Man shobaro zhofiro, siapa sabar akan beruntung.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia sangat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah: 216]

Kemarin keknya seharian, Alloh mempertemukan saya dengan orang-orang yang curhat masalahnya. Sebetulnya saya paling males denger curhat, capedeee, hidup saya juga udah banyak masalah, hehehehe… Tapi saya percaya segala sesuatu terjadi bukan karena kebetulan, pasti Alloh punya maksud, mempertemukan saya dengan orang-orang ini.

Pagi. Di dalam kelas. Antri terima rapor bayangan Hilmy. Saya duduk di dekat pintu baris kedua. Datang mama Sissy duduk di samping masih satu meja dengan saya. Paruh baya, dandan simpel, rambut ngebob, lipstik merah, fresh. Sayup-sayup saya dengar bu Shalma walikelas 6 memberi komentar dan pengarahan kepada orangtua/wali murid, sambil nunjuk2 halaman rapor yang dipegangnya, one by one. Mama Sissy menanyakan saya, kemana rencana Hilmy melanjutkan sekolah. Pesantren insyaAlloh, jawab saya. Mama Sissy kelihatan antusias. Kami ngobrol tentang beberapa pesantren modern dan urgensi anak sholeh/ha. Beliau berkeinginan salah satu atau ketiga anaknya masuk pesantren.

Tempo hari tetangganya meninggal, Mama Sissy ikut mengantar sampai kuburan. Tiba-tiba menyusup di pikirannya, “Kalau saya yang ada di situ (dalam kubur) gimana? Saya belum siap. Ada perasaan takut mati. Amal saya masih sedikit. Saya pingin ikut pengajian bukan yang banyak nyanyi2 tapi baca al-Quran dan banyak siraman rohani, belajar bareng sama suami saya juga.” Saya tergerak mencarikan menthor agama islam yang mungkin bisa “berjodoh” dengan keluarga ini. Kami bertukar nomor telepon.

Giliran rapor Hilmy. Saya menghadap bu Shalma. Saya baca pelan-pelan halaman berisi nilai ulangan harian dan UTS. Ada dua mata pelajaran dapat nilai 100. Lainnya 78-99. Saya mengucap syukur dan bersiap dengar komentar dan arahan bu Shalma, ternyata beliau cuma tersenyum lebar, “No comment, yaah.” Alhamdulillah anakku baik-baik saja. Makasiiih Yaa Alloh.

Siang. Ba’da Dzuhur. Henfon bunyi. Bbm masuk. Curhat maning. Ceritanya, dia dan suaminya merasa telah mengulurkan tangan untuk membantu seseorang atau beberapa orang. Tapi pas giliran dia yang sedang butuh, itu orang-orang itu pada halangan, mau operasi sesar, jadi nggak bisa bantu. Yaaah UUD, ujung-ujungnya duit. Dia merasa “kok nggak adil yah..” Lalu saya baca status bbmnya, “berharap pada manusia kecewa yang kudapat.” Betul, saya setuju banget, karena sering mengalaminya. Sepantasnya, kita menggantungkan impian dan harapan, hanya kepada Alloh Yang Maha Kuasa. Saya tahu dia bawa kekecewaannya dalam sholat, nangis, istighfar, nangis lagi, istighfar lagi. Sampe idung besarnya berubah warna, pinky, hihihi😛

Sebetulnya dia lebih suka dagang dari pada ngantor, cape ngelayanin boss yang maunya cepat capai target dan pantang ditentang, serba salah, nambah dosa. Tapi suaminya belum setuju, karena masih punya banyak tanggungjawab support adik-adiknya, padahal mereka sudah dewasa, sudah sepantasnya mandiri secara finansial. Tuhan tidak akan mengubah nasib sebuah kaum, kecuali kaum itu bersungguh2 mengubah nasibnya. Jangan lagi kasih ikannya, kasih kailnya. Peluang itu banyak, ada dimana2, lewat setiap hari di muka kita.

“Bukan karena segalanya sulit sehingga kita tidak bisa, tapi karena kita takutlah, maka segalanya menjadi sulit.” Hidup adalah pilihan, kita mau berubah atau tidak. Memang, perubahan itu konotasinya kerja keras, capeeekk, kurang tidur, beda dari orang kebanyakan, keluar dari zona kenyamanan, tapi ada peluang ; nasib berubah lebih baik. Ngga mau capek? Yaudah nikmati hidup, mau punya rumah jadi susah, nyekolahin anak di sekolah bagus juga susah. Jangan ngeluh jangan komplen jangan mengkambinghitamkan orang lain, karena Tuhan Maha AdiL.

Sore, jam setengah enam. Telfon bunyi. Donlenku. Curhat tentang donlen2nya yang “manja” udah dibantu 2 bulan berturut-turut, udah naek level, masih aja nitip orderan groupnya, alesannya repot, ga da yg jaga anak, klo ada stok kosong marah2, kurir salah kirim barang marah2 ke aplein (upline). Saya juga mengalaminya. Mindset pemula mmg begitu. Harus dimaklumi. Mereka kira aplein yg punya perusahaan, bahkan ada yg mprlakukan apleinnya udh kek kurir, anter jemput pesanan. Klo apleinnya nyuruh order sendiri, ngambeg, “ah yang untung kan elu.” Heiii, klo kamu jual parfum, untung 50-100ribu per botol, emang langsung masuk kantong aplein? Ingeet, rezeki aplein, rezeki anda, semua dari Tuhan, dan Tuhan pula yang telah mengaturnya. Klo kita bekerjasama, anda bisa sukses melebihi aplein anda. Kerja sama yaa, bukan ngerjain aplein.🙂

Kebanyakan kita, hebat komplen, cerdas mgkritik menuntut perubahan. Padahal akan lebih bijaksana lagi jika kita tambahkan juga saran solusinya, ulur tangan kerjasama, dan berjiwa besar saat kenyataan belum sesuai harapan. Man shobaro zhofiro, siapa sabar akan beruntung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s