Tambah Lagi, Tiga Yatim.

Jam 7.49 masuk pesan, “Mba bantu do’a yaa mas eri kritis nii lg nyari icu di cippto penuh. ”

Kujawab, “Aku kesana sekarang. … Talqin di telinganya, ya Ndi. Talqin terus. …”

Langsung kusambar kunci mobil. Subhanallah jalanan di Jakarta memang gak bisa ditebak ya. Macet, dan susah aja dapat parkir di RSCM. Akhirnya saya parkir di Seven Eleven seberang FKUI. Jalan kaki setengah berlari menuju Gedung A. Gedung khusus bagi penderita Leukimia.

Sampai kamar 814 saya lihat Diah tersedu-sedu di sisi sang suami yang sakaratul maut. Saya bisiki, “Talqin terus, sayaang. Talqin terus. Allah. Allah. Allah. …”Alat digital pemantau denyut nadi, angkanya terus berkurang.

Jam 10.10 wib. Dokter menyatakan, “Pak Eri sudah pergi meninggalkan kita. Maaf kami sudah berusaha.” Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sesungguhnya segala sesuatu dalam hidup ini adalah milik Allah, dan pasti akan kembali kepada Allah.

Wajar bila seorang istri merasa sedih yang amat sangat mendalam, ketika suaminya berpulang. Perasaan belum puas merawat suami, bayangan flashback semua kebaikan suami, dan kekhawatiran tentang masa depan anak-anak yang masih kecil, pasti bercampur aduk.

Saya teringat sabda Nabi Saw, orang yang meninggal akan tersiksa jika diratapi. Saya peluk Diah, berulang kali membisikkan kata-kata yang saya berharap bisa membuatnya lebih tenang.

“Diah istighfar sayaang, jangan meratap, kasihan Eri. … Laki-laki sholeh, perginya bagus, sempat solat dhuha, sempat tasmi’ Qur’an dan ini hari Jumat, insyaa Allah khusnul khotimah. Jangan kuatirkan anak-anak. Allah Maha Kaya. Semua sudah Allah siapkan. Istighfar sayaang. Diah istri yang hebat, sholeha, ayoo kita mudahkan perjalanan Eri, jangan meratap, istighfar sayaang. Istighfar lagi. ”

Saya coba alihkan fokus pikirannya untuk memberi kabar orangtua, tetangga, saudara, broadcast pesan melalui henfon. Saya diskusikan rencana pemakaman. Jam 11.30 jenasah dibawa ke rumah mereka di Depok.

Saya pulang ke Rawamangun , jemput anakku pulang sekolah, sekalian makan, mandi dan solat. Langsung menyusul ke Depok. Kembali saya terjebak macet dan hujan deras. Sampai Depok jam 4. Alhamdulillah Eri sudah dimakamkan. Cepat sekali. Segalanya terasa mudah dan lancar perjalananmu, Bro. Masyaa-Allah. Allohummaghfirlahu war ham hu wa afihi wa fu an hu. Ya Allah ampuni beliau, sayangi beliau, dan sejahterakan beliau.

Sementara Diah sibuk melayani tamu yang terus berdatangan. Saya dekati anak sulung almarhum. Saya ajak ngobrol. Baru kelas enam SD. Adiknya dua orang. “Aku sedih tante, aku nggak punya papa lagi.” Duh, denger kata-kata ini, jantung rasanya kayak bisul dipencet, ngilu. Peluuk aja ah. Bisikin, “Doakan papa ya Nak, doakan papa tiap habis solat, supaya papa senaang, doa anak yang soleh akan membuat kubur papa luas, teraang, legaa, papa akan ditemani orang-orang yang baik. Doakan papa terus ya, sayaang.”

Jam 17.15 saya pamitan. Ijin suamiku keluar rumah cuma sampai Maghrib. Sedih karena baru bisa bantu doa untuk ketabahan keluarga yang ditinggalkan. Semoga ke depannya Allah ijinkan saya bisa bantu lebih banyak lagi. Semoga Allah kirim orang-orang sholeh/hah membantu kelanjutan pendidikan anak-anaknya. Aaamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s