Kabar menentramkan dari Dr. Findy, KHOM.

Inget gak, atau baca gak, cerita hasil PetCT scan saya?

Klik di sini.

Dua pekan kemudian, ada pesan wapri (WhatsApp jalur pribadi). Alhamdulillah sujud syukur. Dan tetap semangat berdoa dan ikhtiar. Semoga hasil thorax CT scan bulan Oktober 2019 esok, benar-benar Bersih, aamiin.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. ….. Harap-harap cemas. Sampai Okt 2019 إن شاء الله

Bezoek mbak irma

Tadi pagi saya sempfet mengunjungi seorang pejuang kanker di RS MMC. Hari ini adalah kemoterapi yang ketujuh beliau, dari delapan yang direncanakan. Awalnya niat saya memotivasi. Ehh malah kebalikan. Jadi pasiennya yang memotivasi saya. Akhirnya saya lebih menikmati mendengarkan dan merenungi cerita-cerita mbak Irma. Simpulan sharing hari ini adalah..

.

1⃣ Jangan mau terprovokasi oleh “sampah” orang lain.. 😁 Contoh: kita berusaha selalu bersikap baik kepada oranglain. Tapi kadang, nggak ada angin nggak ada hujan, oranglain jutek banget ama kita. Atau, kita sudah berusaha amanah ternyata oranglain khianat, curang, dan kita yang difitnahnya. Sadari, mereka sedang melempar “sampah”nya kepada kita. Pilihan response kita, bagaimana? 😊

.

2⃣ Belajar lebih cepat memaafkan.
Adalah wajar, manusiawi banget, jika kita merasa kecewa, marah, sedih, dan energi negatif lainnya. Akibat “sampah” orang lain. Tapi jangan kelamaan kesalnya. Segala sesuatu terjadi atas “seijin” Allah. …. Diijinkan belum tentu diridhoi. ….. Yakin dan percaya bahwa, orang² yg menzalimi kita, pasti akan mendapat balasan-Nya. Pasti. Walaupun mereka bertaubat dan taubatnya diterima Allah. Tapi tetap, urusan dengan manusia, ada balasan yang adil. Pasti adil. Balasan itu, bukan urusan kita. Urusan kita adalah, memaafkan mengikhlaskan. Sesegera. Secepatnya. Kadang memang berat yahh. Semangat 💪latihan terus.

.

3⃣ Bersyukur setiap hari. Contoh: sedang kehilangan nafsu makan 1 kg putih telur, ingatlah, banyak orang di luar sana, sehari belum tentu bisa makan sebutir telur. Sepekan juga belum tentu makan bergizi. Ini sudah terhidang, tinggal masuk mulut, kunyah, telan. Bersyukur masih bisa menelan makanan. Masih bisa mengecap aneka citarasa, manis, asin, pedas, dsb. Bersyukur masih punya gigi² yg kuat mengunyah.

Kemudian… Bersyukur atas nikmat yang mana lagi? 😊 Kalau dihitung-hitung, sampai habis air laut pun, tak ‘kan mampu lah menghitung karunia-Nya atas diri ini. Alhamdulillah wa Ma Syaa Allah 💖

PetCT scan

11 Mei 2019. Alhamdulillah herceptin ke-18 selesai dengan lancar. Dokter Findy merujuk saya untuk melakukan evaluasi hasil treatment setahun terakhir ini dengan teknologi pemindaian yang dinamakan, PetCT scan.

Pengalaman Pertama PetCT.

Apakah PetCT scan itu? Teknologi pemindaian, untuk mengevaluasi treatment selama setahun terakhir, untuk mengetahui apakah masih ada sisa atau sudah bersih.

Kapan?

Setelah selesai semua rangkaian kemoterapi dan radiasi.

Dimana?

Setahu saya di Jakarta ini ada di RS Dharmais, RS MMCCC Siloam Semanggi, dan RS Gading Pluit Jakarta Utara.

