Antara Fitnah dan Hikmah

Kasus pernikahan Aceng Fikri dan Fani menguasai headline hampir seluruh media selama lebih dari sepekan. Hampir semua orang dimana-mana, di kantor, di sekolah, di status BBM / Twitter / Facebook heboh mengomentari perilaku Bupati Garut ini, baik dengan bahasa yang sopan serius maupun dengan gaya santai anekdot pelesetan. Ada yang beranalisa kasus ini digembargemborkan untuk menutup-nutupi isu rencana kenaikan harga bahan bakar minyak. Ada juga yang bilang Aceng sedang ‘disikat’ lawan politiknya. Atau memang Aceng sedang menuai fitnah, buah yang ia tanam, karena selama ini di lingkungannya, sikap beliau dianggap kurang-mannered. Dan masih banyak lagi komentar analisa yang entah datanya dari mana. Nama Aceng Fikri kini telah menjadi begitu tersohor hingga ke luar negeri.

Rasulullah Saw telah pernah mengisyaratkan bahwa di akhir jaman akan banyak terjadi fitnah dari kalangan orang Islam sendiri, ada orang yang kelihatannya memiliki pengetahuan dan pemahaman agama akan tetapi perilakunya jauh dari kebenaran yang dibawa Islam. Bahasa sekarangnya STMJ, solat terus maksiat jalan. Lihat saja, siapa yang korupsi? Orang Islam. Siapa yang doyan kawin cerai? Orang Islam. Siapa yang bawa map, meminta-minta di komplek pertokoan, pake jilbab pula? Orang Islam. Orang Islam. Siapa yang melakukan upacara mandiiin keris, buang sajen ke laut selatan? Orang Islam.

Bukan ajarannya yang salah. Tapi ummatnya yang tidak mau berusaha berkenalan dengan keindahan Islam. Tahu itu beda dengan paham, beda dengan yakin, beda dengan taat. Orang yang tahu banyak belum tentu paham, belum tentu yakin, belum tentu taat. Orang yang mengenal Allah, orang yang selalu merasakan pengawasan Allah, orang yang ingat dahsyatnya kematian dan yakin pada sistim reward & punishment Allah Yang Maha Adil, tidak akan berani melakukan korupsi, ia pun tidak akan menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsunya.

Jangan salahkan syaithan yang
memang telah bersumpah akan terus mengganggu manusia dari jalan kebenaran sampai akhir masa. Kitalah yang seharusnya terus menerus berlindung kepada Allah dari godaan makhluk-makhluk laknat itu. Kitalah yang perlu merapatkan barisan, berjamaah dengan orang-orang yang saleh. Kita butuh hadir di acara kajian Islam, bahas tafsir Qur’an, akhlak Riyadush Shalihin, Fiqh, Sejarah Nabi Muhammad Saw, dan sebagainya. Dari acara-acara itulah kita bisa mengenal Islam, mulai dari kulitnya hingga intinya. Makanya perlu rutin berkelanjutan, hingga dapat memahami secara utuh, meyakininya, dan menaatinya dengan hati yang rela. Tau gak siih. Rutin hadir kajian-kajian taklim saja, kita masih akan sering keteteran menjaga hati. Apalagi nggak ngaji. Ngaji maksud saya adalah gabung kumpul bareng dekat dengan orang-orang saleh. Biar kecipratan berkah kesalehannya. Nggak perlu malu atau minder kalau memang kita merasa butuh belajar. Kalau demi penghidupan dan karir di dunia yang singkat saja kita berani investasi waktu hadir di seminar dan diklat, apalagi untuk bekal penghidupan di akherat negeri yang kekal.

Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu sendiri yang berusaha mengubah nasibnya. Mari kita berlindung kepada Allah dari fitnah syaithan, fitnah dunia, fitnah hawa nafsu yang dapat menggelincirkan kita ke dalam jurang kesengsaraan nasib. Hidup kita dibekali alam, akal dan hati. Apakah kita mau berubah ke arah nasib yang lebih baik atau tidak, adalah Pilihan.

Wallohualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s