Yakin dan Sabar ya.

Pasien kanker, keluarga, dan lingkungannya, harus sama-sama yakin dan sabar. Terapi kanker itu tidak ada yang instan. Kalo berobat sebentar langsung sembuh itu namanya bentol gigitan nyamuk. Bukan kanker. 😊

Untuk beberapa kasus IHK (imunohistokimia) tertentu, pasien kanker harus dikasih pengertian. Masa pengobatan akan panjang. Perlu stok yakin dan sabar yang banyak. Harus disiplin, tepat waktu, dan tuntas rangkaian terapinya.

Berjuang sendirian bikin cepet capek, jenuh, melelahkan. Bergabunglah dengan komunitas yang “senasib”, agar tidak merasa sendirian. Banyak pendukung, banyak cadangan energi positif.

Penting juga ini, berikan kenyamanan bagi pasien, kasih hiburan, bacaan, tontonan, makanan, transferan #ehh … dan berikan nasehat, pendapat, saran Hanya jika diminta. 😊

Ketika Saya Harus Memilih

.

13 Maret 2018.

Sejak mengetahui adanya benjolan di dada kanan, saya mengadukan keresahan pada Tuhan, ini apa? Kanker kah? Ganaskah? Pingin ke dokter, tapi dokter yang mana? Ini ‘kan wilayah sensitip. Bakalan bolak balik.. dibuka, diraba, ditrawang.. Jangan pake nyanyi bacanya. 😊

Mau bertanya sana sini, ada rasa enggan, takut jadi ribet malahan. Bertanya juga pada seorang sahabat, dia cuma menyarankan cari dokter bedah. Tapi tak sebut nama. Suamiku nanya, “Kamu mau sama dokter bedah perempuan? Kita googling yuk.”

Saya sholat istikharah, mohon petunjuk, dokter mana yang terbaik untuk saya, tolong kasih tandanya, apalah-apalah. Saya nggak tahu yang mana. Saya hanya mau konsultasi dan tindakan sama dokter perempuan, kalo bisa yang seiman.

Pertama telepon RS MMC Kuningan, tapi sayangnya Dr Farida sedang umroh, sedangkan saya pingin secepatnya “dibongkar” supaya ketauan ini tuh apa. Makin lama “si dia” bersemayam di dadaku, makin stress aku. 😊

Lewat mbah Google suamiku menemukan profil Dr Alfiah Amirudin di RS Mitra Kemayoran. Prakteknya hari Senin siang, qadarullah suami tidak bisa mendampingi saat periksa. Saya minta temenin, mama. Sebetulnya nggak tega ngasitau mama, takut nambahin beban pikiran. Tapi saya butuh banget doa beliau.

Waktu lihat ekspresi Dr Alfi ketika mengobservasi dan melihat hasil mamografi dan USG saya, ada raut prihatin di wajah beliau, “Keras, tapi masih kecil sih, semoga bukan ya. Tapi saya nggak berani biopsi. Kuatir kalo ini jenis yang ganas, kena jarum biopsi dia marah. Saran saya, operasi, pisahkan dari rumahnya, pisahkan dari sumber makanannya, baru dibiopsi.”

Selasa saya tanda tangan jadwal operasi hari Kamis jam 6 sore. Masih ada waktu dua hari dua malam, untuk kembali bermunajat, mohon petunjuk-Nya, bener nggak sih keputusan saya, atau ada opsi lain yang lebih baik, tolong kasih tandanya. Baca Quran berlembar-lembar. Sebagian simpanan logam mulia, saya infaqkan. Berharap kekuatan, kesabaran, dan pertolongan-Nya.

Saya nggak tahu apa-apa. Saya merasa tak berdaya. Saya cuma punya rasa takut. Takut salah keputusan. Tapi saya juga punya rasa yakin dan percaya Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Saya berserah. Whatever will be, will be.

Pun ketika hasil patologi dan IHK (imunohistokimia) keluar, hasilnya triple plus. Saya dirujuk ke Dr Findy KOHM (Konsultan Onkologi Hematologi Medik). Kayak mimpi, “Jadi beneran gue kena cancer nih?”

