grateful #Peaceful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s