Karena tidak dikaver BPJS maka saya memilih PetCT di Gading Pluit, dengan alasan: paling dekat dengan rumah, sudah kenal baik nyaman dengan dokter-dokternya, dan antriannya juga lebih sedikit, lebih cepat dapat jadwal tindakan, dan boleh pilih dokter yang kita merasa lebih nyaman (ini penting buat saya). Harga paket PetCT di RS Gading Pluit ini Rp 13,5juta. Ya, mahal banget. Teknologinya yang paling baru. Pasien dari Bandung, Palembang, Medan, Aceh dirujuk ke RS ini karena di Penang belum ada PetCT.

Hari Rabu dapat jadwal wawancara dengan spesialis kedokteran nuklir, dr. Aulia Huda Sp KN, dan beliau lah yang saya pilih untuk membaca hasil-hasil PetCT.

Jumat subuh saya mulai puasa. Tindakan pertama jam 10, saya masuk kamar khusus, pakai baju khusus, pasang jarum infus, ada 3 gelas air @240ml (yang sudah dicampur obat) saya diinstruksikan minum segelas tiap 10 menit. Disuntikkan obat lagi lewat infusan 15 menit sebelum masuk “kapsul” PetCT.

Selama di dalam kapsul TIDAK boleh bergerak, napas harus rileks selama 45 menit, dan 3 menit sebelum selesai kembali disuntik cairan kontras yang rasanya panas di sekujur badan.
Keluar ruang PetCT, saya dikasih makan siang segabruk. Cabut infus. Selesai.

Belum boleh berdekatan dengan bayi, balita, dan ibu hamil, karena tubuh saya menyebarkan radiasi nuklir, yang luruh dalam 24 jam. Suami inisiatif sewa kamar di sebuah hotel di Cikini, khawatir pulang ke rumah banyak ponakan / anak-anak tetangga. Jadi, satu malam, diisolasi dulu saiyah. Perlu banyak-banyak minum air putih untuk mempercepat peluruhan obatnya.

Rasanya? Campur aduk, tapi selama total 2,5 jam tindakan, modal saya dzikrullah, dzikron katsiron. Ala bidzikrillah tatmainnul qulub.

Rabu, 26 Juni 2019 dengan pedenya nyetir sendirian ke RS Gading Pluit, ambil “rapor” PetCT. Saya ini kan orangnya kepo banget yaa. Nekad saya buka dooung. Saya baca-baca. Hah?!? Metastasis kelenjar getah bening kiri dan dua paru-paru?!? Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Badan langsung gemeteran, nangis hampir sejam di parkiran. Ya Allah limpahi hamba kekuatan, ketenangan hati, keselamatan sampai di rumah.

Istighfar terus sepanjang sisa hari. Shalat taubat. Ngadu: aku ‘dah nurut saran dokter, nurut suami, nurut emak, jaga makan, olahraga, udah berdoa tiap hari. Yakin Allah telah beri kesembuhan, bersih dari kanker. Tapi…

Tapi kalau ternyata Allah berkehendak lain, yang aku minta kemudian adalah, dilimpahi kekuatan, kesabaran, rasa Ridha, menerima dengan Syukur yang hebat.

Keesokan harinya, sudah lebih tenang. Berusaha bersangka baik kepada Allah, misi saya belum selesai. Malamnya diskusi sama Dr Findy. Beliau baca teliti buku rapor PetCT scan aku. Beliau belum berani sepakat dengan analisa Dr nuklir bahwa ini metastasis. Karena….

Karena, di payudara kanan dan kiri, bersih, tidak ada benjolan. Jadi alarm nyala di kelenjar getah bening kiri, belum bisa dipastikan metastasis. Ada kemungkinan infeksi bakteri atau virus.

Kalau pun banyak terjadi kasus metastasis paru, itu kejadiannya di bagian yang sama. Kalo kankernya di kanan, biasanya paru kanan dulu yg kena, di petCT terlihat lebih luas nyala-nya, dibanding kiri.

Sedangkan di rapor aku, kanan kiri rata seimbang, berupa titik-titik. Ukurannya kecil banget. Maka…

Maka….
Buku rapor aku dibawa dulu, untuk dipakai diskusi dengan dokter lain sebagai Second Opinion.

