Menasehati itu ada seninya.

Akutu lebih mudah tersentuh oleh cerita-cerita pengalaman orang lain, deh…. Dari pada dinasehatin jangan begini jangan begitu, harusnya begini, begitu.

Ya orang ‘kan beda-beda. Kalo didikte, akutu ngerasa, ishh gue masih anak-anak ya? Apalagi kita cuma temenan, aku kenal gimana kalian, dan kalian nasehatin pake ayat, hadits, dan doktrin lainnya, aku pasti jawab, “Udah tauuk.”

Beda penerimaan saya, ketika nonton kajian youtube atau baca kisah para Nabi dan orang-orang shalih, dan denger cerita pengalaman pribadi kalian yang pernah terpuruk oleh ujian bertubi-tubi lalu kalian berhasil bangkit berjuang menata hidup yang lebih baik. Bagaimana kalian mengelola mindset keimanan, itu nasehat yang amat sangat menarik bagi saya. Ma Syaa Allah.

Waktu yang tepat juga, ngefek lah. Kapan waktu yang tepat, ya ketika saya bertanya, “Menurut kalian bagaimana? ”

Pilihan kata-kata juga, sangat besar pengaruhnya, karena konon menurut stifin atau apalah nama ilmunya, saya tipe feeling. Jadi pilihan kata itu bisa bikin saya illfeel, males, atau terinspirasi, termotivasi.

Poinnya, adalah..

Nasehat lisan itu, tidak mudah, ada seninya. Ada orang yang bisa langsung nerima nasehat lisan blakblakan di segala kondisi cuaca. Banyak juga orang yang kayak saya. Perlu kreatifitas dan selera humor yang ‘nyambung untuk menerima nasehat.

Jangan lupa satu lagi: niat ikhlas. Supaya ketika orang yang kita nasehatin itu belum berkenan menerima nasehat kita saat itu juga, kita nggak bete, lalu ngejudge dia keras kepala, sombong, wataknya jelek, hatinya tertutup, segudang label negatif lainnya, atau nyalah-nyalahin.

Hidayah itu milik Allah. Maka nasehatin dengan, ikhlas, hanya berharap Allah ridho kita sudah sampaikan yang Benar tu begini lohh Fi.

Tidak mudah. Tapi dengan dikemas doa yang tulus, bisa, in syaa Allah. ðŸĪē

Ini adalah “bocoran” buat ngadepin pasangan, anak-anak, teman, tetangga, sodara, yang setipe dengan saya. Semua, harus ada ilmunya, pakai ilmu, agar semesta mendukung.

Tetap semangat yaa, fastabiqul khairat, amar ma’ruf nahyi munkar. 💊💊

Hidayah itu mutlak Hak Allah

Berhijab itu kewajiban bagi muslimah yang sudah baligh. Orangtua wajib mengingatkan anak-anak perempuannya. Suami wajib mengingatkan istrinya. Kakak atau adik laki-laki wajib mengingatkan saudara perempuannya.

Mengingatkan dengan cara yang ahsan, yang baik, yang keren, yang asyik. Bukan dengan marah-marah, ngejudge, apalagi bilang gini, “Buat apa jadi orang Islam kalo nggak mau taat.”

Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Astaghfirullah wa atuwbu ilaih.

Bro, sis.
Kalau dakwah belum berhasil, jangan malah menjauhkan mereka dari Tuhannya. Bukan kita, hakimnya. Dakwah itu ada fikihnya. Ada seninya.

Cukup dengan pujian tulus, “Tiap gue liat loe pake mukena, ma syaa Allah, takjub gue, ternyata loe cakep juga. Beda banget.”

Atau, “Anak papa makin cantiik dengan mukena ini. Papa pingin banget liat sesekali kita traveling, kamu pakai hijab. Pasti keren. ”

Kasih. Hadiah. Hijab-hijab cantik, warna-warna kesukaannya. Tuniknya juga. Kulotnya. Roknya. Asesorisnya.

Atau, cobalah merutinkan ajak duduk bareng kajian di masjid. Sepekan sekali misalnya. Pastikan dulu, kita kenal banget gaya ustadz pematerinya, yang agak woles, nggak terlalu hitam putih, hindari resiko bikin jamaah baru kapok. Tapi poinnya dapet: Taatlah, niscaya kamu beruntung.

