Tentang Yoga

“Sholat itu yoganya orang Islam.” Hmm, saya kurang sepakat dengan ungkapan ini ya. Sholat bukan yoga. Yoga bukan sholat. Bahwa ada gerakan yang mirip, iyaa. Cuma mirip. Serupa, tapi TAK SAMA. 😊

Orang yang melakukan yoga, murni sebagai olahraga saja, bukan berarti mereka tidak pernah sholat. Orang yang sholatnya rajin juga belum tentu nggak butuh olahraga.

Banyak aliran dalam yoga. Ada yang moderat, sebatas olahraga, pelengkap terapi medis, ada yang high impact, nguras keringat, ada yang low impact, cuma rebahan olah napas, relaksasi otot, mendiamkan pikiran, menggunakan visualisasi afirmasi imajinasi untuk pencapaian duniawi, memperbaiki postur tubuh dan fungsi organ, tapi.. ada juga aliran yang menyelipkan energi supranatural.

Bahwa ada seseustadz yang mengharamkan yoga, itu karena yang beliau tahu hanya, yoga aliran klenik. Beliau belum paham, ada banyak “madzhab” juga dalam yoga. Pengikutnya pun langsung ikut-ikutan menghakimi para muslimah yang memilih olahraga ini. Taklid buta.

Penyitas kanker banyak yang memilih yoga sebagai olahraga untuk membantu pemulihan setelah rangkaian terapi medis yang panjang dan melelahkan. Membantu memulihkan otot yang kaku, hingga mengembalikan kinerja organ dan jaringan saraf halus yang terganggu.

Ada sesepenyitas yang sempat kehilangan fungsi pendengarannya efek pengobatan kankernya. Setelah yoga, mindful breathing, enam pekan berturut-turut, indera pendengarannya kembali berfungsi. Penciuman yang sempat “buntu” kembali berfungsi, dapat mencium bau dan wewangian spesifik.

Saya pribadi merasakan efek positif olahraga ini. Nyeri otot telapak kaki, otot tulang belakang dan nyeri saraf tepi, jauh berkurang. Tidur posisi “salah bantal” ngga kelamaan tersiksa sakitnya, dalam 24 jam pulih, petakilan lagi.

Saat fisik sudah tidak bisa diajak 🏃jogging, aerobic, badminton, basket, zumba, dan semua olahraga high impact. Saat pandemi nggak memperkenankan berenang di kolam renang umum, untuk latihan otot, fungsi jantung dan paru-paru. Yoga, dan Pilates, memberi pilihan olahraga low impact, nggak banjir keringat, gerakannya lembut tapi powerful, menyehatkan, bisa tetep di rumah aja.

Saya tidak akan memaksa kalian yang tetap keukeuh mengharamkan yoga, mengubah keyakinan kalian. Saya cuma berbagi informasi yang saya tahu, kepada mereka yang mau membuka pikirannya.

Tentang Menjaga Semangat

Pengumuman naik level dan daftar pembagian kelas baru Utsmani sudah dirilis. Ada tiga sahabat saya yang qadaruLLaah mengulang di level semester lalu. Pasti ada rasa sedih, kecewa, karena mereka nggak lulus bukan karena nggak belajar, tapi memang standar kelulusan di Utsmani yang tinggi.

Saya japri satu-satu. Cerita pengalaman belajar tajwid di Sanggar Quran Mardani Lima 2013-2015 saya juga ngalamin dua kali tinggal kelas. Level empat, mengulang. Level lima (pratahfidz) juga mengulang. Saya lupa level empat atau lima, mengulangnya dua kali. Pernah minta sama guru-gurunya, saya maunya mengulang lagi saja Ustadzah.

Mungkin saya abnormal ya, di saat orang lain sedih kecewa karena nggak naik kelas. Saya malah seneng. Kenapa?

Pertama, saya ngerasa, belajar di level berapa aja tetep Fun, menyenangkan. Apa yang bikin seneng? Suasana belajarnya. Teman belajar. Kalo tinggal kelas, saya dapet temen-temen baru, kenalan guru baru. Guru saya tambah banyak, karena teman-sekelas juga guru buat saya.

Kedua, saya merasa belum pantas naik kelas, belum memenuhi target minimal pencapaian semester tersebut. Saya sering dengerin murotal yang kecepatan bacaannya paling lambat. Saya ikutin dengan suara keras, dan masih keteteran.

Ketiga, cita-cita saya waktu itu kepingin belajar di Utsmani, jadi saya pikir harus memantaskan diri dulu dong. Gakpapa ngulang, sampe mantep, pede. Saya naikin standar buat diri sendiri.

Keempat, saya ikutan ODOJ, kegiatan ini sangat membantu melemaskan lidah, melatih fokus, keseimbangan koordinasi antara indera penglihatan, pendengaran, dan pengucapan. Saya perhatikan huruf demi huruf beserta harokatnya, tanda tajwidnya, ghunnahnya dan sebagainya. Masukkan informasi tersebut ke otak. Otak memerintah mulut, lidah, paru-paru, pita suara. Telinga mengevaluasi apakah bunyi yang keluar sudah benar sesuai kaidah.