Ya. Harus. Second opinion.

Saya disuruh makan makanan bergizi tinggi: putih telur, buah, sayur, ikan. Tidak boleh makan daging merah sama sekali. Tidak boleh gorengan sama sekali. Olahraga yang disarankan adalah, isometric, yoga, pilates, atau berenang. Wajib tiap hari 30 menit.

Bulan September in syaa Allah CT scan ulang di RS Mitra, saja. Semoga hasilnya bersih, aamiin Ya Mujib, Ya Syafi.

Kenapa saya keluar dari beberapa wa group?

Karena saya butuh waktu menenangkan diri dulu. Butuh space buat kontemplasi. What next.

Mohon maaf belum menjawab komentar, pertanyaan, saran, rekomendasi, DM, japrian, waprian.

Saat ini saya sedang mengutamakan rasa nyaman, rileks dulu, untuk bisa melihat peluang-peluang, pilihan-pilihan ikhtiar yang semoga diridhoi Allah.

Jangan kuatir.

Saya masih tetap semangat menempuh ikhtiar terbaik dengan yakin, percaya, dan tawakkal.

Terimakasih atas perhatiannya, doa dan support hebat tiada batasnya. Saya tidak ingin mengecewakan kalian, kesayangan-kesayanganku. Senyom dolo, dooung…

Anakku pernah kejang.

Tahun 2001-2002 saya lupa persisnya bulan apa, si bungsu sempat mengalami demam 38 dan kejang dua kali. Pertama kejang di rumah. Kedua kejang di hadapan dokter.

Sebagai emaknya merasa kecolongan, menyesalnya berbulan-bulan. Tiap ingat saat kejangnya saya nangis, marah, benci sama diri sendiri. Kenapa sih saya selalai seabai itu.

Waktu curhat sama seorang sahabat putih-abu, Budi Nursusilowati cerita, “Fi kamu inget ga, kita punya teman, namanya Erika? ”

Saya: iya, kenapa?

Budi: Menurut kamu dia pinter ga?

Saya: Ya iya lahhh pinter banget….

Budi: Dia juga dulu kecilnya pernah kejang. Menurut literatur yang kubaca, kejang itu ada dua macem. Step-Down (mengakibatkan menurunnya kecerdasan). Ada juga Step-Up, anak jadi pinter. Sekarang Raihana umurnya berapa?

Saya: Setahun.

Budi: Masih dalam masa Golden Age. …. Kalo menurut gue, doain aja Raihana jadi anak yang sholehah, sehat, cerdas, dan loe konsisten kasih protein tinggi. Susu, ikan, telur, keju. Untuk pembentukan sel. Kalau pun ada yang terganggu efek step semoga cepat recover.

Saya berterimakasih atas masukan yang menentramkan ini. Saya nurut. Tiap sholat, tiap sujud, tiap tahajud, saya doain terus, kedua anak saya, tetap sehat, berkembang normal, sejahtera, sholehah, taqwa, segala urusannya dimudahkan Allah.

Saya perhatikan betul-betul asupan gizinya, dan perkembangan panca inderanya. Tiada hari tanpa menyanyi bersama, mendengarkan murotal Quran, bermain. Rumah berantakan, bodo amet.

Umur 3 tahun belum juga nih anak bisa ngomong. Udah diTes, panggil namanya, “Raihana, susu nih.” Nengok sih. Nyamperin. Berarti nggak ada masalah dong, pendengarannya. Tapi nggak satu kata pun yang kami ajarkan, keluar dari mulutnya. Bukankah anak umur segini lagi seru-serunya membeo? Hadeuh, galau lagi si emak. Waktu itu masih jahiliyah, saya sempfet bawa ke dukun, dijampe, disembur. Astaghfirullah! O-on-nya gue, mak.

Sekitar dua bulan sebelum ulangtahunnya ke-4 baru keluar dua kata: Susu, dan Sa-id (sakit maksudnya). Bukan “mama” atau “papa”. Apalagi “ibu”.

