Another Part of One Day One Juz

Saya gabung kegiatan ini mulai November 2013, pas nungguin bapak yang sedang opnam di RS. Muthi, seorang contact di BBku bertanya, “Mbak Aeres sudah ikutan ODOJ belum?” Saya malah baru dengar istilah itu dari Muthi. Bla bla bla. Saya tertarik gabung karena:
1. saya jarang baca Quran, lebih sering baca novel 1000 halaman khatam dalam satu malam. Jadi, pingin juga, bisa kayak orang-orang itu, minimal baca 1 juz setiap hari.

2. saya ingat anak, yang sedang belajar di Darul Quran Mulia, saya merasa harus memantaskan diri sebagai ibu dari penghafal Quran.

Seiring berjalannya waktu, saya terus berusaha memperbaiki niat. Memang, niatnya sering belok, sekedar laporan kholas. Tapi menurut saya ini manusiawi. Butuh proses dan perjalanan panjang untuk sampai pada tujuan utama: ikhlas.

Manfaat yang saya rasakan, jelas, banyak bameet. Alhamdulillah.

1. Dulu lidah kaku, sekarang baca Quran lebih lancar, lidah lebih lentur,

2. Waktu awal-awal maksain diri selesaikan 1 juz, matanya baca yang mana, pikiran nyuruh ucap apa, lisannya yang keluar bunyinya kok beda. Sekarang koordinasi antara mata-pikiran-lisan lumayan lebih konek.

3. Dulu gampang naik darah, mudah marah, emosi labil, impulsif. Sekarang mendingan. Hati lebih tentram, perasaan lebih rileks, lebih bisa menerima keadaan. Masih kadang terpancing emosi, tapi bisa lebih cepat menguasai dan ubah fokus yang baik-baik.

Cara saya menyelesaikan satu juz satu hari, awalnya nyicil-nyicil, habis solat magrib 2 lembar, habis solat isya 4 lembar, habis solat subuh 2 lembar, habis solat dhuha 2 lembar. Tapi lama-lama berubah, habis isya 5 lembar, dhuha 5 lembar. Sekarang pakai jurus makan kacang kulit rebus, baru berhenti setelah kacangnya habis. Tilawah sikat satu juz sekaligus bada isya atau pas dhuha.

Saya juga “menantang diri” untuk mengelola grup ODOJ. Dalam benak saya ada gambaran grup ODOJ seperti apa yang saya harapkan. Saya prihatin, ternyata banyak member ODOJ yang gabung ODOJ cuma latah, heboh semangat di awal-awal gabung, tapi komitmennya, lebih banyak alasan sibuk ini itu, dan ketika waktunya laporan, berubah bisu. Semfet kesal juga sih, sudah saya japri motivasi Keutamaan Membaca Al Quran. Sudah diskusi dan saya kasih solusi menyediakan waktu menyelesaikan 1 juz sehari. Tidak ada perubahan lebih baik. Tapi saya perhatikan, mereka apdeit status sempat, aplot foto selfie/narsis sempat, ngobrol berjam-jam di grup sempat. Giliran diminta laporannya, nggak jawab-jawab, ngilang. Atau jawabannya bertele-tele, intinya: sibuk mbak, gak dapat waktu tilawah.

Saya pikir saya harus tegas pada orang-orang ini. Saya harus menjaga semangat orang-orang yang komitmen ODOJ. Mereka yang laporan kholas (selesai) lebih awal, bukan pengangguran, mereka juga punya kesibukan yang luar biasa, tapiiii Mau Menyediakan Waktu. Sedangkan golongan yang gak mau serius, harus saya bikin mau serius, atau keluar grup.

Bismillah.