Sebelum ketemu dokter Findy, saya istikharah, mengadukan kegalauan saya, “Dr Findy galak nggak yaa, baek nggak yaa, komunikatif responsif nggak yaa, pintar empati nggak yaa, sabar nggak yaa. Ya Rabb, kasih saya kekuatan, kesabaran yang berlimpah.”

Alhamdulillah pertemuan pertama dengan Dr Findy memberi saya kesan positif. Saya merasa nyaman, bertanya apa saja dengan beliau. Masih muda, 30an. Pilihan kata-katanya cerdas, efektif menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

I trust her.

Kemoterapi adalah momok, mengerikan sangat. Tapi untuk kasus IHK saya yang “paket komplit” ini tidak ada pilihan lain. Harus kemoterapi, secepatnya.

Saya tanda tangan untuk kemoterapi pertama. Sabtu 12 Mei 2018. Dan melanjutkan istikharah, “Bener nggak sih, Ya Rabb, keputusan saya ini, atau ada opsi lain kah, mohon petunjuk-Mu, Wahai Yang Maha Mengetahui.. Hamba berserah diri.”

Begitu pun, ketika harus menjalani terapi target Herceptin 18 kali. Tiap tiga pekan, infus. Harga per ampul sekian belas jutaan. Harga yang infusan di atas 20juta per kantong. Hitung saja kalo 18 kali jadi berapa totalnya. Ya Rabb, uang sebanyak itu bisa dapet dari mana, ngga kelihatan.

Tiada daya dan kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan Allah saja. Kami tetap berjalan dengan keyakinan: Allah ngasih ujian, pasti sepaket dengan kunci jawabannya. Pikiran, ucapan, adalah Doa.

Agar selaras dengan doa, ikhtiar langit kami lanjutkan. Perbanyak rakaat sholat, perpanjang sujud, mohon ampunan, berserah pasrah. Saya perbaiki hubungan silaturahim. Sedekah, wakaf, baca Quran lagi.

Operasi. βœ”οΈ
Kemoterapi. βœ”οΈ
Radiotherapy 30x. βœ”οΈ
Targeted therapy 18x. βœ”οΈ selesai.
Sekarang sedang terapi hormon, minum dua tablet tamoxifen tiap hari, selama 5 tahun.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan mengabulkan doa semua orang yang sayang sama kami. 🀲Aamiin. 🀲

===

Ditulis ulang untuk dibagikan sebagai ungkapan syukur, terimakasih pada keluarga dan sahabat, semoga menjadi inspirasi, motivasi sesama mukmin, fastabiqul khairat. πŸ’–πŸ’–πŸ’–

HER2+++ is a blessing.

Selesai operasi 22 Maret 2018 jam 10 malam Dr Alfiah Amirudin memastikan bahwa tumor di payudara kanan saya adalah kanker. Enam pekan pasca operasi tercetak hasil IHK (immunohistokimia) jenis kanker Grade III (membelah sangat cepat), ER/PR+, HER2+++. Lampiran IHK ini mengarahkan Dr Findy KOHM (Konsultan Onkologi Hematologi Medik) menentukan treatment lanjutan untuk saya.

Awalnya, saya menolak kemoterapi dengan alasan takut efek sampingnya seperti, bolak balik ditusuk jarum infus, kemasukan obat kimia super keras, sakit, harus transfusi darah, muntah-muntah, kulit gosong, kebotakan, dan kekhawatiran tak cukup biaya. Dengan sotoynya, saya memutuskan hanya akan minum jejamuan, dan memilih pola makan rendah karbohidrat, saja.

Suami, anak-anak, ibu, om, tante, dan sahabat-sahabat saya dengan sabar membujuk saya untuk melanjutkan terapi medis. Kemoterapi, tidak seseram yang ditakutkan. Obat kemo sekarang sudah lebih canggih. Sebelum dikemo, pasien mendapat premedikasi, anti nyeri, anti inflamasi, dan anti mual. Dr Findy pun harus ulang kali menjelaskan alasan-alasan kuat kenapa harus kemo, bagaimana mekanismenya, dan perkiraan biaya.