Doakan dalam sujud sholatmu. Doakan yang ikhlas. Terus menerus. Istiqomah bagaikan tetesan air di atas batu. Doa juga nasehat. Nasehat dalam diam. Nasehat yang kekuatannya juga dahsyat.

Boleh saja menasehati secara lisan, di waktu yang tepat, dengan pilihan kata yang baik, dalam keadaan yang rileks, dan privat. Anak, adik perempuanmu, istrimu, apalagi ibumu, mereka punya harga diri dan perasaan yang halus, Bro. Pap.

Setelah kamu yakin 1001 cara yang ahsan sudah kamu lakukan dan istiqomah kamu lanjutkan, maka tidak ada dosa bagimu ketika mereka belum juga berhijab. Masing-masing kita akan dihisab atas pilihan dan usaha masing-masing.

Hidayah itu mutlak hak Allah.

Kamu memang punya pilihan, untuk mendikte dengan tegas atau keras, tapi kelemahlembutan juga bisa menjadi wasilah hidayah itu. Tetaplah menyayangi dengan tulus, tetaplah berbuat baik, berkata baik, dan mendoakan yang terbaik.

Wallahu’alam bish showab.
Aku hanyalah hamba yang masih terpenjara oleh dosa-dosaku. Mohon maafkan lahir bathin.

Spaghetti masakan kesayangan ibuk

Liburan happy bisa juga murmer koq. Nobar di kamar, pilem yang ada di youtube, dimasakin kesayangan, si sulung, spaghetti 🍝 yang super endeusss. Ma Syaa Allah..

Spaghetti terenak. Dimakan pas lagi laper-lapernya. Dan cuaca gerimis manjah. Sampe nambah seporsi. Ibuk ngga kepo resepnya. Ibuk seneeng tinggal lep.

Makasih Kak 💖 Semoga Allah selalu melindungimu dari keburukan, dan memudahkan jalan-jalanmu menuju cita-cita, aamiin. Barokallohufik. ðŸĪē

Mo’ dibilang pamer keq…. Kami sekecamatan mengucapkan.. Bodo amaaatt.

Cangkang telor

Pernah ada nih, temen SMA saya, cewe, waktu saya masih dalam pengaruh obat kemoterapi tahun 2018, ketika saya lagi on-fire menulis sebagai bagian dari healing process juga, dia komentar gini, “Fi, elo nulis cerita tentang sakit loe, belom tentu semua jempol yang ngeLike postingan loe, beneran suka… ihh kesusahan dipamer-pamerin. Dan bisa jadi mereka ada yang malah seneeng loe kena penyakit dan sengsara. Sukurin. Rasain.”

inhale.. exhale.. 😊

Gini, yaa Cangkang Telor… Gue udah tauuk, kita hidup dimana pun, kita melakukan apapun, pasti ada aja orang yang gak demen, dan merasa girang kalo kita kenapa-napa.

Kita niyh kalo waras, begitu tahu teman atau sahabat kita sakit keras, atau kena musibah apalah-apalah, pasti yang muncul di otak, “Apa yang bisa saya bantu? ”

Dan kalau kita paham bahwa hati yang senang adalah separoh kesembuhan, kita pasti akan mensupport pasien untuk terus melakukan apapun yang membuatnya happy.

Saya paham koq. Dimana pun kita hidup. Selalu ada manusia bermuka dua. Tapi kita kan diperintahkan berbaik sangka. Husnudzhon. Apalagi friendlist saya baik-baik aja sama saya, selama ini nggak ada masalah. Mosok gue harus paranoid. Saya ini sakit kanker, bukan sakit jiwa.

Lagi pula, yang saya tulis bukan keluhan. Tapi bagaimana saya berjuang untuk kembali lebih sehat dan menjadi pribadi yang lebih baik. Saya mengajak orang-orang senasib, ayoo tetap semangat ikhtiar. Lakukan apapun yang memang sudah seharusnya dilakukan. Dan berserah diri kepada Yang Maha Berkehendak.

Kita tidak bisa menutup mulut semua orang. Tapi kita bisa menutup dua telinga kita. Pakai kacamata kuda. Jalan terus. Semoga Allah selalu melindungi dan melimpahkan pertolongan-Nya.

