Kiamat Makin Dekat

Oleh:  Vienna Alifa.

Kemungkaran yang dilegalkan, kemaksiatan yang dianggap biasa, kefasikan yang menjadi-jadi, sebenarnya bukti bahwa akhir kehidupan dunia telah memasuki fasenya.

Meski periode kejahiliyahan itu berulang di tiap zaman, tapi semakin ke sini bobot dan efek kerusakannya berkali lipat parahnya.

Perilaku nista yang dilakoni kaum nabi Luth ‘alayhi salam, misalnya. Kalau dulu hanya menjangkiti satu kaum dan tak terekspos secara vulgar, kini menyebar tak terkendali. Ini karena kegiatan maksiat mereka mudah diakses lewat kemajuan teknologi. Maka tak heran jika akhirnya pendukung kebathilan semakin ramai dan begitu eksis.

Pada mereka, para pedakwah akan sulit bicara soal iman. Jangankan da’i, seorang Nabi saja berlepas tangan atas nasib mereka. Bukan karena tak peduli, melainkan segala nasihat serta arahan dibalas dengan cemohan hingga tuduhan keji akibat hawa nafsu yang dituhankan.

Berbagai dalih disertai teori ilmiah pun digelar demi “menormalkan” penyimpangan syahwat. Walau akhirnya semua berujung pada kegagalan dalam pembuktian (referensi: di kolom komen). Andai masih tersisa fitrah insani dalam diri mereka, tentu sedikit rasa malu yang bersemayam cukup jadi bukti bahwa perilaku tak wajar yang mereka sembunyikan dari pengetahuan orang lain itu layak disebut dosa.

Ya, bila masih ada yang menyimpan malu di dada, pertanda sang iman masih mungkin merekah kembali. Seperti sabda Nabi saw: “Malu adalah bagian dari keimanan.” (HR.Bukhari Muslim). Sebaliknya bagi yang terang-terangan bahkan berbangga atas kemaksiatannya, pesan Nabi saw singkat tapi ngenes, “Jika tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR Bukhari). Pernyataan seperti ini semestinya membuat kita sedih sekaligus waspada. Sebab sebuah ungkapan pembiaran biasanya menyiratkan batas akhir toleransi antara penyeru dan yang diseru diikuti pelbagai konsekuensi di ujungnya. Seperti firman Allah ta’ala :

Al-Ĥijr:3 – “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).”

Bersyukurlah bagi mereka yang masih punya rasa galau ketika berbuat keji. Artinya masih terbuka luas kesempatan untuk kembali kepada fithrah penciptaan Allah swt. Di mana hati cenderung untuk tunduk pada pencipta-Nya. Terlebih di bulan penuh maghfirah. Jangan tunda atau sia-kan lagi pertaubatan di setiap menit dari Ramadhan yang tersisa.

Kembali pada perkara akhir dunia, jangan terlampau terkejut dengan merajalelanya kemaksiatan di muka bumi. Karena semakin pendek usia alam raya, ia akan kian menggila. Hingga dalam sebuah hadits shahih yang panjang di kitab Riyadhus shalihin dikisahkan bahwa segala jenis kemaksiatan kelak menyelimuti bumi dalam level terparah dari yang pernah ada. Sementara itu orang-orang mukmin meski keimanannya hanya setipis kulit bawang dimatikan-Nya, sebagai bentuk kasih sayang Allah swt, agar mereka tidak merasakan dahsyatnya kengerian hari kiamat.

Maka sungguh di masa sekarang inilah penyeleksian dimulai. Kebathilan yang muncul dengan jumawa selalu punya pendukung yang yakin atas langkah mereka. Para penyokong Al-Haq pun senantiasa siap tampil berjuang mempersembahkan amal terbaik atas sebab keyakinannya.

Tinggal tetapkan diri kita, ingin berada di barisan mana jika ingin selamat ketika berita besar itu datang?

Sumber:
Status Facebook Vienna Alifa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s