Kami masukkan lahh ia dalam kelompok bermain. Lanjut ke TK. SD. Kami nggak pernah berharap yang muluk-muluk. Asal bocah ini senang dalam proses KBM, cocok dengan guru, cocok dengan teman, sudah cukup. Seingat saya, dia benar-benar lancar bicara di usia hampir 5 tahun.

Alhamdulillah mulai kelas dua esde hingga lulus, tiap semester hasil rapornya selalu masuk Top Two. Prestasinya tak hanya di kelas. Aneka lomba yang diikutinya, juga menghasilkan prestasi yang Alhamdulillah.

Masuk pesantren Darul Quran Mulia SMP IT ia mulai menghafal Quran, ini pun, nggak muluk-muluk. Sebagai lulusan SD negeri, kami cukup tahu-diri. Nggak ada target harus hafal sekian juz dalam satu semester. Saya selalu berpesan, “Have fun.”

Dalam organisasi dan events yang dibuat sekolah, dia sering menjadi humas, bawa proposal, presentasi dari kantor ke kantor. Dalam ajang MTQ tingkat provinsi dan Nasional, ia dipercaya masuk kategori Tafsir Bahasa Arab. Dan rezekinya Juara Dua MTQ & STQ Nasional 2016, 2017, 2018. Ma syaa Allah. Tabarakallah.

Alhamdulillah sekarang anak ini kuliah semester dua LIPIA. Kampus impian calon guru agama, calon ahli tafsir, dosen-dosennya native speaker, lulusannya banyak diburu lembaga pendidikan berkualitas. Kuliahnya gratis, dapat uang saku pulak. Tentu saja tidak mudah perjuangannya masuk sini. Ada kerja keras marathon, pengorbanan, doa-doa panjang dan airmata. Ma syaa Allah. Tabarakallah.

Semoga cerita ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi para mahmud (mamah-muda). Manfaatkan masa Golden Age putra putri kita semaksimal mungkin yang kita mampu. Doakan terus anak-anak kita. Lakukan yang terbaik. Harapkan yang terbaik saja. Dan tawakkal, berserahlah hasilnya kepada Allah Sang Maha Pengatur. Allah Karim.

Lokasi: RS Hermina Depok.
Bezoek ponakan yang demam efek virus. Mohon doanya, yaa. 🙏

The Best Supporters

Kalo dibilang nggak pernah ngeluh, salah banget. Saya adalah orang yang rewel, berisik, nyebelin, ketika merasakan ketidaknyamanan efek pengobatan setahun terakhir ini. Gremet-gremet, bagaikan abis berenang 20 rit setelah 2 tahun nggak olahraga sama sekali. Sakit-sakit ototnya kan? Pengen dipeluk tapi kesenggol dikit aja nyeri lebay. Sembelit, atau diaree. Ketambahan morning sickness. Mual, muntah, keliyengan, nyesek. Nggak cuma di pagi hari, tapi sepanjang hari.

.

Level toleransi terhadap rasa sakit, bisa dibilang rendah. Apalagi ketika jarum masuk dalam vena terus dibelok-belokin, itu saya bisa ngucap tahlil kenceng-kenceng sampeee jarum dicabut. And then, saya nangis minta paramedis yang jagoan ajaa yang nusuk.

.

Ya.. saya baper, sensi, kalo ada orang yang sehat walafiyat, nggak pernah dikemoterapi & radiotherapy, tapi ngasi nasehat, “Sabar ya. ” Beuh… Erosi, inyong.

.
.

Bersyukurnya, aneka rasa tidak nyaman ini ada siklusnya. Ada hari-hari normal sehat saya bisa petakilan. Antar jemput anak kuliah. Duduk nyimak kajian. Kopdar di Bandung. Gabung Aksi Bela Islam di Monas, pelatihan jurnalistik di Hambalang. Nemenin emak ke Bangkok. Alhamdulillah.

.