===

Salad buah ini lebih enak dari yang kemarin.

Nggak bisa beneran, atau.. ðŸĪ”💭

“Saya nggak bisa jualan.”
“Saya nggak bisa ngomong.”
“Saya nggak bisa nulis. Gak bisa merangkai kata.”
“Saya nggak bisa baca Quran.”
“Saya nggak bisa masak.”

Kalimat-kalimat ini bukan selalu artinya benar-benar tidak mampu. Tapi bisa juga berarti, kepingin, tapi nggak tau caranya. Bisa juga berarti, frustrasi, nggak suka, nggak tertarik, nggak minat, bodo amet.

Kalo masih ada kepingin bisa tapi nggak tau caranya, cari orang yang bersedia ngajarin sampe bisa. Sediakan waktu, pikiran, harta, dan fokusmu. Practice makes perfect. Alah bisa karena biasa. Jam terbang ‘ngaruh. Berlaku di semua bidang ketrampilan.

Kalo karena nggak suka, tapi hati kecil masih kepingin bisa, cari tahu alasannya, ilmunya, bagaimana saya bisa menyukai kegiatan ini. Cari tahu hal-hal yang menarik, yang menyenangkan, yang menantang, yang lucu dan seru, yang bikin jadi suka.

Kalo frustrasi, mungkin pernah ada pengalaman ngga enak banget. Trauma masa lalu. Sembuhin dulu luka batinmu. Belajar ridha. Belajar memaafkan. Mungkin perlu hijrah, cari lingkungan yang kondusif.

Kalo emang udah nggak suka banget dan nggak mau tahu, game over. 😊

Medis untuk gangguan batu empedu

Adik semata wayangnya suamiku baru saja sepekan lalu operasi laparoskopi membuang batu-batu empedunya.

Gejalanya seperti sakit maag, tapi nyeri hebat di bagian perut sebelah kanan, sampai keringetan, lemes. Minum obat maag, ga ngefek. Injeksi obat pereda rasa sakit malah jantungnya berdebar-debar. Inikah namanya cinta?

Ada kawannya yang menyarankan terapi makan buah apel. Tapi karena sudah nggak kuat menahan sakitnya, adikku minta dioperasi secepatnya. Akhir tahun banyak dokter ahli yang cuti sampai tanggal 6 Januari 2020. RS Hermina, RS Mitra Keluarga Depok, RS Univeritas Indonesia. Zonk!

Alhamdulillah lewat bantuan seorang teman kuliah beliau, ‘nemu juga dokter spesialis bedah digestive yang nggak kelamaan cutinya. Pindahan lah mereka ke RS Fatmawati.

Senin observasi ulang. Selasa langsung tindakan laparoskopi. Hanya dilubangi, dan batu empedunya dihisap oleh alat teknologi canggih. Tanpa sayatan di ototnya, diharapkan luka bekas operasi ini lebih cepat kering, sembuh, dan perawatannya nggak terlalu ribet.

Terapi makan buah apel itu bisa saja menghancurkan batu empedu. Ketika jumlah batu empedunya baru satu atau dua butir. Makan 5-10 buah apel setiap hari selama setahun, baru hancur batunya. Lahh kalo sebanyak ini? Terlalu beresiko banget, mempertaruhkan nyawa hanya agar supaya nggak jadi dioperasi.

Tidak semua nasehat “katanya makan ini minum ini sembuh” cocok buat kita. Kasus penyakit setiap orang ‘kan berbeda-beda. Rejeki orang juga beda-beda. Si anu sembuh dengan hanya minum air alkaline, ya karena memang Allah ngasih jalan keluarnya lewat situ, dikasih jenis penyakit yang Allah sembuhkan lewat situ. Tapi kalau ada rezeki untuk pengobatan medis, misalnya BPJS atau asuransi, atau punya asset yang bisa dijual-jualin, tempuhlah jalur medis. Segera.

Semoga Allah selalu melimpahkan ni’mat iman Islam sehat walafiyat, bagi kita semua. ðŸĪē

Menulis itu… ðŸĪ”💭

Petualangan menulisku bermula dari korespondensi, berkenalan dengan teman-teman baru di majalah anak-anak era 80-an.

