Kematian, Pelajaran Bagi yg Hidup.

Tumben-tumbenan ibuku telefon. Biasanya komunikasi pagi-pagi lewat BBMan. “Fi, udanya Nadia meninggal.” Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Ary meninggal karena sakit TB kelenjar getah bening yang saya pernah derita 2011 lalu. Gejalanya, ada 3 benjolan sebesar telur puyuh, dua di leher kiri, satu di leher kanan saya. Demam rendah di malam hari. Kehilangan nafsu makan. Lebih sering terserang flu. Ketika benjolan makin membesar, saya mulai risau. Dokter ahli penyakit dalam, menyarankan saya ke bagian patologi RSCM untuk memastikan apakah benjolan-benjolan itu ganas atau jinak. Degh!

Sepanjang pekan observasi itu saya terus berdoa, semoga jinak, semoga yang cepat kempes. Karena selama 10 tahun terakhir saya merasa telah berusana menjaga pola makan, dalam upaya memperkecil resiko kanker.

Dokter memberikan obat oral. 3×2 tablet. Setiap hari. Tantangan berat bagi saya yang selalu menghindar obat-obatan kimia. Apalagi, efek obatnya bikin penderitanya super moody, badan terasa remegh, kelenger, mual muntah seperti ngidam payah. Saking moody-nya, saya sering merasa sudah dijemput malaikat maut. Saya “pamitan” minta maaf teruuuss pada suami, pada orangtua, pada mertua, pada teman-teman. Solat lebih ontime. Solat taubat setiap hari. Sudah tulis surat wasiat. Titip nasehat untuk anak-anak. Tapi juga tetap berharap panjang umur sehat, masih merasa belum cukup bekal.

Dan obat itu harus terus-menerus dikonsumsi selama 6-12 bulan tergantung level keaktifan bakterinya. Sekali saja lupa minum, harus mengulang dari hari pertama lagi. Saya sempat mengulang. Tapi saya mau sembuh. Saya harus sembuh. Saya masih mau mendampingi anak-anakku.

Saya kombinasi dengan pola hidup sehat. Olahraga jalan kaki, jemur punggung di matahari jam 7 pagi. Tidak makan gorengan, libur wiskul, libur makanan bermecin. Kombinasi bekam, minum madu, makan kurma kualitas tinggi, hanya ngemil buah-buahan, ikan, keju, minum susu kambing dan produk organiknya Melilea.

Alhamdulillah , bulan ke delapan, dokter nyatakan saya sehat. TB kelenjar, tidak menular. Tidak seperti TB paru yang menular. TB kelenjar harus diobati hingga tuntas. Kombinasi dengan makanan bergizi tinggi. Hati yang legowo, juga obat. Saya belajar untuk tidak menuntut kebahagiaan dari orang lain. Kebahagiaan itu saya sendiri yang ciptakan, melalui rasa syukur dan berbagi (sedekah) harta dan ilmu.

Umur, adalah hak prerogatif Allah. Setiap yang bernyawa, pasti akan mati. Saatnya berbeda-beda. Jalannya berbeda-beda. Kematian, adalah pelajaran bagi yang hidup. Sudah cukupkah, bekal kita, menyambut fase kehidupan setelah berpulang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s