Saya, sholat istikharah, membaca Al Qur’an, tahajud, mohon petunjuk, jalan mana yang kami harus tempuh. Bismillah, Sabtu 12 Mei 2018 hari pertama saya jalani kemoterapi di usia 45 dengan perasaan gado-gado. Harap, cemas, takut, senang karena didampingi keluarga lengkap.

Saya nggak tau apa-apa, sedangkan Allah Maha Tahu. Kalau memang medis yang terbaik, tolong kasih tandanya, saya mohon dilimpahkan kekuatan, kesabaran, dicukupkan biayanya, dimudahkan segala urusan, dan mohon perlindungan dari efek samping pengobatan yang saya jalani.

Saya mengalami efek samping kemoterapi seperti pasien lain. Mual, muntah, tapi tidak sampai mengganggu selera makan, malah berat badan sempat naik total 5 kilogram di kemo kelima. Dr Findy menyarankan ganti nasi putihnya dengan karbohidrat dari singkong yang lebih kaya serat. Warna kulitku berubah jadi lebih gelap, eksotis. Kepalaku Boxy (botak sexy). Moody, baperan, lebih sensitip, gampang melow.

Dalam sujud sholat saya ngobrol sama Allah, “Terima kasih, hadiah ini, pasti baik buatku, Engkau Maha Pengasih Maha Penyayang, tolong penuhin hati hamba dengan limpahan rasa syukur, sabar, ridha, ikhlas. Qolbun salim. Hamba mohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, dan surga-Mu. Engkau Maha Tahu yang terbaik bagi hamba.”

13 Agustus 2018, H+7 kemo kelima, suami dan saya terbang ke Jeddah untuk menunaikan ibadah haji. Selain bekal pakaian, makanan, obat-obatan, bawa bekal juga: Herceptin sebanyak dua ampul. Suhu udara di Arofah mencapai 45Β°C dan sorenya angin kencang H-1 wukuf saya sempat kena heat stroke dehidrasi, sempat diinfus tapi dua jam kemudian kembali bugar. Alhamdulillah 40 hari di Saudi tidak mengalami batuk-batuk hebat seperti umumnya jamaah haji. Allah Maha Memudahkan.

Januari 2019 hasil bone scan, bersih. Dilanjutkan radiotherapy tiap Senin sampai Jumat sebanyak 30 kali di RS Gading Pluit. Selesainya 22 Februari 2019 sempat rawat inap 3 malam karena “bandel” makan sambel sampai kena infeksi lambung.

Her2+++ is a blessing.

Dalam kesendirian saya banyak nonton siraman rohani bertema Ridha, syukur, sabar, ikhlas, berulang-ulang.
Sahabat yang jauh-jauh berkunjung menghibur saya. Mendoakan kesembuhan saya. Bawain makanan kedoyanan saya, buah kesukaan saya, nraktir jalan-jalan, maksibar, nobar, ngajibar, nyanyibar, bar-bar.. Saya berkenalan dengan ibu Aryanthi Baramuli yang berhati mulia, luar biasa mensupport para pejuang kanker via WA group CISC HER2. Ma syaa Allah doa terbaik untukmu, ibu kereeenn…

Supporter terbaik πŸ† adalah suamiku, ibuku, anak-anakku, adik-adikku, om, tante, pakde, bude, uwak, Komunitas Emak Setroong, Emak Doyan Jalan, MCC, Emak Lupa Umur, Sahabat Sehat, alumni SMAN 31 Jakarta lintas angkatan, alumni Ubepe Aqsho, alumni Turki Trip Kafilah Akbar, alumni Haji Angkatan 25 KBIH Dewan Dakwah Jakarta, warga fesbuk, IG, WhatsApp, dokter-dokter RS Mitra Kemayoran, zr ipunk dan tim, asuransi FWD, Tim Dokter Radiotherapy, zuster and bruder RS Gading Pluit, Komunitas One Day One Juz, serta ribuan sahabat nun jauh yang tak mampu saya sebutkan namanya satu per satu. Terima kasih atas segala support dan doa hebatnya. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang banyak. 🀲

23 September 2019 evaluasi pertama, hasilnya membahagiakan. Dan penampilan saya sudah mulai syantik lagii. ☺☺ Saya bersyukur banget. Betapa banyak pertolongan Allah untuk kami sampai detik ini. Segala puji bagi Allah yang dengan kehendak-Nya segala nikmat menjadi sempurna.

