Kompak Banget

Anak dua ini saking meskipun hidup terpisah, tetap kompak, bahkan pas kena masalah. Kecil siih. Tapi lumayan mengganggu kestabilan emosi juga, hehee. Kakaknya terima rapor nilainya beda dengan nilai hasil ulangan, merasa dirugikan, terpaksa nanti setelah idul adha menghadap wali kelas menanyakan perihal perbedaan nilai tersebut. Tambah berat aja deh isi tas dengan segabruk hasil ulangan lalu. Saya juga sharing dengan teman-teman yang anaknya satu kelas dengan si kakak. Mereka pun mengalami masalah yang sama. Semoga hasilnya menggembirakan. Anak-anak mengeluh, dengan diberlakukannya kurikulum baru, banyak guru jadi gabut (makan gaji buta) ini istilah anak-anak aja. Jarang masuk, sekalinya nongol ulangan mendadak. Sebetulnya anak-anak ini mau saja belajar mandiri, diskusi mandiri, tapi tetap butuh dimenthoring, pokok bahasannya apa dulu pertemuan ini, dijelaskan tujuan pokok bahasan ini untuk apa. Baru deh anak-anak itu “dilepas” berburu sumber.

Adiknya di pesantren, kemarin sudah ge er, seneeng banget pekan lalu dapat kabar dapat reward bisa keluar komplek asrama 2 hari. Ehh ternyata ada kesalahan prosedur menthornya telaat setor 3 nama penerima reward ke bagian kesiswaan. Bagian kesiswaan seenaknya aja bilang, “Jadi rewardnya angus.” Jaaahh, emosi jiwa juga saya lihat si bungsu nangis bombay. Di rumah kami ajarkan komitmen, integritas, janji harus ditepati. Ehh pihak sekolah kok terkesan nyepelein prinsip ini. Gerah. Rasanya pingin langsung ketemu ustadzahnya, tapi suami menahanku. Anak ini jaraaang banget nangis. Jika ada konflik dengan temannya atau kakaknya, biasanya cukup sabar, bisa menahan diri. Kali ini dia kelihatan tertekan dan marah sekali. Kami berusaha menentramkannya. Setelah tenang, dia bilang besok akan menemui kepsek, menanyakan maasalah ini. Semoga saja kepseknya lebih bijaksana. Ayahnya mengingatkan, “Luruskan niatmu ya Nak, setiap mau tambah hafalan Quran, setiap mau belajar, setiap mau ikutan program reward, setiap mau ngapaiin aja. Semoga Allah ridho dan memudahkan urusan kita.”

Bulan ini kami belajar mendorong anak-anak agar berani menyelesaikan masalahnya secara mandiri. Memberikan solusi, semangat, optimisme, dan doa. Maju dulu. Jika mentok, baru orangtua turun kaki. Ehh turun tangan. Tapi semoga masalahnya selesai, ketemu win-win solution, tanpa campur tangan orangtua, hal ini baik untuk menambah kepercayaan diri anak. Suami terus mengingatkan kami, luruskan niat, luruskan niat, semoga Allah ridho dengan ikhtiar dan impian kita semua. Aamiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s