Sharing Ubepe Aqsha (1)

Tahun 2012 sedang heboh promo tiket maskapai anu, di komunitas Backpacker Dunia, dan saya tertarik baca satu postingan diskusi tentang Umroh Backpacker.  

Penasaran. Gimana sih mekanismenya? Apa sih bedanya dengan Umroh Reguler? Saya googling. Gabung komunitas, facebook group AKM. Ayo Ke Mekah. Baca-baca lagi, tanya-tanya, dan selalu baper mupeng liat foto-foto seliweran. 
Sempat juga saya bikin WA group buat sharing A-to-Z  sampe kita semua ter-‘ngeh-kan (tercerahkan) bagaimana mekanisme ubepe. Mulai dari bikin grup rombongan, berburu tiket promo, hingga memilih paket LA.  Kemudian saya googling dan pelajari lagi apa dan bagaimana itu LA.  Land of Arrangement. Masih belum puas, saya baca juga buku-buku tentang Ubepe. 

Kesimpulan yang saya peroleh. Ubepe itu memberikan Kebebasan. Maksudnya, kita bebas menentukan paket sesuai kebutuhan grup. Mau naik maskapai apa, nginep dimana, katering atau tidak, mau berapa malam di Madinah, berapa malam di Makkah, tidur di hotel bintang berapa.

Rencana suami dan saya ingin safar eksklusif berempat minimal 12 hari, menikmati 2 Jumat di tanah suci. Santai menikmati hari-hari itikaf. Semoga Allah ijinkan, wujudkan dalam waktu dan keadaan yang sebaik-baiknya.

Desember 2015 ibu saya pulang umroh, bilang, “Mama pingin ke Masjid Al Aqsha.”  Saya temani beliau survey dari travel ke travel. 5 bulan beliau shalat istikharah, Allah beri petunjuk lewat Kafilah Akbar Musahefiz. Salah seorang TL-nya sharing info harga tiket Saudia rute KL – Jeddah –  Amman – Jakarta  di posisi Rp 9juta.  Setelah diskusi dengan keluarga, keputusannya, Bismillah, beli tiket tersebut, dan saya mendampingi beliau. 

Nomer wa kami berdua dimasukkan ke dalam grup rombongan yang sama tujuan, kami saling mengenal, saling berbagi info seperti prakiraan cuaca, info terbaru keadaan destinasi, bawa bekal apa saja yang penting, dokumen tambahan yang harus disiapkan,  harga tiket pesawat dari kota asal ke Kuala Lumpur, memutuskan meeting point, dan hingga batas terakhir bayar LA. 

Waktu berlalu sangat cepat, terutama setelah idhul Adha, grup jadi makin heboh, ternyata kita butuh tambahan longjohn, sarung tangan, kaus kaki winter dsb. Ada yang sharing info belanja di toko anu, manggadua, murmer. Besok paginya meluncurlah kami nyari tokonya. Alhamdulillah beres. Ada kali, empat kali saya bongkar koper, nyiasatin biar muat, bekal safar 15 hari. Tetep aja akhirnya bawa 2 koper masing-masing size 24. Satu koper padat karya. Satunya lagi kosong. Yakin koper pasti beranak, heheheh.


 photo IMG_20170125_074847_HDR_zpshbhsujb4.jpg


Tanggal 25 Januari 2017 kami (mama dan saya) terbang ke Kuala Lumpur, di KLIA ketemu mbak Dewi dan suaminya, berempat kami naik bus ke penginapan di sekitar KL Sentral. Setelah mandi sore, kami cari makan Nasi Kandar di belakang hotel, lalu jalan masuk KL Sentral naik LRT Kelana Jaya. Mbak Dewi dan mas Bagus ke Petronas, saya temani mama ke lokasi favorit beliau: Masjid Jamek. 


 photo FB_IMG_1488966592516_zpsaydrppnx.jpg

Hari kedua setelah sarapan saya jalan ke Pasar Seni, cari sunkist enak, ternyata lagi nggak musim, yang banyak pisang sunpride. Beli jus buah mix saja, buat imboost, daya tahan tubuh. Langsung balik hotel. Jam 12 kami check out naik van menuju KLIA counter Saudi Airlines. Sambil tunggu rombongan lengkap, kami bergantian shalat, lalu antri di konter check in bagasi. Seragam rombongan kami hanya khimar tosca, kalung identitas warna kuning, pita merah putih di koper, dan label pengenal grup berisi informasi nama, no.tlp, hotel di Madinah, hotel di Makkah.
Labbaik Allahumma labbaik. Kami datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah. 

