Relatif. Standar Benar atau Baik Manusia.

Fenomena jejaring sosial banyak membawa manfaat bagi penggunanya.  Kita bisa mengetahui kabar sahabat nun di negeri seberang, membuka wawasan, memperluas ilmu, mengenal dan memahami orang-orang melalui posting-postingnya.

Komunikasi lewat tulisan memang lebih kompliketet, lebih riskan, karena minus intonasi, minus gesture, minus eye-contact, kita nggak tau persis apa yang ada di benak si penulis. Kalau bicara face to face, kita bisa leluasa menggali maksud lawan bicara.  Biasanya, setelah saya pahami maksudnya (melalui inbox) kebanyakan status itu jadi nggak penting untuk dimasukkan dalam hati, karena saya pikir beda ‘frekuensi’ itu biasa.

Setiap orang bebas share info atau mengungkapkan asa, pikiran dan rasa melalui status. Mau yang negatif atau pun yang positif. Setiap orang bebas saja memberikan komentar positif atau negatif, memaki, menghujat, dan meremove orang yang ‘mengotori’ berandanya. Orang-orang yang jadi ‘sasaran’ kritik pun bebas, mau introspeksi diri, atau egepe karena merasa sudah melakukan yang benar, tidak gentar dinilai sombong atau arogan karena standar ‘baik’ atau ‘benar’ setiap manusia itu berbeda-beda tergantung dari asupan yang dia baca sehari-hari, tergantung pemahaman yang dia peroleh dari lingkungannya. Kalau harus mengikuti standar ‘benar-dan-baik’nya semua orang, cape deh :) Hidup ini lebih nikmat ketika kita tidak harus mengikuti penilaian orang-orang yang memang dari sononya berbeda visi-misi.

Ada orang’kelihatan’ sombong karena ketinggian ilmunya, itu biasa. Kita bebas memilih, langsung tekan fungsi sembunyikan posting dari akun tersebut, atau meremove-nya, atau merendahkan hati sebagai silent-reader serap ilmunya belajar hal-hal positif dari ilmunya. Hakikat kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Seringkali kebenaran itu berseberangan atau tertutup ego kita. Kalau sesuatu yang mereka sampaikan itu kebenaran universal, atau kebenaran standar Tuhan, kemudian kita tolak karena kita ‘enegh’ sama yang menyampaikan, maka sebetulnya yang arogan itu adalah diri kita sendiri. Orang bijak itu melihat esensi apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Sebelum menilai orang lain ada baiknya kita introspeksi diri, jangan-jangan tanpa kita sadari kita pun telah atau pernah merasa sombong, mungkin dengan kesuksesan kita, level pendidikan, karir, bisnis, profesi, kedudukan di masyarakat.

Kebanyakan kita juga mudah terpancing untuk menilai orang lain dengan label ujub, riya’ atau munafik. Padahal masalah hati itu hanya urusan Tuhan dan orang yang bersangkutan. Urusan kita adalah berusaha tetap bersangka baik.

Kadang saya juga pernah merasa iri terhadap kesuksesan orang lain, terhadap yang lebih muda, yang lebih cerdas, yang lebih ‘kelihatan’ kaya, yang anaknya banyak. Namun kemudian saya berpikir, manusia adalah unik. Setiap orang telah Dia berikan kelebihan keunggulan masing-masing untuk menjadi cerita hidup yang unik. Bayangkan kalau semua manusia jadi pengusaha, bayangkan kalau semua orang jadi dokter, bayangkan kalau semua orang jadi dosen, malah nggak seru bukan?🙂

Bagi teman-teman yang belum menikah, tak perlu iri dengan yang sudah berkeluarga. Waktu Anda masih sangat banyak untuk bersosialisasi, menuntut ilmu tentang pernikahan yang sukses, menuntut ilmu tentang parenting. Sehingga nanti ketika sampai waktunya, bekal persiapan Anda bisa lebih baik dari pada orang-orang yang menikah muda. Sambil terus berusaha istiqomah memperoleh jodoh yang saleh, dengan cara yang dimuliakan-Nya.

Demikian juga untuk sahabat yang sudah menikah dan belum berketurunan, banyak hal bermanfaat luarbiasa yang bisa Anda lakukan, menjadi orang tua asuh bagi anak-anak yatim dhuafa misalnya, hidup Anda akan sangat berkelimpahan berkah sakiinah. Sambil terus berusaha istiqomah melalui medis.

Mari tambah syukur karena masih banyak orang di luar sana yang hidupnya belum seberuntung keadaan kita. Saatnya sekarang membangun kebiasaan berbagi manfaat, baik melalui tindakan nyata, mau pun melalui tulisan. Mari memaksa diri merendahkan hati belajar dari orang-orang baik dan benarnya standar Tuhan. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s