Saya naikkan standar, dengan mendengarkan murotal Syaikh Ayman Suwaid, Abdullah Basfar, Aziz Alili, Ibrahim Al Akhdar.

Ya, on-off, on-off, on-off namanya juga manusia, keadaan imannya fluktuatif. Tapi saya tidak mau menyerah. Kenapa?

Kelima, saya dengerin kajian-kajian motivasi belajar Quran, gimana caranya menjaga semangat belajar. Oh ternyata perlu meluruskan niat, bukan semata-mata kepingin naik kelas, atau kepingin pintar tajwidnya, tapi lebih kepada “saya ingin jadi sahabat Quran.” Saya ingin perjuangan saya belajar Quran ini jadi penghapus dosa-dosa saya, dan dosa orangtua, dan menjadi wasilah reuni di Surga.

اللهم ارحنا بالقرآن…🤲

Semoga Allah melimpahkan karunia istiqomah kepada kita semua. Alhamdulillah! Luar biasa! Tetap semangat! Bersama Al Quran, kita lebih bahagia! Allahu Akbar ✊😃

Berdamai Dengan Perubahan

Berdamai Dengan Perubahan.

By: ‘Afiyah Salma Lathifa.

Kami menikah tahun 1997. Tak sampai setahun kemudian politik negeri ini bergejolak hingga berujung krisis moneter yang lumayan cihuy dampaknya buat pasangan muda seperti kami. Baru merintis karir, gaji berdua digabung belom sampe angka dua juta per bulan, punya bayi, sebelum krismon terjadi udah terlanjur nekad nyicil rumah dan kendaraan.

Sebulan setelah Pak Harto lengser, perekonomian masih jungkir balik, dan cicilan rumah BTN dari tiga ratus ribuan, naik jadi tujuh ratus lima puluh ribu rupiah per bulan. Nyesek? Ya iyalah. Nyerah? Bukan kami. Akhirnya buat makan kami sempfet berhutang. Bukan ke tetangga, bukan ke teman, bukan ke keluarga, tapi tersesat dan nyemplung jurang… Riba. Kartu kridit.

Tahun 2000 saya hamil anak kedua. Sempat terlintas digugurkan karena ibunya stres, nggak siap hamil lagi, kandungannya bermasalah, ngeflek terus, dan kondisi finansial kami masih belum sehat. Tapi akhirnya janin tetap dipertahankan, lahir dengan selamat, sehat, dan hari ini dia menjadi salah satu cahaya kebahagiaan kami.

Lima belas tahun pertama kami jalani. Suami tetap bekerja keras menafkahi kami dan saya pun terlibat bekerja, berdagang, sambil gendong bayi dan tas gembolan, naik, turun bus, angkot, Rawamangun – Slipi, Rawamangun – Depok, Rawamangun – Cimanggis, Rawamangun – Bekasi, Rawamangun – Cikarang. Setiap hari. Door to door. Geret koper isi dagangan.
Penolakan, celaan, hinaan, itu mah vitamin. Pernah juga difitnah, diusir orang.

Jaman dulu belum ada medsos. Mau ngeluh ama siapa? Mau maki siapa? Wong semua juga bokek. Doa kami waktu itu hanya, hutang lunas, dan anak-anak bisa sekolah sampai selesai kuliah. Tiap sholat malam kami bertobat ajaa, karena manusia pasti berbuat salah, dosa, yang berpotensi menghalangi rezeki. Kami jalanin semua nasehat ulama.

Jadi kalo kamu bilang, “Elu sih enaak , lakik lu orang gajian ,  enaak , horang kaiyaa.. Blablabla .”

 

Aamiin aamiin aamiin Ya Rabb. Alhamdulillah. 🤲 Allohumma sholli ‘ala Muhamad. 

Bray.. … 

Semua orang di seluruh dunia ini terdampak oleh wabah ini. Ada yang kaget, kecewa, marah. Ada yang berusaha mencerna hikmahnya. Ada yang happy. Ada yang bokek, ada yang mendadak tajir.

Tapi… Hidup terasa enak / nggak enak itu hanya soal persepsi.

Kami percaya. Hidup ini segalanya tentang perubahan. Dan perubahan itu banyakan ngga enaknya. Suka ngga suka, kami jalanin dengan ridho, ikuti iramanya, atau mati kelindes perubahan.

Pandemi telah memaksa kita berubah lebih cepat. Tadinya segala kegiatan dilakukan secara online mulai tahun 2025, jadi maju tahun 2020. Sekolah online. Rapat online. Seminar online. Olahraga online. Pengajian online. Jualan online. Suka atau tidak, kalo mau survive, ya harus belajar keterampilan ini. Gaptek? Ya belajar.

Mau hidup lebih nyaman, berkecukupan? Ya klean lebih tau lahh jawabannya musti ngapain aja.

Satu hal penting, kekayaan itu di hati, makin bersyukur, makin kaya. 😊 dan makin bahagia.