 photo FB_IMG_1488966986505_zpsw7qnmpyv.jpg

Cameron Highlands – Penang (2)

Sepekan sebelum berangkat saya hubungi travel TJ Nur di Cameron Highlands, tanya-tanya info paket private tour berenam. Berapa jam, kemana saja, dan berapa biayanya. Maksudnya supaya waktu kita lebih efisien. ‘Kan sampe sana pagi, langsung aja raun-raun. Sorenya naik bus ke Penang.

Cameron Highlands, dataran tinggi, sejuk, ada Mossy Forest yaitu hutan tertua di dunia berusia 230juta tahun, ada gunung Brinchang, dikelilingi ladang teh, stroberi, aneka bunga, dan peternakan lebah. Kami mampir sarapan dan makan siang di BOH Tea Center. Pesan aneka menu dan teh untuk berenam. Saya makan Pie isi daging ikan, enak banget. Nyicip juga Nasi Lemak Cheese Cake, enak. Teh angetnya doung, emang juara. Keknya emang jodohnya semua menu di sana. Nikmat.

 photo SAM_1962_zpsiilinroe.jpg

Waktu saya pesan makanan, yang lainnya booking posisi supaya bisa duduk bareng. Ada space kosong. Geret meja kursi foto² dan berisik di situ. Pelayan restoran mendatangi kita ngoceh² yang intinya itu tempat emang sengaja dikosongin buat yg mau ambil gambar/foto² cantik. Kita diminta balikin lagi meja kursi ke asalnya. Ahmad guide kita ngejelasin ke pelayan bahwa rombongan kita cuma sebentar foto² aja trus mau pindah lagi duduk di tempat lain. Terima kasih Ahmad sudah bantu kita’ngeles, hihi

Target kedua saya di Cameron Highlands kunjungan ke peternakan lebah dan, belanja aneka madu produksi mereka. Ada madu kelulut untuk mengatasi gangguan jantung, tulang dan persendian. Ada madu propolis untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Ada madu tongkat ali, untuk vitalitas. Ada madu untuk mengatasi gangguan flu, batuk, influensa, dan sebagainya. Kemasannya saya beli yang kecil-kecil, yang aman masuk kabin, dan yang dalam sachet, untuk minum sendiri selama travelling. Tas jadi lebih berat. Tambahannya cairan dan gelas, bow. He he

Kemudian kami mampir ke kebun bunga. Jauh-jauh dari Jakarta, liat mawar lagi, anggrek lagi, kembang sepatu, tapi bunga mataharinya guede guedee. Ehh, apa saya aja kali yang kudet, baru liat yang segede itu selama ini. Foto di antara bunga yang mekar warna warni, berasa diri ini agak sedikit lebih tjakep. Tsahh, kamar mandi mana kamar mandi. Belom mandi iniih dari kemarenan, wkwkwkk 😛

Target ketiga, makaaann laagiiii. Ha ha… kali ini kita mampir di Big Red Strawberry Restaurant. Kedai makan bertema serba stroberi. Saya pesan Salad, yang tentu saja ada stroberinya, lalu pesan stroberi lapis whipped cream, dan minumnya yoghurt. Kenapa pilih menu ini? Karena biasanya ketika bepergian jauh saya sering sembelit, atau pernah juga diare kena gangguan bakteri. Jadi, saya seneeng banget nemu menu sayur dan buah segar minim pengolahan. Sedangkan yoghurt itu mengandung bakteri baik, untuk keseimbangan pencernaan saya. Rasanya? Enaaakk banget.

Selesai makan, kami diantar ke pombensin tempat tunggu bus tujuan Penang. Kejutan kedua dimulai. Waktu itu ‘kan masih sekitar 20 menit, teman-teman pikir, yuk beli simcard Malaysia supaya internetan dan komunikasi dengan keluarga tercintah jadi lebih irit. Jreeeng rame-rame kita serbu toko pulsa. Engkohnya gelagepan. Grogi. Jadinya lamaaa banget setting 1 hape aja. Saya sendiri memutuskan batal, karena bus tujuan Penang sudah standby. Tunggu, tunggu, lama banget dah emak-emak di toko pulsa. Supir bus, kernet, dan penumpang lain udah mayah-mayah. Alamak, kalo ditinggalin pegimana ceritanyaaah. Ahmad, guide kami berinisiatif, masukin koper dan ransel dan semua belanjaan rombongan ke bagasi bus. Saya berdoa sampe nangis, semoga supirnya bersedia nungguin rombongan kita.

