Catatan Kajian Tauhid 18/08/2015

Ada seorang pelatih senior berkuda. Naik kuda jinak. Setelah selesai latihan, ketika mau turun, tiba-tiba kuda setengah loncat, maka terjatuhlah sang pelatih, tangannya patah. Biaya pengobatan satu tangan senilai harga seekor kuda. Begitulah, kalau Allah sudah berkehendak. Jika sang pelatih bersabar dan introspeksi diri, maka Allah akan memberikan kemuliaan kepadanya.

Ada empat cara untuk mendapatkan kemuliaan:

1. Mau.
Harus ada keinginan dari dalam diri sendiri untuk meraih kemuliaan di sisi Allah.

2. Tahu
Harus ada tindakan mencaritahu caranya, harus tahu ilmunya dulu. Hadiri kajian, baca Quran, hadits, duduk bersama orang shalih, simak diskusi orang yang berilmu.

3. Bisa. Mahir.
Perlu riyadhoh, latihan, pengorbanan, dan mujahadah (kesungguhan, serius).
Ilmu itu baru bermanfaat ketika diamalkan. Orang yang berharap kemuliaan dari Allah, akan bersungguh-sungguh melatih dirinya, latihan bagaimana agar lebih sabar, tidak mudah emosional terpancing celaan dan hinaan, tidak mudah sakit hati dan mendendam, tidak bersangka buruk kepada orang lain.

Kebanyakan dari kita, sekolah minimal 12 tahun, ada juga yang 16 tahun, ada juga yang 18-20 tahun. Tapi untuk hal kecil saja, seperti menahan diri dari buang sampah sembarangan, hampir semua dari kita, pernah gagal. Betul, ga? Hayo jujur.đŸ™‚

Seorang balita Jepang, diajak kunjung ke Indonesia, diajak nyebrang, nangis-nangis menolak menyeberang karena tidak ada zebracross-nya. Sedari kecil sudah dilatih terbiasa disiplin, tertib.

Maka, sangat memprihatinkan, orang-orang hanya senang untuk tahu, menuntut ilmu, dari kajian ke kajian, tapi kurang mujahadah.

Orang yang menginginkan kemuliaan dari Allah akan bersungguh-sungguh membuat progres untuk dirinya, akan ada perubahan lebih baik, cara berpikirnya, sikap mentalnya, aqidahnya, akhlaknya, ibadahnya, kebiasaannya.

4. Istiqomah.
Amal yang paling dicintai Allah, adalah yang berkualitas dan istiqomah, konsisten, terus menerus.

“Aa, saya istiqomah kok, dari SMA shadaqah sehari seribu.”

Uang jajan kamu berapa?

“Sepuluh ribu.”

Berapa persen, tuh? Sepuluh persen, ya. Uang jajan kamu waktu kuliah berapa?

“Seratus ribu.”

Gaji pertama kamu berapa sebulan?

“Sejuta, Aa.”

Itu mah bukan istiqomah, tapi turun. Istiqomah itu persentasenya sama.

Orang yang arif akan memohon kepada Allah, agar bisa istiqomah dalam beramal yang Allah sukai. Yang penting bagi mereka, ikhtiar, fokus tunaikan kewajiban, memurnikan penghambaan kepada Allah.  Mereka yakin, segala hajatnya pasti dipenuhi oleh Allah. Jangan takut tidak dipenuhi Allah. Takutlah dijor dikasih ini itu, tapi dicuekin Allah. Takutlah menjadi hamba dunia, hamba bisnis, hamba popularitas, hamba pangkat, hamba jabatan.

Jangan berharap kebahagiaan dari suami, dari anak, dari harta, dari jabatan, dari orang lain. Sakinah (kebahagiaan) itu dari Allah, curahan karunia dari Allah, kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, beramal shalih, istiqomah.

“Saya sudah berdoa, sudah berusaha berbuat baik, sudah menangis dalam tahajud, tapi kok hidup masih aja susah, Aa.”

Menangisnya itu menangisi apa?  Menangisi masalah, atau menangisi dosa-dosa kita?  Tidak ada kesulitan hidup yang Allah ijinkan terjadi, melainkan akibat dosa dan maksiat kita sendiri. Kalau mau cepat dapat solusi dan pertolongan Allah, yang utama lakukan:  taubatan nasuha. Mohon ampunan Allah dulu.

Pengharapan itu hanya pantas kepada Allah.  Harapkanlah yang terbaik menurut Allah.  Janganlah kita beribadah, untuk ngatur-ngatur Allah. “Pokoknya harus sama dia, Ya Allah.  Pokoknya harus diterima di sana, Ya Allah. Pokoknya harus jadi, Ya Allah.”

Pengharapan terbaik, adalah minta agar hati ini ridho (senang) atas semua ketetapan Allah, minta agar ni’mat membaca dan mentadaburi Al Quran, minta taufiq dan kekuatan untuk beramal yang disukai Allah.

Anak-anak yang sholih, sholihah, itu dari Allah, lewat airmata taubat orangtuanya.  Akui, sebagai orangtua, kita banyak dosa, maksiat, jahiliyah, kurang ilmu, pernah dzholim, tidak menempatkan sesuatu secara adil proporsional. Tobat.

Rahasia istiqomah yang utama, adalah Dzikrullah. Ketika kita sungguh-sungguh melatih lidah kita selalu berdzikir, melatih mata kita membaca Al Quran, memohon pertolongan kepada Allah, maka Allah akan menjaga kita.  Kata kuncinya:  sungguh-sungguh.

*Catatan Kajian Tauhid
Tafsir Al Hikam.
Jakarta, 18 Agustus 2015.
Jam 09.30-11.30
Masjid Al Latief.  Pasaraya Grande lantai lima, Blok M.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s