Belajar Menyampaikan

Saya belajar, bahwa Al Quran dan Sunnah yang shahih itu, panduan hidup muslim/muslimah. Kondisi saat ini memang belum memungkinkan saya pribadi melaksanakannya seratus persen, oleh sebab yang beragam, ada yang  darurat, ada yang karena pilihan (semoga Allah beri saya taufiq dan kekuatan menjalankannya).

Saya belajar, bahwa ada kewajiban, “Sampaikanlah walau satu ayat.”  Kewajiban menyampaikan ini bukan untuk ustadz, ustadzah, atau kyai saja. Tapi untuk semua muslim/muslimah. Untuk semua yang bersyahadat.

Cara menyampaikan, ada bermacam-macam. Bisa lewat lisan, tulisan, kemuliaan akhlak, karya, prestasi, sains, dan lain-lain.  Tidak ada cara yang paling efektif atau paling efisien karena keberhasilan dakwah merupakan hak prerogatif Allah.  Peran kita hanya: pesannya sampai kepada tujuan dakwah.  Respon mereka, apakah setuju atau tidak, tidaklah penting.

Saya belajar, menyampaikan pesan Ilahi di dunia nyata atau di medsos, yang utama sekali, perlu banget menjaga kebersihan niat. Saya tidak boleh bertujuan agar semua orang setuju dan ikut apa yang saya sampaikan.  Saya tidak boleh kecewa terhadap respon membangkang, karena manusia memang hakikatnya pembangkang, ngeyel, ngeles. 

Saya membaca sejarah para penyampai pesan, sejarah para Nabi dan Rasul.  Sudah sunnatullah, kita orang awam bilangnya sudah hukum alam, bahwa pengikut kebenaran itu lebih sedikit dari pada pengikut hawa nafsu.  Sunnatullah-nya para penyampai pesan kebenaran itu banyak “musuh”nya. Banyak yang tidak berkenan dengan apa yang disampaikannya karena bertentangan dengan kepentingan hawa nafsunya. 

Saya belajar, menyampaikan pesan itu, ada seninya, dan saya harus tetap semangat terus belajar, memperbaiki diri, akhlak, ibadah, etos kerja, dan lain-lain.. meskipun bukan jaminan keberhasilan juga ya.   Saya juga harus sudah menjalankan dulu, pesan yang akan saya sampaikan. Walk the talk.

Saya belajar, menyampaikan pesan itu harus punya modal ilmu. Jadi saya harus belajar dulu, belajar lagi, belajar terus.  Mulai belajar memperbaiki kualitas shalat fardhu, memperbaiki akhlak, belajar memperbaiki bacaan Al Quran,  belajar tafsir, hadits, bahasa Arab, dan berusaha keras memperbaiki pilihan-pilihan yang Allah ridhoi, semampu saya.

Saya belajar, kewajiban menyampaikan pesan tidak punya syarat bahwa saya harus suci dari dosa dan kesalahan. Kalau ada orang-orang yang mengungkit kesalahan, membuka aib kelemahan diri saya, maka yang utama harus saya lakukan adalah, beristighfar kepada Allah, mengakui kedzholiman kebodohan saya dan mohon kekuatan hijrah kepada keadaan yang lebih baik yang diridhoi-Nya.  …. dan tetap melanjutkan berdakwah.

Kalau ada orang-orang yang akhirnya tergerak dan berubah lebih baik, saya juga tidak boleh gede rasa, apalagi sombong, merasa hebat, merasa dakwahnya berhasil karena kemuliaan akhlak atau karena bisa memberikan banyak dalil. Na’udzubillah min dzalik.

Saya harus tahu diri, saya tidak tahu apa-apa, saya belum apa-apa, saya bodoh, saya hina, saya tak berdaya. Allah-lah yang memberikan taufiq dan hidayah kepada mereka, sehingga hati mereka lembut, terbuka dan menerima kebenaran dari Allah melalui pesan yang saya sampaikan.  Allah-lah yang Maha Kuasa membolak-balikkan hati manusia.

Saya belajar, penting banget membersihkan niat, dari awal, pertengahan, sampai akhir.  Kekuatan itu dari Allah.  Segala puji hanya milik Allah. Segala puji hanya pantas untuk Allah.  Semoga Allah memberikan istiqomah, meneguhkan syahadat kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menerima seluruh amalan kita. … aamiin.

One thought on “Belajar Menyampaikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s