Alhamdulillah satu per satu kepala itu muncul, dan melihat mereka jalan melenggang santai, sumbu pendeklah saiyah, teriak sekenceng-kencengnya, “Ayo cepet cepeettt.” Lupaaa kalo yang saya teriakin itu, nenek-nenek, ternyata mereka juga dimarahin sama si engkoh karena yang beli simcard jadinya menciut cuma 2 orang, maap ya Nek, wkwkk 😀

Bus bergerak menuju Penang jam 14.50 terlambat nyaris 30 menit. Alhamdulillah terangkut semua. Saya mulai batuk-batuk efek semburan AC bus yang dingin sangat. Padahal sudah saya tutup katupnya. Tetep aja kebagian dingin dari tetangga depan dan belakang. Minum. Baca istighfar dan sholawat. Alhamdulillah gatal bisa dikendalikan, meskipun sampe keluar air mata saking kuatnya ‘nahan supaya ngga batuk terus.

Sampai Penang jam 7 malam. Dari terminal bus Sungai Nibong kami bertujuh naik uber car dan taksi biasa menuju Ar Raudhah Suites Hotel, sudah booked online, satu apartemen 3 kamar untuk 2 malam seharga 1,6jutaan. Patungan bertujuh. Lumayan, lah. Satu orang nggak sampe 80ribu per malam. Privasi lebih terjaga, dan yang bikin happy banget adalah gratis WiFi iyeeayh. Saya langsung menjajah kamar mandi. Keramas. Ganti baju. Minum decolgen. Tedor. Supaya besok Subuh bangun lebih awal mandi sarapan raun raun Penang.

-to be continued.

Cameron Highlands – Penang (1)

​ Berawal dari promo maskapai merah tahun lalu. Saya beli Bandung Singapore cuma bayar 85ribu. Pamer di grup wa Emak² Doyan Jalan. Ehh mau dong, mau dong… pada latah. Ha ha. Ada yg kehabisan Bandung Singapore, tapi kebagian Jakarta Singapore jam 2 siang di harga 150ribu. Bongkooousss. Ha ha. 

Rentang waktu setahun itu berapa kali ubah itinerary. Haha.

Itinerary pertama kita sih cuma 2-3 lokasi. Singapore cuma pingin ke Madame Tussauds dan naik kapsul Singapore Flyer. Malemnya naik bus ke Cameron Highlands, paginya langsung raun-raun.

Takdirnya….

Day 1. 
Pagi² sudah dikejutkan oleh email pemberitahuan perubahan jam terbang tmn² yg dari Jakarta, mundur jadi jam 8 malem. Lah sedangkan tiket bus malam sudah beli online, non refundable. Akhirnya mereka beli tiket baru, pesawat pagi sdh closed penjualan online, Alhamdulillah dapet sisaan yg jam satu siang.

Rombongan dari Bandung ada 4 orang. Alhamdulillah perjalanan lancar. Serba ontime. Keluar imigrasi Changi masih jam 11.20 kami jalan menuju stasiun MRT di Terminal 3. Beli kartu Easy Link yang memudahkan pembayaran naik kendaraan umum, kereta atau bus kota tinggal diTap.

Dari Changi ke Madame Tussauds naik MRT , transit Tanah Merah , naik MRT lagi transit Outram Park, nyambung MRT lagi turun bnr² turun di Mal Vivo City. Dari Mal ini naik lantai 3 untuk naik monorail tujuan Sentosa turunnya di Imbiah. Dari stasiun Imbiah itu ngikutin aja direction ke Madame Tussauds. 

Perut keroncongan, lihat KFC, kami langsung masuk dan pesan menu paket nasi lemak, ayam goreng, dan pepsi. Alhamdulillah standar rasa KFC di sini cocok² aja di lidah kami. Gak berani makan di warung makan yg belum ada cap halalnya dari MUI Singapore. Karena halal bukan hanya tanpa pork/lard. Pemotongan hewannya menyebut nama Allah, gak. Proses memasaknya pakai angciu/wine gak. Dan sebagainya. 

