Bukan Di Sisa Waktu, Tapi Menyediakan Waktu Khusus.

Tiga pekan merawat bapakku yang sakit batin, sempat membuatku stress juga. Berbagai negative-self-talk mulai bermunculan di benakku. Semakin banyak yang menasehatiku “Sabar ya Fi,” malah membuatku bete. Adakah yang mau berempati padaku? Saya manusia biasa. Bisa merasakan lelah lahir batin. Saya kangen ngobrol becanda dengan suami, anak-anak dan kawan-kawan.

Akhir pekan lalu saya bicarakan dengan adik untuk “cuti” 3 hari. Tidur setengah hari, bekam, nyalon bareng anak gadisku, nobar sama Ghighiet #BerbagiNasi, makan di Raacha Kelapa Gading. Setiap sujud curhat seluruh kegalauanku dan harapan-harapanku, berserah diri, hatiku mulai terasa plong.

Muthi, seorang contact di BBM mengajakku bergabung di grup ODOJ. One Day One Juz. Visi misi gurp ini menjadi sarana fastabiqul khoirot, wadah membangun rasa cinta Qur’an, membiasakan baca Al Qur’an. Satu Juz dalam Satu Hari. Langsung saya setuju bergabung. Saya pikir, membentuk kebiasaan baru itu perlu lingkungan yang kondusif, dan perlu “pemaksaan”๐Ÿ˜€

Teknisnya, satu Qur’an kan 30 juz. Naah, masing-masing member “beli” deh, mau tilawah juz berapa. Member yang haid, boleh “beli” juz untuk tasmi’ (menyimak bacaan Qur’an di mp3 atau youtube atau dari media apa saja) atau boleh “melelang” juz pilihannya kepada member lain. Jadi satu orang member bisa membaca lebih dari satu juz per hari. Baca di lokasi masing-masing. Mulai membaca setelah sholat Maghrib. Selesai satu juz, laporan di grup. Contoh, “Alhamdulillah (y) Juz 26 (y).” Tanda selesai baca satu juz bisa berbeda, tergantung standar Admin-nya.

Selama ini saya belum se-konsisten suami, tiap sebelum/setelah Subuh dan Maghrib baca Qur’an. Padahal, saya sudah gabung kelas tahsin dan ada target membaca 20 halaman per hari. Selama ini baru berhasil 10-12 halaman, itu pun belum setiap hari. Kalah mental duluan dengan classmate yang nenek-nenek. Hahaha. Tapi sejak bergabung grup ini, ada muncul semangat berkompetisi, moso kalah sama yang muda-muda. Luruskan niat, paksakan, silent semua henfon, ba’da ‘Isya buka file Qur’an di laptop. Mohon pertolongan Allah. Alhamdulillah satu juz selesai kubaca dalam waktu sekitar satu jam. Hari kedua. Hari ketiga. Semoga istiqomah.

Kuceritakan “keberhasilanku” tiga hari ini pada suamiku. Beliau komentar: Al Qur’an itu ibarat surat cinta. Surat cinta dari Rabb kepada hamba-Nya. Bayangkan, jika kita jatuh cinta pada seseorang, lalu kita mengiriminya sepucuk surat cinta, dan orang itu setiap hari bela-belain mengkhususkan waktunya membaca surat cinta kita, bagaimana perasaan kita? Senang, kan. Demikian juga, Allah seneeng banget dengan hamba-Nya yang cinta Qur’an. Tiap hari tilawah. Kalau Allah sudah cinta, apapun yang terbaik bagi kita, pasti Allah kasih.

Grup ODOJ ini juga memberikan motivasi dan inspirasi bagaimana membangun komitmen cinta Qur’an. Tadi pagi saya baca cerita tentang Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh yang hafal Qur’an padahal beliau sibuk luarbiasa sebagai anggota dewan, beliau pernah memberi nasehat, “Bukan di sisa waktu kita. Tapi kita yang menyediakan waktu khusus untuk berinteraksi dengan Al Qur’an.”

Hidup ini terasa nikmat, bahkan ketika ujian itu datang. Solat jadi lebih khusyu’ dan tilawah pun jadi bersemangat. Alhamdulillah. Terima kasih Allah telah menginspirasi Muthi, mengajakku gabung One Day One Juz.

4 thoughts on “Bukan Di Sisa Waktu, Tapi Menyediakan Waktu Khusus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s