Cukuplah Kematian Sebagai Pelajaran

Fi… Andi Darwis meninggal. Rencana dimakamkan di Layur ba’da ‘Ashar. Tmn2 ngumpul di rumah Dede jam setengah tiga.

اِنّالِلّهِوَاِنّااِلَيْهِرَجِعُوْن

Saya lihat jam, satu lewat lima menit. Keburu insyaAlloh, dari kantor Sudirman saya pulang dulu.

"okeh Nov .. gw gabung insyaAlloh," saya jawab pesannya.

Andi Darwis, kawan saya di Sekolah Dasar komplek Pertamina Kuda Laut. Sudah 3 tahun sakit. Kalau sehat dia ikut ngumpul silaturahim. BBM-an juga cukup interaktif. Selasa pekan lalu masuk RS lagi. Minggu pulang ke rumah karena sudah lebih sehat.

Sampe rumah, saya baca lagi pesan di Smartphone, tempat ngumpulnya berubah, "di cafe BOA ya Fi, sebelah masjid Babussalam."

Setelah pastikan bocah baik-baik saja, makan, sholat, saya meluncur ke BOA. Sudah ada Eddy, Dede, dan Novi. Menyusul datang Ibnu, Waluyo, dan Agung. Jam tiga kurang lima. Suara azan berkumandang. Kami bergegas sholat ‘Ashar di Masjid Babussalam.

Selesai sholat kami konvoi menuju TPU Penggilingan Jl Layur. Cut Juli dan Olin juga sudah standby. Setengah jam kemudian mobil jenasah datang. Prosesnya cepat. Lucy, istri Andi, tampak tabah meskipun saya tahu ia sangat terpukul dengan ujian ini. Siapa siih yang tidak shocked ditinggalkan pasangan tercinta. Yang terbayang pasti semua kebaikannya, cinta kasihnya, yang ada hanya rasa kangeeeen yang memilukan.

Saya teringat satu ayat dalam Al Quran surat al-Baqoroh ayat 155, yang artinya, "dan Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, (kehilangan) jiwa, dan (gagal panen) buah-buahan. Namun sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

Lepas subuh tadi saya cari kelanjutan ayat tersebut, "yaitu orang-orang yang saat tertimpa musibah mereka berkata, sungguh kami ini milik Alloh dan kepada-Nya-lah kami kembali. Mereka itulah yang mendapatkan rahmat dan ampunan dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk."

Semoga saudara saya M.Andi Darwis mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan lebih sabar, meraih rahmat, ampunan, dan petunjuk-Nya.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Sering saya dengar, semua yang kita miliki di dunia ini adalah titipan. Harta, jabatan, istri, suami, anak, hanyalah titipan, dan Yang Empunya berhak mengambil kembali semua titipannya.

Pelajaran bagi saya, yang masih hidup, dalam satu bulan ini dua saudara pergi, dua sahabat ditinggalkan pasangan tercinta, suatu hari pasti akan tiba giliran saya. Apakah saya siap? Bekal apa saja yang telah saya siapkan? Apakah amal saya selama ini ikhlas karena Alloh? Apakah putri-putri saya telah saya didik menjadi pribadi-pribadi yang sholeha dan mandiri? Apakah saya telah mewariskan ilmu yang bermanfaat?

Terngiang-ngiang, syair Opick, “Bila waktu tlah berakhir, teman sejati hanyalah… amal…”

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s