Saya punya Ruang Daftar Komitmen (RDK). Members yang laporan kholasnya terlambat masuk dari waktu kesepakatan (closing) maka nama yang bersangkutan masuk RDK. Mereka yang namanya masuk RDK harus memberikan klarifikasi, alasan, ada apa. Saya akan menilai apakah alasan itu syar’ie (bisa diterima, karena darurat) atau standar sibuk rutinitas. Kesempatan masuk RDK hanya 2x. Lebih dari 2x, dan tanpa alasan yang syar’ie, apalagi tidak ada kabar sama sekali, yang bersangkutan harus berbesar hati meninggalkan grup. Di awal-awal ini diberlakukan, banyak yang tersingkir. Nggak masalah, karena saya punya Bank Data ODOJ waiting list, sebagian sudah saya interview secara serius motivasi dan harapannya jika bergabung ODOJ. Terdengar ekstrim memang. Apa boleh buat.

Ibarat ada sekeranjang apel. Jika di tengah-tengah ada apel yang masih baik, kulitnya kotor, masih bisa dibersihkan, masih enak dimakan. Tapi jika di tengah-tengah ada apel busuk, harus segera dipisahkan, untuk mencegah percepatan pembusukan apel-apel lain yang masih bagus. Saya sebagai Admin ODOJ, memang seharusnya bisa lebih sabar dan bijaksana, dalam membimbing odojers. Betul. Tapi odojers yang bagaimana dulu.🙂

Tidak ada paksaan masuk ODOJ. Semua gabung secara sukarela. Saya berharap ada kesadaran tanggungjawab menyelaraskan niat, semangat, dan tindakan. Saya lebih sayang pada orang-orang yang komitmen, dari pada mempertahankan orang-orang yang cuma status ODOJ tapi nggak serius. Saya percaya, di luar sana, masih banyak waiting list yang siap gabung ODOJ dan serius mau belajar mencintai Al Quran dan mereka inilah yang lebih memungkinkan saya support.

Saya juga mengadakan quiz yang hanya boleh diikuti oleh members yang laporan kholasnya masuk sebelum dzuhur. Harapannya sih untuk memotivasi semua agar berusaha menyelesaikan tilawahnya lebih awal. Membangun kebiasaan dengan Rewards and Punishment. Hadiahnya: buku-buku koleksi bacaan saya sehari-hari, yang ringan, yang tipis, yang simpel, buku-buku pengembangan diri. Kadang saya nekad ngasi hadiah jilbab dagangan. Nggak sering sih ngasih quiz paling sebulan 2-3 kali. Lebih sering saya diskusi dan sharing info, inspirasi islami, kilasan tafsir ayat, dan copas testimoni odojers dari grup lain. Setelah sistim ini berjalan 6 bulan, melalui proses bongkar pasang personil dengan berbagai alasan, Alhamdulillah dari 3 grup yang saya kelola sekarang, lebih sering khatam, orang-orangnya juga lebih solid. Kalau ada lelangan, langsung berebutan.

Pernah ada odojer yang kambuh asthma, kebetulan sahabat lain yang tinggal sama-sama di Bekasi ada waktu mampir berkunjung. Ini cerita beliau: napasnya “senin-kamis” badannya demam dan saya bersedia mengambil juz nya, beliau tetap tidak mau lelang, beliau tetap memaksa diri menyelesaikan lembar demi lembar. Kalau terasa pusing, minum, rebahan, merem. Sebentar. Duduk lagi, baca lagi. Akhirnya jam empat kurang lima menit, satu jam sebelum closing, laporan kholasnya masuk. Alhamdulillah, grup khatam.

Pernah juga, ada yang umroh, tetap komitmen. Ada yang single parent, wanita karir, sibuk urus anak, rumah tangga, dan pencari nafkah utama. Alhamdulillah tetap komitmen setiap hari dan rajin bungkus juz lelangan. Allohu Akbar. Tidak ada kata tidak bisa, jika kemauan itu terasa begitu kuat. Jika kita mau belajar mencintai Al Quran maka Allah-lah yang mendekatkannya, hingga akan selalu ada waktu, selalu ingin tilawah. Subhanallah. Semoga Allah eratkan ikatan cinta kita yaa keluarga odojers. Aamiiin. …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s