Memotivasi Anak Masuk Pesantren?

Banyak terima pertanyaan-pertanyaan,
1. anakmu masuk pesantren maunya sendiri atau disuruh?
2. gimana awalnya, sampek mau di pesantren?
3. gimana cara memotivasi anak mau mondok?
4. cocok nggak yaaa dengan tipe karakter anakku?

dan sebagainya, yang intinya sama.

Sharing pengalaman pribadi….

Sejak punya balita, saya sudah mulai mikir gimana caranya memperkenalkan pesantren ke anak-anak.

Cari teman-teman yang pernah mondok…. ngobrol…. galii suasana belajar di ponpes, enak ngga enaknya.

Lanjutkan membaca, klik di sini

Cari lagi, teman-teman yang anaknya bersedia mondok tanpa paksaan. Saya caritahu bagaimana cara dan gaya pendekatan sang orangtua.

Rencana saya memang, memasukkan anak-anak ke pesantren pas SMP. Tapi pengenalan gambaran tentang ponpes saya lakukan sejak mereka kelas 3 SD.

Saya sengaja menghindari menyebut kata “pesantren” karena 12 tahun lalu konotasinya masih agak negatif: tempatnya anak-anak yang nakal, yang orangtuanya sudah kewalahan mendidiknya.

Saya lebih suka menyebut Boarding School atau Sekolah Asrama.

Anak-anak saya suka membaca, maka saya berburu serial Mallory Towers, karangan Enyd Blyton, kalo nggak salah 12 jilid. Saya beli 6 jilid. Hari libur, kami kruntelan di kamar, saya buka bungkusnya, saya baca sembarang jilid, lainnya saya geletakin dalam jangkauan penglihatan mereka.

“ibu-ibu… ini novel baru ya, tentang apa bu?” tanya mereka.

Sekolah Asrama Putri. Satuuu sekolahan ituu perempuaaann semua. Sekolahnya buessaaaarr. Ruangannya banyak. Murid-muridnya belajar di sana, nginep bobo di sana, sarapan maksi di sana. Pokok dari melek pagi hingga merem lagi, sama-sama teman-teman terus. Seruuu…

Saya tidak melanjutkannya karena saya lihat mereka sudah asyik dengan MT di tangan masing-masing.

 photo IMG-20180708-WA0000_zpstniddccs.jpg

Ceritanya tentang keseruan remaja putri di sekolah asrama. Ngejailin guru2nya, suster2nya. Melanggar peraturan. Bersaing dalam prestasi. Kemandirian. Menyelesaikan permasalahan. Kesetiakawanan. Perubahan. Kedewasaan berpikir. Semua dikemas dalam cuplikan yg seru.

Ceritanya sama.
Pendekatan sama.
Hasilnya beda.
Kakak konsisten di sekolah negeri
Syarat ketentuan berlaku. 😁

Adek bersedia BS
Tapi awalnya keukeuh dia yg pilih sekolahnya.
Husnul Khotimah – Kuningan….
Jauuuh 😩

Negosiasi alot😁

Qadarullah, si adek sakit bbrp hari…. Setelah sembuh, dia berubah pikiran, akhirnya bersedia di DQM , fokus tahfidz dan jarak tempuh dari rumah cuma 90 menitan.

https://www.facebook.com/DarulQuranMulia/

Target utama kami bukan prestasi sekolah atau percapaian hafalan. Asal dia betaaaahhh ajaa. Cukup.

Prinsip kami….
Proses belajar ituu
Harus menyenangkan….
Prestasi itu Bonus….

Kami “tahu diri”
Anak kami cuma lulusan SD Negeri.
Boro-borooo hafal juz amma….
Kemampuan baca Qurannya, marginal….

Ya, semuanya kami serahkan kpd Allah….. Harapan, kecemasan, kekhawatiran, impian…. Kami berusaha sungguh-sungguh membuatnya nyaman, dan kami berserah diri.

Tantangan semester pertama, penyesuaian. Tiap harinya penjengukan/kepulangan/balik asrama, kadang pake…. drama. Pelukannya lamaaaaaaa… hehehe

Kadang anaknya keliatan males-malesan balik asrama. Saya tanya, “Mau ibu mintain ijin cuti berapa hari, nih?” Dia malah bangkit, “Ayo bu, kita ke asrama sekarang.”

Pernah ada keluhan di mapel Bahasa Arab. Teman-temannya yang dari SDIT sudah pintar-pintar bahasa arabnya.

Saya bilangin, coba dekati teman-teman yang asyik, yang bersedia sharing ilmu. Coba caritahu cara belajar teman-teman yang pintar bahasa arabnya, berapa lama dia belajar. Jika dia belajar 10 menit, kamu belajar 20 menit. Double your time, double your action. Setiap hari. Alhamdulillah dia lakukan.

Semester 7 (kelas 10) tantangannya adalah kejenuhan. Saya tawarin pindah ke sekolah negeri barengan kakaknya, nggak mau. Akhirnya saya bisikin, coba cari peluang lomba-lomba. Biar banyak kesempatan keluar asrama, jalan – jalan, suasana baru, kenal teman baru. Alhamdulillah semester 8-12 sibuk lomba ini itu anu, bikin event sekolah, belajar presentasi proposal dari perusahaan satu ke perusahaan lain, MTQ sampai ke Kepri, Lombok, STQ di Kaltara.

Keseringan ijin keluar asrama juga, jadi masalah baru. Ada teman yang protes, ada guru yang kurang berkenan. Untuk hal-hil yang di luar “kuasa kehendak” kita…. saatnya belajar bersangka baik kpd Allah.

Setiap pembagian rapor saya nggak terlalu perhatian ke nilai dan ranking…. yang saya tanyakan ke walikelas dan wali asramanya adalah, bagaimana kualitas hubungan dengan teman-temannya, dengan guru-gurunya? Kalau jawabannya positif, baru saya lega.

Bagaimana cara pendekatan bapak ibu dalam mengarahkan putra putri hingga mereka bersedia mondok? Bagaimana menyikapi tantangan selama mondok? Ada yang bersedia sharing di kolom komentar? Mari berbagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s