Nasehat Dari Seorang Penghafal Quran

Ustadz Deden M. Makhyaruddin berbagi pengalaman asiknya menghafal Al Qur’an saat kajian di AQL islamic center Tebet Jakarta Selatan, Sabtu (16/5).

Berawal dari rindunya mempunyai sahabat sejati, beliau berniat untuk menghafal al Qur’an seraya berdoa “Allahummaj’alil qur’ana lana fiddun ya qoriina” (Ya Allah, jadikanlah Qur’an bagiku sahabat sejati).

Tak lama kemudian, dengan mudahnya beliau dekat dan menghafal Qur’an dalam waktu 56 hari.

Awalnya Beliau tidak berniat ikut lomba tahfidz. Tapi setelah mengetahui tidak ada orang Indonesia yang pernah juara tahfidz internasional, beliau berniat untuk maju.

Menurut Ustadz Deden sebenarnya tujuan menghafal Qur’an itu dekat dengan Allah, bukan berapa hafalannya atau berapa lama waktunya. Kalau menghafal Al Qur’an dengan didasari iman dan keyakinan yang kuat maka hasilnya JELAS.

“Menghafal Al Qur’an itu tidak mudah, tapi dimudahkan oleh Allah. Ada unsur di luar kita yang memudahkan yaitu Allah.” tuturnya.

Yang paling penting dari membaca, menghafal dan memahami Bahasa Arab adalah mencintai Al Qur’an. Sebelum menghafal Qur’an tahsinnya harus bagus dulu, hafalan akan semakin mudah jika tajwidnya benar.

Selanjutnya Ustadz Deden berbagi tips menghafal Al Qur’an . Menghafal Quran dengan mengejar target dan tanpa tajwid itu terburu-buru. Mengejar setoran itu juga teburu-terburu sehingga tidak merasakan kenyamanan dalam menghafal.

Hafal Al Qur’an adalah penutup dari rangkaian ilmu-ilmu. Penutup setelah melalui tahapan membaca, memahami dan mengamalkan.

Menghafal Al Qur’an dimulai dengan niat yang ikhlas. Menghafal dengan 1 mushaf yang sama. Menjaga pandangan dan sedikit berbicara. Sebelumnya beriman dulu baru menghafal.

Kalau dalam menghafal nggak asik (merasa bete dan futur atau tidak bersemangat) berarti belum cinta Quran.
Menghafal Qur’an tanpa terasa. Nikmati menghafal Quran bukan karena banyaknya ayat, tapi karena kualitas atau perjuangan.

Menghafal Al Quran yang nikmat adalah menghafal dengan metode argo taksi. Ketika macet (ayatnya susah dihafal) menghafalnya menghitung menit (paling sedikit 1 jam sehari untuk orang yang sibuk). Ketika lancar menghitung kilometernya (ayatnya).

Orang yang menghafal Al Quran harus berpacu pada waktu dan durasi agar bisa istiqomah. PRINSIP dalam menghafal Al Qur’an, selesaikan waktunya bukan ayatnya . Yaitu hanya 1 jam.

Orang yang menghafal Qur’an tidak dengan waktu itu berarti “Tidak Isqtiqomah!”

Dalam 24 jam harus ada waktu dengan Qur’an. Tilawah 1 jam, murojaah 1 jam dan menghafal 1 jam.
Qiyamulail adalah waktu yang tepat untuk murojaah. Tidur yang berkualitas adalah tidur yang lebih sedikit dari qiyamulailnya.

Kalau kita malas menghafal/bosan maka ketahuilah bahwa kita belum sungguh-sungguh dan belum memulai menghafal.
Jika Al Qur’an ada di dalam diri seseorang, tidak mungkin orang itu akan berbuat sesuatu yang menghinakan dirinya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s