Adab Tidak Tertulis Saat Kondangan

Siang ini kondangan keluarga sepupu suami. Nyaman juga, tamunya nggak terlalu ramai. Acaranya ontime. Namun tetap ada yang mengganjal hati. Adab beberapa tamu. Bukan hanya pada kondangan kali ini saja. Tapi ratusan kondangan yang telah saya hadiri sebelumnya.

Tertib dalam antrian.
Jangan mentang-mentang kita merasa lebih tua, lebih senior, lalu kita enggan mengantri. Justruuu yang senior itu bisa jadi teladan yang baik atau contoh yang buruk bagi generasi muda. Sekolah tinggi. Penampilan keren abis, eh menyela antrian. Gag maluuu?šŸ™‚

Ambillah porsi makan secukupnya. Jangan seperti orang yang “kalap” atau serakah. Kesannya, takut banget kehabisan. Ambillah secukupnya. Yang ini sedikit. Yang itu sedikit atau kurang lagi. Bertanggungjawablah dengan porsi yang kita ambil. Makan, habiskan. Jangan sampai ada makanan yang tersisa. Mubazir itu kawan karibnya syaithan, kata Allah dalam Al Qur’an.

Bila saya ingin sebuah menu gubug tapi belum yakin habis seporsi, biasanya saya tanya dulu partner, “Aku mau ambil siomay, satu porsi berdua yuk?” Kalau dia keberatan karena sudah kenyang atau tidak doyan, saya batal makan siomay. No problem.šŸ™‚

Makan dan minum sambil duduk tenang.
Kebiasaan makan dan minum sambil duduk ini, selain enak dilihat, terkesan lebih santun, berpahala (sunnah Nabi Saw), juga lebih baik bagi kesehatan sistim pencernaan kita.

Busana yang santun.
Saya sedih lihat ibu-ibu muslimah (saya kenal, saya tahu mereka islam) sudah berumur senior tapi masih senang pamer perhiasan (baca: aurat)nya, baju berleher sangat rendah, hingga belahan gunungnya terlihat. Saya juga prihatin terhadap ibu-ibu berhijab, yang membiarkan anak-anak gadisnya dandan berlebihan berbusana ketat, transparan, mengumbar “perhiasan”nya. Sepantasnya, seorang ibu mengingatkan anak gadisnya yang meskipun belum berhijab untuk tetap berpakaian santun, hingga tidak terkesan (maaf) murahan. Astaghfirullah..

Bagi yang berhijab, janganlah kita berbusana jilboobs. Tertutup, ketat, hingga terlihat menonjol di sana-sini.šŸ˜¦ Wahai saudariku.. Hijab, bukanlah pakaian tren, bukan pula sekedar kain penutup rambut dan leher. Melainkan salah satu bukti ketaatan muslimah pada Rabb-nya..

Yuk sama-sama belajar sempurnakan hijab kita, menutup seluruh “perhiasan” kita. Maksudnya perhiasan? Dua gunung di dada, perhiasan muslimah. Dua gunung di belakang bagian bawah, juga perhiasan. Kulit seluruh tubuh, kecuali wajah dan tapak tangan, adalah perhiasan. Seorang juri di sebuah acara idol, Ivan Gunawan, disainer terkenal itu, pernah berkomentar, “Kalau sudah memutuskan berbusana muslimah, jangan tanggung-tanggung. Jangan setengah-setengah. Pakai baju kurung atau gamis sekalian.”

Saya juga masih belajar, menyempurnakan hijab, menyelaraskannya dengan menyempurnakan tauhid dan akhlak. Semoga Allah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s