Saran saya bagi para pejuang, nurut kata dokter aja yaa, sabar, disiplin, banyak berdoa dan berserah. Tetap jalin silaturahim. Manajemen rasa, usahakan hati tetap rileks, woles. Baca, dengar, nonton yang lucu-lucu. Ngobrolin yang lucu-lucu. Gabung CISC agar tidak merasa sendirian. Jaga semangat tetap on fire, yaa. Salam Sehat. 😊

 photo fifisofidac-10/fifisofida-1571032280091_zps5rbux5ue.jpg.html

Mainan 🎒 rollercoaster di Thaif, Mekkah. September 2018.

 photo fifisofida--1571032340307_zps1v9fp5dl.jpg

.

.

Alisku nyaris boxy.

 photo fifisofida-1571032280091_zps5rbux5ue.jpg

.

Sedang antri Pet CT scan di RS Gading Pluit. 22 Juni 2019. Bulu mata dan rambut alisku ‘dah tumbuh lagi. 😊

 photo fifisofida-1571032183480_zpsbq76knmv.jpg

Berbagi Briyani

Jumat pagi. 05.45.
Kriiing.. Hallo…

“Assalamualaikum, Fii… “

Wa’alaikumussalam, iya Ni…

“Nganterin bocah kuliah ga? “

iyaa nganterin, nih baru masuk toll.. Kenapa Ni?

“Alhamdulillah suamiku dah sehat… Aku jadii.. ikutan distribusi Nasi Briyani, ketemuan di Graha Cijantung ya? “

πŸ†— in syaa Allah, jam 7.

===

Sehari sebelumnya, Kamis 10 Oktober 2019, qadarullah, teman-teman yang sedianya ikut menemani saya membantu distribusi Briyani, mengabarkan, berhalangan. Ada yang anaknya sakit, ada yang suaminya sakit, ada yang baru seminggu pasca kemoterapi, ada yang tugas domestic nggak dapet pengganti jagain anak-anak.

Saya putuskan, pulang kuliah bahasa Arab, meluncur, survey lokasi dan pemetaan jumlah penghuni dua Rumah Singgah CISC dan House of Hope. Berkenalan dengan pengurus dan penghuni, menyampaikan maksud tujuan, serta membuat janji untuk keesokan harinya.

Rumah Singgah CISC adalah penginapan khusus untuk pasien kanker yang berasal dari luar kota Jakarta yang dirujuk berobat ke RSCM atau Dharmais. Khusus untuk pasien kurang mampu. Alamatnya di Jalan Haji Murtado 16. Ada di aplikasi Peta Google.

Sedangkan rumah singgah House of Hope untuk pasien penyakit berat selain kanker. Tidak menerima pasien berpenyakit menular. Lokasinya di Jalan Rawa Selatan V no. 3. Kalo cari lewat google map, Jalan Rawa Selatan V no. 28. Rumah no. 3 ada di seberang no. 28. Saya share foto depan rumahnya.

===

Jumat 11 Oktober 2019, jam 06.55 sambil menunggu Hariyani Kaharudin Said

Saya mengirim pesan WhatsApp kepada Epa Aulin , “Mak, hari ini jadi? Gabung tim distribusi briyani?”

Fast response, “Jadi doung, ini saya ondawai, dari Bekasi, naik kereta. Maaf agak telat sedikit.”

Ada pesan masuk lagi dari Pipit Pitasari Djafar
“Fii… gue bisa niy, ikutan ke RSCM hari ini. Jam 8 kumpul dimana? “

Ada pesan masuk lagi dari Mak Nyayu Atika berisi foto-foto nasi briyani yang sedang mulai dikemas. Ma Syaa Allah lebih cepat satu jam dari rencana. Allah Maha memudahkan.

