Istighfarnya Para Nabi

Meskipun para nabi dan rasul telah dijaga oleh Allah dan tidak memiliki dosa, serta memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah SWT, namun mereka tetap tawadhu dan selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Allah SWT melalui doa-doa dan istighfar yang mereka panjatkan.

Istighfarnya mereka juga sebagai syiar dakwah untuk mengajak kaumnya kembali kepada Allah Swt. Setiap nabi dan rasul memerintahkan kaumnya untuk selalu beristighfar kepada Allah SWT. Atas istighfar yang dipanjatkan, Allah limpahkan rahmat dan ampunan-Nya, sehingga mereka hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan.

Baca lebih lanjut

Ketika melockdownkan diri.

Apa yang bisa kita lakukan / kaum muslimin. Ketika melockdownkan diri. Selain aktifitas harian yang wajib?

Berikut ini pilihannya:

===

Taubatan Nasuha

QS Al-Baqarah 2:222
إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ التَّوّٰبِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

===

*Memperbaiki Kualitas Sholat Wajib dan Memperbanyak Sholat Sunnah*

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,

-Surat Al-Baqarah, Ayat 45.

Sempurnakan ruku’ dan sujud sesuai ilmu fikih. Perpanjang ruku’ dan sujud. Tantangan terbesar adalah mempertahankan Khusyu’ dari takbirotul-ihrom sampai salam.

Sunnah Fajar sebelum Subuh.

Dhuha 12 rokaat, sampai 300 rokaat (Imam Syafii)

Ba’diah Qobliah Dzuhur, masing-masing 4 rokaat.

Qobliah ‘Ashar

Ba’diah Magrib

Qobliah dan Ba’diah ‘Isyaa

Witir sebelum tidur.

Qiyamul lail / tahajjud. 8-20 rokaat.

===

Dzikir pagi petang / alma’tsurat.

===

*Perbanyak membaca Al Quran*

اقرأ القرآن فإنه ياتي يوم القيامة شفيعاً لأصحابه

“Bacalah Al Quran, sesungguhnya ia pada hari kiamat akan datang menolong pembacanya.”- hadits riwayat Muslim.

Minimal satu hari satu juz.

Pakai Quran mushaf Madinah / rosm utsmani / sistim pojok.

Aplikasi *Quran For Android*

Satu juz 20 halaman, bisa dibagi lima, atau dibagi sepuluh.

Sebelum dan setelah sholat, masing-masing 2-4 halaman.

Allohumma paksa-in 💪

Menambah hafalan, dan murojaah hafalan.

===

Perbanyak dzikir, istighfar, sholawat, tasbih, tahmid, dan mohonkan perlindungan Allah atas keluarga, kaum muslimin seluruh dunia dari berbagai fitnah, bala, musibah, penyakit, dan hal-hal yang tidak diinginkan.

===

Perbanyak sedekah (harta, ilmu, amal).

Membaca buku. Memperluas wawasan keislaman dan kesehatan.

Ngobrol asyik dengan keluarga (biasanya sibuk kegiatan masing-masing). Masak bareng. Nonton bareng (di rumah). Olahraga bareng. Bebersih bebenah bareng. Dan sebagainya.

===

Berserah diri.

Wallahu’alam bish showab.

Menghadapi si Clean-Freak

“Kalo dateng duluan, angkatin dong papan hijabnya, papan tulisnya. Nyalain lampu, nyalain AC.” Bla bla bla.

Tiap pekan itu nenek rewel banget, dah. Herannya cuma ama gue aja ngomelnya. Padahal gue dateng lampu ‘dah nyala. AC sengaja nggak dinyalain, jam 6 pagi kan udara masih adem, hujan pulak. Papan tulis udah pada tempatnya. Mana eike tauuk, ustadzahnya mau tu papan berubah posisi. Dan yang lebih muda juga udah responsif langsung bantu mindahin sesuai yang dimauin ustadzah.

Dua kali, aja. Pekan lalu. Si nenek negor gue, ngomelin hal yang sama. Gue “iya-iyain” maklum nenek-nenek. Sebetulnya belum terlalu tua juga sih. Palingan umurnya lima puluhan sekian. Tapi tatapan matanya itu intimidating sekali.

Tadi pagi gue udah ngumpet, males banget. Ehhh pas pulangnya diye mepet di tangga, senyum-senyum. Gue senyum juga doung. Kirain udah ganti topik. Lahh nyerocos lagi urusan yang sama.