Sahabat pena pertama saya bernama Inneke Noya, tinggal di Ambon Maluku. Kami saling berkirim kabar cukup intens, minimal sekali dalam satu bulan, saya menerima balasan suratnya. Ngobrolin sekolah, rumah, hobi, dan remeh temeh lainnya.

Sampai kelas enam esde kami mulai sibuk persiapan ujian masing-masing, sampai sekarang, kehilangan kontak.

Di masa SMP-SMA saya berlangganan majalah remaja, yang isinya lebih banyak cerita pendek. Saya mulai menulis buku harian pribadi, isinya lebih dominan tentang perjalanan hati. Ciyee. 🐒🙈ðŸĩ🙊🙉

Saya masih melanjutkan korespondensi dengan beberapa sahabat pena tapi karena di sekolah banyak tugas, saya hanya mampu menjawab surat-surat mereka dua kali dalam satu semester.

Ketika kuliah juga saya masih korespondensi dengan teman-teman SMA yang mereka kuliah di ujung pulau Jawa, dan Sumatera. Dua semester akhir sudah berkurang kesibukan, saya mulai berani mengirim beberapa cerpen ke Majalah Anita Cemerlang.

Senangnyaaa, untuk setiap cerpen yang dimuat, saya mendapat honor Rp. 50.000,- itu tahun 1994-1996. Ngambil honornya di kantor pos, dengan menunjukkan KTP.

Tahun 1996 saya mulai sibuk ‘ngantor. Redaksi sudah menelpon saya menanyakan kapan bisa kirim cerita lagi. Sayangnya, saya sama sekali tidak memiliki cukup waktu dan tenaga untuk menyelesaikan satu cerita pun. Tahun 1997 menikah, 1998 punya bayi, dan kesibukan saya bertambah dengan peran domestik sebagai istri dan ibu.

Tahun 2004-2012 saya sempat nengerjakan MLM “anu” dengan ijin Allah meraih pencapaian-pencapaian yang diinginkan, dan pada tahun 2008 saya mulai kembali aktif menulis, dengan harapan, bisa menginspirasi dan memotivasi semakin banyak orang melalui media sosial.

Awal-awal come back menulis, ya gagap pastinya. Apalagi kesempatan menulis sebulan paling sekali. Bahkan kadang vakum sampai enam bulan.

Mulai kenceng lagi setelah kena cancer. Menurut beberapa sahabat, writing is healing. Saya menulis, setiap pekan pasti ada dua atau tiga tulisan. Menulis, melepas rasa, memeluk asa, menggugah karsa.

Banyak yang ‘nyuruh bikin buku. Ya mau aja sih. Tapi saya nggak mau door to door, ketok pintu dari penerbit ke penerbit. Ogah. 😁

Maunya, penerbitnya yang dateng ke saya, kasih saya target, tema ABCXYZ. he he belom jadi penulis aja udah shombhong! 😊😊

Nggak maksud sombong. Tapi efisiensi. ðŸĪŠðŸ˜ðŸ™

Saya juga kepikiran bikin e-book, tapi masih galau, mulai dari mana, temanya tentang apa. Jadi sampai detik ini, mengalir aja, semau saya, lagi pen curhat tentang apa, langsung tulis. Kadang tuh ide nongol pas jongkok di toilet, atau pas lagi benenah kamar, atau pas lagi masak, atau pas lagi ngerumpi di cafe, atau abis nobar, atau abis baca komentar orang di medsos, pokok senongolnya ide, eksekusi. Kalo nongolnya pas lagi driving, ya melipir dulu cari parkiran.

Ketika ketemu waktu yang tepat, tidak ditunda, Bismillah, maka kalimat demi kalimat dapat begitu saja mengalir lancar. Tapi tidak jarang pula saya mengalami kebuntuan, mentok, akhirnya batal sharing. Beberapa tulisan, sebelumnya saya sholat dua rokaat dulu, khawatir Salah pilih kata, menyinggung orang-orang yang saya cintai, khawatir menyebar kemudharatan, efek negatif dosa jariyah. Karena semua tulisan kelak akan dipertanggungjawabkan.

Menulis, belajar menatap langit harapan.