Anak Perempuan, Sebuah Visi

Akhir Februari saya menghadiri acara pembukaan Islamic Book Fair di Istora Senayan Jakarta. Ini adalah kali pertama saya datang di hari pertama. Biasanya saya lebih suka kunjung pada 2-3 hari terakhir karena diskonnnya lebih mantap. Hehe. … Kenapa saya mau hadir pada hari pertama? Karena sekolah anakku Darul Qur’an Mulia diundang sebagai tamu. Ini kesempatan kami, ibu dan anak, melepas rindu.

Tema IBF tahun ini Saatnya Umat Berkarakter Qur’ani. Saya duduk di dalam tribun, satu blok yang sama dengan anakku. Sambil menyimak puisi-puisi Peggy Melati Sukma, sebetulnya ngga fokus juga sih, saya kenalan dan ngobrol dengan ibu-ibu yang duduk di sebelah kanan kiri saya. Standar aja sih yang diobrolin, anak-anak juga. Akhirnya saya malah fokus nyimak sharing bu Isnaini, pribadi yang menarik, kesan pertama saya, beliau adalah sosok ibu rumahtangga yang cerdas dan visioner. Penampilannya pun rapi bersih, wangi dalam jarak sangat dekat, berhijab lebar panjang, dengan mekap tipis.

Saya setuju dengan pemikiran beliau. Anak perempuan itu harus berpendidikan tinggi. Sekolah setinggi-tingginya. Berkawan sebanyak-banyaknya. Bukan untuk berkarir di luar rumah. Tapi bekal ilmunya itu untuk mencetak generasi berkualitas terbaik, akidahnya dan akhlaknya.
Bu Isnaini lebih suka bila anak-anak perempuannya, memilih profesi: mengajar. Mungkin sebagai guru atau dosen. Mengajar bisa dimana saja. Tidak terikat tempat dan usia. Malah lebih spesifik lagi, Bu Is berharap anak-anak perempuannya dapat mengabdi di pesantren Al Qur’an, agar hidup mereka lebih berkah. Masyaa Allah, alhamdulillah terima kasih Ya Allah telah Kau pertemukan saya dengan bu Isnaini.

Dalam perjalanan pulang dari IBF menuju Rawamangun yang lumayan macet. Pikiran saya berusaha mengolah obrolan dengan bu Isnaini. Ya, untuk menghasilkan uang tidak perlu ngantor, karena faktanya sekarang banyak anak SMA bisa menghasilkan uang hanya bermodalkan Gadget. Dagang online. Ada yang jual produk fesyen, kosmetik, buku bekas (konon yang ini juga untungnya makjleb). Ada juga yang mendapat untung besar dengan: jualan otomotif. Anak SMA loh. Masyaa Allah.

Jika sejak kecil tertanam budaya membaca dalam keluarga, anak bisa mulai melatih kemampuan menulis. Anak kawan saya, mbak Shinta, sejak SD sudah menulis-menulis-menulis serius. Sekarang baru kelas dua SMP sudah meluncurkan belasan buku. Masyaa Allah.

Tapi anakku yang pertama sudah SMA, dan pola pikir lingkungannya masih klasik: sekolah-ngantor. Maka tantangan saya adalah, mengarahkan kedua anak saya untuk menempuh jalur karir yang kreatif, yang fleksibel, yang bisa ia kembangkan dimana pun ia berada. Sehingga ketika kelak berkeluarga, punya anak, mereka dapat fokus mencetak generasi yang madani. Aaamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s