Kebelet pipis, ngegas lah gue, “Bukk…. saya ngga suka ya, ibu ngomelin saya soal ngerapihin papan tulis, papan pemisah ruangan, nyalain AC, nyalain lampu. Kita belom saling kenal, kan. Ibu nggak paham kan, kalo tangan saya nggak boleh ngangkat beban berat. Kelas saya sudah rapih. Kalo tidak sesuai standar kerapihan ibu, kenapa bukan ibuk aja yang ngerjain? Lagian temen-temen saya juga enggak ada yang keberatan. Kok ibuk yang berisik? Ibuk bukan majikan saya, jadi jangan seenaknya nyuruh-nyuruh. Ini sudah ketiga kali ya bu. Saya bisa panjangin urusan ini kalo ibuk masih aja resek.”

Ibu, “Ohhh iyaaa maaf kalo gitu.”

Saya, “Assalamu’alaikum!”

Ibu, “waalaikumussalam.”

###

Wahai emak-emak yang clean-freak, tidak semua orang berkenan klean mandorin. Kalo mau ngedikte atau nyuruh-nyuruh, liat-liat orangnya.

Ngajak gotong royong kerja bakti aja ada seninya. Kenal baik dulu sama orangnya. Ngobrol. Tumbuhkan rasa nyaman dan saling respek. Pilih kalimat yang positif. Ketiga, timingnya. Gilak aja tiap ketemu ngomelin gue hal yang sama.

Kolam renang, mana, kolam renang!

#

Gue sedang nggak butuh nasehat, sok iyee, “Sabar ya.”

Telen ajaa, tuh papan tulis.

Tanggap Covid-19

Sel kanker, virus, bakteri, mereka semua termasuk makhluk Allah juga, yang bertasbih memuji Penciptanya. Baca Quran Surat Al Israa’ ayat 44.

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”-

Sura Al-Isra’, Ayat 44.

Hamba-hamba Allah ini hanya bisa membuat manusia jatuh sakit, atas kehendak Allah juga.Allah – lah yang memilih, siapa yang kena, siapa yang enggak. Sebagai petunjuk, ujian, pembeda, mana golongan yang ingkar, mana yang beriman.

Orang-orang beriman menyikapinya dengan cara kembali pada tuntunan syariat, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, makan minum halalan thoyyiban, dan istirahat pada waktunya.

Bersedekah dapat menolak bala. Berpuasa dan membaca Al Quran dapat menenangkan hati dan meningkatkan level imunitas. Menjaga wudhu, dapat menggugurkan dosa dan mengangkat derajat di sisi Allah.

JANGAN mendatangi tempat dimana wabah penyakit sedang melanda. JANGAN berenang dulu di kolam renang umum sampai issue corona hilang. Tetap berolahraga, di tempat aman, rumah sendiri, misalnya. Video tutorials banyak di youtube.

 

Patuhi imbauan pakai perangkat sholat pribadi ketika sholat di Masjid / musholla public area seperti bandara, stasiun, terminal bus, dan sebagainya. Pakai sajadah dan mukena sendiri ya Mak.

Mintalah pertolongan dan perlindungan kepada Yang Menciptakan penyakit, Allah Azza wa Jalla..

Semoga Allah selalu melindungi kita dan anak cucu keturunan kita semua, dari berbagai fitnah, bala, musibah, penyakit, dan hal-hal yang tidak diinginkan. 🤲 Lalu bertawakallah, apapun takdir yang Allah ijinkan terjadi atas kita, adalah yang terbaik. Wallahualam bish showab.

Menulis, ngingetin diri sendiri.

 

Hidayah, perlu diperjuangkan

SMA dan kuliah saya pernah punya teman akrab, yang saya respek banget, karena dia cerdas, tekun belajar, rajin sholat, rajin baca Quran, cantik, tutur katanya adem, tapi kocak juga, nyaris sempurna. Belum berhijab aja.

Qadarullah di akhir masa perkuliahan, masing-masing kami sibuk dengan tugas akhir dan mulai berburu lowongan pekerjaan.

Pada suatu malam, dua orang teman (akrab juga) menelepon saya ingin bertemu dan ngobrol sesuatu yang penting. Singkat cerita berkunjunglah mereka ke rumah saya.

Mereka menceritakan, sahabat kami yang super keren itu, dikasih Allah ujian hidup yang bikin imannya oleng. Dia murtad, dan menikah dengan seorang laki-laki asal Bali, kemudian mereka berdua melanjutkan sekolah ke luar negeri.

Kami sudah berusaha menahannya tetap kuat, tetap muslim, tapi keputusannya mantap. Mindsetnya berubah liberal banget. Saya sempfet puyeng. Nyesek, bray. Tapi, hidup ini adalah tentang pilihan. Allah ajaa ngebebasin, siapa mau kafir silakan kafir, siapa mau beriman ya beriman aja.