===

 photo IMG-20191012-WA0005_zpscmht2m4c.jpg

 photo IMG-20191012-WA0019_zpssrgvqz5b.jpg

 photo IMG_20191012_094115_997_zpsm32rn7q4.jpg

 photo IMG_20191012_094115_995_zpsuqmgbdel.jpg

 photo IMG_20191012_122947_289_zpsbkx3j637.jpg

 photo IMG_20191012_122947_301_zpssqyyyss6.jpg

 photo IMG-20191012-WA0000_zpsrs9h3gms.jpg

 photo Screenshot_20191012-060847444_zps6z7cnscp.jpg

 photo IMG-20191012-WA0017_zpsdynnjbku.jpg

Alhamdulillah.
Segala puji bagi Allah yang Maha melembutkan hati hamba-hamba-Nya, melimpahkan pertolongan-Nya, hingga 164 porsi Briyani tertunaikan secara dua shifts, pagi dan sore.

Terima kasih donatur, terima kasih Komunitas Sahabat Sehat dan Komunitas Emak Setrooongg, terimakasih Wan Syarief sekeluarga, terima kasih pak Samsul Hadi anggota DKM Asy Syifaa Jalan Kimia, terima kasih warga fesbukin, whatsappin, IG-in atas partisipasinya dalam Berbagi Briyani. Jazakumullahu khairan. Semoga Allah membalas dengan kebaikan, aamiin. 🀲

 photo IMG-20191002-WA0000_zpsgacc3mlc.jpg

Kanker? Jangan bertualang.

Dua pekan lalu bezoek teman, kenalan sama pasien sebelahnya. Masih muda, cantik. Enam bulan lalu tumornya masih kecil banget. Dokter sudah menyarankan segera operasi, radiasi, dan kemoterapi. Tapi pasien nekad bertualang minum herbal dan pakai jaket warsito. Qadarullah beberapa bulan kemudian benjolannya membesar, keadaan pasien memburuk, sampai nggak bisa jalan. Tapi tabib-tabib yang mengobatinya, meng-claim bahwa itu proses penyembuhan.

Akhirnya dibawalah kembali ke RS. Observasi, CT-scan, MRI, ronsen, USG, dan sebagainya. Kankernya sudah menyebar ke tulang dan hati, innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

===

Tadi pagi mengunjungi seorang guru ngaji, suaminya yang kanker. Bulan lalu dokter sudah menyarankan kemoterapi dan operasi. Stadium 2. Tapi pasiennya keukeuh bertualang herbal dulu. Sepekan pertama terlihat segar bugar, keluhan-keluhan seakan hilang. Masuk pekan ketiga, nggak bisa BAK/BAB berhari-hari, kesakitan, akhirnya masuk IGD, dirujuk ke bagian Onkologi RSPAD, stadium 4. 😭

===

Saya juga tahun lalu takuuutt banget dikemoterapi. Takut mati. Takut jelek. Takut ini itu anu. Bayangannya mengerikan aja deh. Tapi dijelaskan ulang-ulang oleh dokter. Kanker itu ada tiga macam kecepatan pembelahannya. Grade 1,2,3. Hasil patologi tumor saya grade 3, which is, tipe yang cepat sekali perjalanannya. Kalo istilah dokter saya, “ibuk dapet yang galak nih.. Nggak ke-uber kalo hanya pengobatan herbal dan pola makan ketofastosis. Apalagi status HER2+++ ER/PR + mumpung masih stadium 2B, dengan kemoterapi dan herceptin, angka harapan hidup bisa sampai 15 tahun dengan izin Allah.”

Saya sholat istikharah, minta petunjuk Allah, dan mungkin banyak doa dari keluarga, sahabat, guru-guru ngaji saya, keyakinan hati berubah. Malah pengen kemoterapi secepatnya.

===

Alhamdulillah, banyak hikmahnya. Banyak pertolongan Allah, haji, umroh, jalan-jalan ke Bangkok, bolak balik Bandung, Cirebon, Yogya, Padang.

Ma Syaa Allah tabarakallah.

Saya jadi pengen kampanye terus nih. Kalo ada keluarga atau teman atau kenalan, yang punya keluhan benjolan. Atau sudah didiagnosa positif kanker, apalagi grade 2,3, meskipun tumornya masih keciiiilll banget, jangan pernah nekad bertualang herbal. Langsung tindakan medis, secepatnya.