Sebelum masuk studio Madame Tussauds kami diarahkan masuk studio The Image of Singapore, yang nyeritain sejarah Singapore jaman dulu sampe masa sekarang. Aneka etnis dan budaya ada di Singapore, mayoritas etnis Hokkien/Tionghoa, lalu India, dan Melayu. Di dalam studio ini tidak diperkenankan mengambil gambar / foto²

Hampir sejam kami keliling bagian dalam studio bagaikan quantum leap akhirnya sampai juga di pintu masuk studio Madame Tussauds, dimana terdapat patung-patung orang terkenal di dunia yang miriiiph banget dengan aslinya. Tinggi badan, wajah, rambut, kulit, detil banget. Mulai pemimpin dunia Soekarno, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, Obama, olahragawan, musisi, aktor, aktris, presenter Oprah Winfrey, dan sebagainya. Puas²in foto² bareng para sang femes. 

Harga tiket masuk Madame Tussauds Singapore ini $39 tapi di Jakarta banyak travel jual harga diskonan. Toko toko online seperti Elevenia, Blibli, Lazada, Tokopedia, juga ada yg jual harga diskonan. Kemarin kami dapet harga Rp. 230ribu per orang. Lumayan ‘kan. Dari Jakarta kita bawa print-an voucher tiketnya. Sampai di tekape tukar dengan tiket fisik.

Jam 4 sore kami check out Sentosa kembali ke Mal Vivo City, susah cari tempat shalat, saya ajak tmn² menuju Mustafa Center, karena di seberang pertokoan tsb ada masjid. Maka dari Mal Vivo City naik MRT turun di Farrer Park. Jalan kaki 100 meter menuju Masjid. 

Selesai shalat kami nyebrang dan masuk Mustafa Center, ngadem, nyari oleh² coklat Singapore dan cemilan cepuluh cebelas untuk keluarga tercinta dan sahabat tersayang. Makanan ada di lantai dua. Money changer di lantai satu. Tempat penitipan koper ada di dekat pintu keluar, ada staff yang jaga, insyaaAllah aman. Gratis. 

Kaki mulai berasa cekot² ha ha. Saya cek henpon. Benar, rombongan dari Jakarta sudah nyampek Masjid Sultan Singapore. Beresin belanjaan, kami bergegas turun, ambil koper, lalu pesan Uber. ‘Tak sampai 10 menit kami sudah sampai Masjid Sultan. Ongkos Uber cuma $4. Peraturan yang harus dipatuhi, dilarang makan minum di dalam kendaraan umum. Termasuk di dalam uber car yg kita sewa. Sempat kena teguran driver gara² makan coklat. Ha ha. Maap ye ‘bang. 

Sampe masjid kesempatan puas²in bersih² dan kalo lagi nggak rame antrian toilet, kita bisa mandi juga. Airnya deras. Bersih. Segar. Asal jangan sampe ketauan aja sama marbot perempuan yg jaga toilet. 

Setelah shalat Maghrib dan ‘isya di Masjid Sultan kami jalan pelan² ke arah terminal bus. Golden Mile Complex. Sambil foto² dan nambahin belanjaan oleh² di komplek sekitar Masjid Sultan harga souvenir dan coklat termasuk murah bila dibanding kita belanja di Lucky Plaza atau Chinatown atau bahkan di Mustafa Center. 

Jam 11 malam bus bergerak menuju Cameron Highlands. ‘Tak sampai 30 menit kami tiba di Woodlands CIQ. Tmn² yang udah pada merem krn ngantuk, kaget luarbiasa waktu driver teriak, “Cek paspooorr!”  Wuah pinjem toa pak erwe, ya ‘bang. Ha ha. Kami turun bus, naik eskalator ke ruang imigrasi. Pamitan. Kemudian kembali naik bus yang sudah menunggu kita di dekat gerbang keluar Woodlands. Setelah lengkap, bus bergerak menuju Johor Bahru, Malaysia. Saya kasitau tmn² jangan tidur dulu, nanti kaget lagi diteriakin supir, krn kurang dari 10 menit kita harus turun bus lagi cap paspor kulonuwun Malaysia.

Lepas dari imigresen Malaysia barulah lempeng tidur terus sampe Subuh. Qadarullah bus masuk Cameron Highlands terlambat 2 jam. Jadi shalat Subuh di dalam bus. Alhamdulillah selamat sampai Cameron Highlands.

– to be continued.