Kami tidak bermusuhan. Hubungan kami selama ini tetap baik.

###

Jaman digital sekarang informasi apapun sangat mudah diperoleh, dalam bentuk tulisan dan rekaman video. Termasuk informasi tentang bagaimana iman Islam. Saya pikir nggak perlu kita menggurui seseorang. Cukup tampilkan saja akhlak iman Islam dan doakan.

###

Apa yang kita baca tiap hari, apa yang kita dengar tiap hari, dan dengan siapa kita berinteraksi tiap hari, sedikit banyak pasti mempengaruhi mindset kita, mempengaruhi cara berpikir, keyakinan, sugesti, dan keadaan hati yang mudah terbolak-balik.

###

Wahai diri, ingatlah… Waktumu cumi, hartamu cumi, ilmumu cumi, fisik yang sehat juga cumi, segala kebanggaanmu tentang dunia, cuma minjem. Pilihan kita, ini semua pinjeman mau dipakai untuk apa. Terserah kita. Dan kelak ada saatnya, pertanggungwaban. Suka nggak suka. Percaya nggak percaya.Hidayah itu dicari, diminta, dan diperjuangkan dipertahankan. Hidup ini hanya sekejap. Engkau sakit, engkau kecewa, terluka, itu cuma sebentar. Tetaplah genggam bara itu. Tahaaann, sabar, ridha. Tidak mudah, maka hadiahnya surga. Kalo gampang paling hadiahnya kipas angin.

Menulis, ngingetin diri sendiri.

 

Pasien Menolak Kemoterapi?

Sama, dulu juga aku menolak kemoterapi karena percaya dengan testimoni pasien-pasien yang (mengklaim) sembuh dengan hanya mengubah pola makan dan minum obat herbal, air rebusan daun sirsak, sarang semut, kunyit putih. Hampir juga aku pakai jaket dokter Warsito.

Di depan ruang tunggu dokter Findy, KHOM saya masih menyusun kalimat-kalimat penolakan. Alasan mau hajian lah, mau ini lah, mau itu lah. Tapi berkat doa emak gue, doa suami gue, anak-anak, doa dari mentemen yang paham bahwa terapi medis masih yang terbaik dan aman.

Diskusi satu jam lebih di ruang periksa. Dokter Findy berhasil meyakinkan saya, it’s gonna just fine in-syaa-Allah.

Protocol kemoterapi dibikin seaman mungkin, menyesuaikan status IHK (imunohistokimia) saya, menyesuaikan berat dan tinggi badan saya, ada premedikasi untuk meminimalkan efek samping tapi juga diharapkan efektif menghentikan perjalanan si caca, dan memberikan kualitas hidup lebih baik.

Dalam perjalanan siklus kemoterapi saya mendapat banyak teman baru yang senasib yang cerita, mereka sempat bertualang ke pengobatan alternatif, jaket Warsito, minum jamu Sinse, air rebusan tanam-tanaman tersebut di atas, dan mantangin banyak jenis makanan. Hasilnya? Qadarullah naik stadium. Karena jenis kankernya Grade III (galak, gesit). Nggak terkejar kecepatan penyebarannya.

Sebaliknya, ada juga cerita, pasien sudah kemoterapi, baru tiga kali sudah menyerah ngga kuat efek sampingnya. Akhirnya berubah arah, minum jamu godokan aja. Sembuh juga dengan ijin Allah. Kita tidak tahu lewat obat-obat yang mana Allah ngasih kesembuhan. Bisa jamu, atau dari kemoterapi yang tiga kali, atau gabungan keduanya, atau gabungan semua ikhtiar.

Satu hal yang saya hindari. Berobat ke “orang pintar” gaje.
Ngeri aja, takut diselipin makhluk ghoib, terus gue jadi tergantung ama dia, bolak balik mulu pen ketemu dia. Naudzubillahi min dzalik.

Gue kepingin sembuh, tapi pilih ikhtiar yang Allah ridho aja lahh.

Saya lebih yakin dan percaya: baca Quran berjuz-juz, abis itu tiup dua telapak tangan, usap-usapin ke seluruh badan dari kepala sampe kaki. Kerjain aja sendiri.

Saya lebih yakin dan percaya, sedekah jorjoran ke anak yatim dhuafa penghafal Quran, dari pada sedekah ke “orang pintar” walaupun banyak testimoni pasien yang bilang sembuh. No, thanks. 😊 Pertanggungjawabannya nanti di akherat, berat Mak.