Semakin awal terdeteksi, semakin dini ditindak medis, harapan sembuhnya bisa 100%. Kalo sudah stadium lanjut, semakin kecil persentasenya. Memang ini angka hitung-hitungan manusia. Umur di tangan Allah, dan peran kita melakukan ikhtiar terbaik. Pergi ketemu dokter ahli kanker, nurutin saran beliau, perbanyak rakaat sholat, perbanyak membaca Al Quran, mohon petunjuk jalan kesembuhannya lewat mana, jangan pernah nekad sok menjadi dokter sendiri. Medis, segera, yaa. 😊

Semoga Allah melimpahkan kesehatan bagi kita semua, di sisa usia, untuk menyempurnakan ibadah. Aamiin.

Kabar menentramkan dari Dr. Findy, KHOM.

Inget gak, atau baca gak, cerita hasil PetCT scan saya?

Klik di sini.

Dua pekan kemudian, ada pesan wapri (WhatsApp jalur pribadi). Alhamdulillah sujud syukur. Dan tetap semangat berdoa dan ikhtiar. Semoga hasil thorax CT scan bulan Oktober 2019 esok, benar-benar Bersih, aamiin.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. ….. Harap-harap cemas. Sampai Okt 2019 Ψ₯Ω† Ψ΄Ψ§Ψ‘ Ψ§Ω„Ω„Ω‡

Bezoek mbak irma

Tadi pagi saya sempfet mengunjungi seorang pejuang kanker di RS MMC. Hari ini adalah kemoterapi yang ketujuh beliau, dari delapan yang direncanakan. Awalnya niat saya memotivasi. Ehh malah kebalikan. Jadi pasiennya yang memotivasi saya. Akhirnya saya lebih menikmati mendengarkan dan merenungi cerita-cerita mbak Irma. Simpulan sharing hari ini adalah..

.

1⃣ Jangan mau terprovokasi oleh “sampah” orang lain.. 😁 Contoh: kita berusaha selalu bersikap baik kepada oranglain. Tapi kadang, nggak ada angin nggak ada hujan, oranglain jutek banget ama kita. Atau, kita sudah berusaha amanah ternyata oranglain khianat, curang, dan kita yang difitnahnya. Sadari, mereka sedang melempar “sampah”nya kepada kita. Pilihan response kita, bagaimana? 😊

.

2⃣ Belajar lebih cepat memaafkan.
Adalah wajar, manusiawi banget, jika kita merasa kecewa, marah, sedih, dan energi negatif lainnya. Akibat “sampah” orang lain. Tapi jangan kelamaan kesalnya. Segala sesuatu terjadi atas “seijin” Allah. …. Diijinkan belum tentu diridhoi. ….. Yakin dan percaya bahwa, orangΒ² yg menzalimi kita, pasti akan mendapat balasan-Nya. Pasti. Walaupun mereka bertaubat dan taubatnya diterima Allah. Tapi tetap, urusan dengan manusia, ada balasan yang adil. Pasti adil. Balasan itu, bukan urusan kita. Urusan kita adalah, memaafkan mengikhlaskan. Sesegera. Secepatnya. Kadang memang berat yahh. Semangat πŸ’ͺlatihan terus.

.

3⃣ Bersyukur setiap hari. Contoh: sedang kehilangan nafsu makan 1 kg putih telur, ingatlah, banyak orang di luar sana, sehari belum tentu bisa makan sebutir telur. Sepekan juga belum tentu makan bergizi. Ini sudah terhidang, tinggal masuk mulut, kunyah, telan. Bersyukur masih bisa menelan makanan. Masih bisa mengecap aneka citarasa, manis, asin, pedas, dsb. Bersyukur masih punya gigiΒ² yg kuat mengunyah.

Kemudian… Bersyukur atas nikmat yang mana lagi? 😊 Kalau dihitung-hitung, sampai habis air laut pun, tak ‘kan mampu lah menghitung karunia-Nya atas diri ini. Alhamdulillah wa Ma Syaa Allah πŸ’–