Bersyukurnya, Allah melengkapi hidup saya dengan the best supporters, suami dan anak-anak yang luar biasa sabarnya. Ma syaa Allah tabarakallah. Saya sangat yakin dan percaya, doa-doa keluarga, sahabat, handai taulan yang tulus menyayangi saya, telah menjadi wasilah, datangnya pertolongan Allah, kemudahan segala urusan, kekuatan bagi saya menjalani terapi hingga detik ini.

.

Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmush shalihaat. Terima kasih dukungan dan doanya. Mohon maaf lahir bathin. Ma syaa Allah. Tabarakallah.

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Tutorial daily make up

Masih suka nonton tutorial daily make up. Terasa manfaatnya ketika, sempfet mengalami kebotakan hingga di bagian wajah. Efek samping kemoterapi.

Bagi saiyah, polesan make up bisa mengubah mood. Lebih positif, lebih semangat menjalani aktifitas. Males banget jawab pertanyaan, “Kok pucet sih? Sakit ya? “

Mindset Saiyah

Kemarin saya nyimak nasehat Dr Mirna (spesialis ongkologi radiotheraphy) mengenai diet / pola makan. Beliau bilang, selama masa terapi, baik itu kemoterapi, pun radiotheraphy, makan apa saja, bebas. Merdeka.

Setelah selesai masa terapi, kembali ke pola makan gizi seimbang. Banyak sayuran, buahn-buahan, air, karbohidratnya maksimal 50% tergantung berat badan juga. Olahraga juga menjadi Menu WAJIB 2-3 kali seminggu. Olahraga yang ringan seperti berenang, yoga, senam pernafasan, sepeda santai, jalan kaki.

.

Kelola stress.
Selama masih hidup kita tidak mungkin menghindar dari stress / masalah. Meditasi, sembahyang, akan membuat pikiran lebih rileks.

Saya memahaminya sebagai terjemahan surat Al Baqarah ayat 45, perbanyak sabar dan sholat, dan surat Ar Ra’d ayat 28 perbanyak mengingat Allah, dzikir, membaca Al Quran, yang membuat hati menjadi lebih tentram.. Pasrah. Berserah, dan tetap semangat ikhtiar sehat.

……….

Saya sering mengingatkan diri sendiri. Hidup ini cuma numpang lewat. Sakit atau sehat, tetap saja kita pasti mati. Sekarang yang penting kita bersangka baik kepada Allah, yang ngasih ujian ini, pasti baik, pasti baik, baik buat kita, baik buat keluarga, baik buat teman-teman.

Kalo lagi “lempeng bener” saya bisa merasa bersyukur banget dikasih ujian kayak gini, berharap dosa-dosa diampuni, dibersihkan, sebersih-bersihnya. Bersyukur dikasih peluang dikabulkannya doa-doa. Aji mumpung. Jadi berdoalah sebanyak-banyaknya, minta apapun hajat, seremeh temeh apapun, minta sama Allah.

Bersangka baik, Allah mau kasih hadiah, lewat ujian ini. Dan hadiahnya nggak mungkin cuma kipas angin. …. Karena pahala orang-orang yang Ridha atas ketentuan-Nya, hanyalah Surga. …. Banyak sujud syukur atas sekecil apapun kebahagiaan yang diterima. Walaupun sekedar denger omongan dokter: Sudah boleh mandi ya bu, guyur-guyur dulu tapinya…. (rasanya pengen langsung mincrak meluk Dr Mirna, loncat2 nari2)

😁🤭 Biarin, dianggap, lebay….

Yang saya pahami….. Sembuh itu Bonus dari Allah…… yang lebih penting sekarang menjalani sisa usia dengan menebar manfaat sebanyak-banyaknya, semampu kita. Mohon ampunan Allah lebih sungguh2…. Karena ketika…

Ketika Allah telah mengampuni dosa, maka semua masalah kita di dunia dan akherat.. Selesai. Happy ending.

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Lokasi: RS Mitra Keluarga Kemayoran.
Jumat, 8 Maret 2019.
Antri terapi MLDV.
Ketemu Zr ipunk yang baik hati, disiapkan kamar buat besok pagi, Sabtu 9 Maret 2019.
Jelang terapi target Herceptin ke-15. Mohon maaf lahir dan bathin.