Enaknya kemoterapi, saya boleh makan apaan aja, nggak ada pantangan, kecuali makanan yang dibakar dan kalengan. Eskrim, boleh. Dark chocolate, boleh. Daging merah disoto, boleh. Buahan, sayuran, apaan aja boleh sebanyak-banyaknya.

Selesai kemoterapi, baru dehh, banyak mantan. 😊

“Masih kemo, Fi? “

Alhamdulillah sudah selesai 11 Mei 2019. Sekarang tinggal maintenance. Kontrol per tiga bulan, kadang periksa darah lengkap, kadang USG.

“Elo kuat ya, kemoterapi ‘kan dahsyat banget.”

La haula wala quwata illa biLLah. Gue pasrah aja. Kalo mau dijemput pulang, semoga Allah beri husnul khotimah, semoga lakik gue ridho, semoga emak gue ridho. Kalo dikasih kesempatan kedua, gue minta sepaket dengan pertolongan Allah juga, istiqomah dalam taat.

Alhamdulillah lima kali kemoterapi pertama, walaupun ada efek samping mual muntah, tapi selera makanku relatif stabil, kalap, berat badanku naik lima kilograms. Dokter KHOM sampai nyuruh ganti, nasi putih, dengan singkong. Beliau ngingetin, jangan kebanyakan naik berat badan.

Alhamdulillah doa emak, suami, anak-anakku, maqbul. Doa sahabat-sahabat dan orang-orang sholeh/sholehah, maqbul. Jazakumullahu khairan.

Tiga kali kontrol hasilnya bikin dokter KHOM saya, tersenyum, dan wanti-wanti,”Jaga makan ya bu. Olahraga ya bu. Manajemen stress. Tetap sehat ya bu. Kurangi kerjaan dokter. ” 😊

Siap Dok, in syaa Allah.

Thank God I’m now a survivor. Coret mikirin hal-hal gak penting. Devaluasi orang-orang yang bawa pengaruh negatif. Banyak jalan-jalan, banyak baca Quran, banyak puasa, banyak berbagi, banyak ngobrolin dan nonton yang lucu-lucu.

Tadi pagi di kolam renang kenalan sama nini-nini tiga orang. Berenangnya masih kuat-kuat, ma syaa Allah, ada kali 20 rit dalam 75 menit. Selesai bilas dan keramas, sambil oles-oles body butter, kepo, saya tanya,”Berenang rutin berapa kali sepekan bu? Sejak kapan bu? ”

Saya berenang mulai umur 30an, tapi benar-benar rutin tiap Senin, Rabu, Jumat, udah pasti ‘Nak, sejak umur 50an.

“Sekarang usia berapa bu?”

74.

“Ma Syaa Allah pantesiin keren banget, napasnya bagus bu.”

Alhamdulillah, mari ‘Nak, ibu duluan.

“Silakan bu, sampai ketemu lagi, in syaa Allah. ”

Mereka bawa tas geret. Bukan handbag atau ransel, lagi. Mengingat usia rawan lower back pain.

Pulang berenang saya mampir Pasar Pagi Rawamangun, belanja biang kunyit, jahe, sereh, jeniper. Sampe rumah seduh bentar. Ultimate water, tambahin garam himalaya dan madu. Habis, segelas. Nyeduh lagi, daun kelor, buat diminum nanti maghrib. Besok mau nyeduh daun sirsak. Selang selling, ama infused water habbatussauda, saffron, kayumanis. Kalo sayuran buahan selagi mampu, saya ganyem. Kalo bosen, dijus, tinggal telan. 😊

Cheating?

Masih seriiing. 😆

Disyukuri saja, dan dibatasi. Diyakini saja, bahwa, bukan makanan yang bikin sakit. Tapi QadaruLLah.

Cancer, adalah makhluk ciptaan Allah, dia hanya bisa membuat kita sakit, atas kehendak Allah. Kalo sakit, sunnatullahnya, berobat, ketemu dokter yang bertahun belajar pengobatan kanker. Kemoterapi hanya wasilah. Banyak pasien sembuh atas ijin Allah, ada juga yang berpulang (karena sudah waktunya pulang).

Banyak sahabat yang mengingatkan saya, Fi banyak-banyak berdoa, utamanya memohon ampunan Allah. Cancer, bukan hukuman, tapi peluang mendapatkan syafaat dan maghfirah-Nya. Apa sih, yang sebenarnya kita butuhkan?

.

Ma Syaa Allah tabarakallah.
Her2+ is a blessing.
Writing is healing.
Menulis, belajar berdamai dengan takdir. Berdamai dengan kanker.