Kebangkitan Islam

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170)

.

Kalo pernah nyimak kajian Ustadz Zulkifli Ali yang bertema akhir zaman, sekarang ini kita sedang memasuki fase Kebangkitan Islam.

Umat Islam mengalami banyak fitnah, ujian, diobok-obok, dijajah, dizalimi. Tengoklah yang terjadi di Palestina, Rohingya, Syria, Uyghurs, dan dunia diam. Kami sedih, marah, merasa tak berdaya. Hanya bisa mengutuk kezaliman yang terjadi. Tapi…

Tapi ingatkah kita, pasca tragedi 911, Islam difitnah sebagai umat yang radikal, pelaku terorisme. Yang terjadi kemudian adalah, orang Barat banyak mencari tahu tentang Islam. Sekian tahun kemudian terjadi gelombang syahadatain. Jutaan jumlahnya, baik yang tinggal di benua Eropa, pun Amerika, masuk Islam.

Termasuk penistaan Al Maidah yang dilakukan BTP awal tahun 2016 lalu. Sekuat apapun para pelindungnya dan pendukungnya ngeles, tetap saja yang terjadi adalah ketentuan Allah Maha Kuasa. Dan banyak banget yang mendapat hidayah. Muslim abangan hijrah menjadi lebih taat. Non muslim pun juga berbilang ratusan, yang masuk Islam. Ma syaa Allah.

Anggap saja tulisan ini analisa sotoy. Saya sangat yakin dan percaya…

Penembakan brutal terhadap jamaah sholat Jumat di dua masjid di Christchurch New Zealand adalah salah satu Cara Allah menggugah manusia dan menjaga ghirah kaum muslimin, Cara Allah mempersiapkan kami, menerima hadiah itu. Kemenangan Islam.

Allahu Akbar ✊

Anakku pernah kejang.

Tahun 2001-2002 saya lupa persisnya bulan apa, si bungsu sempat mengalami demam 38 dan kejang dua kali. Pertama kejang di rumah. Kedua kejang di hadapan dokter.

Sebagai emaknya merasa kecolongan, menyesalnya berbulan-bulan. Tiap ingat saat kejangnya saya nangis, marah, benci sama diri sendiri. Kenapa sih saya selalai seabai itu.

Waktu curhat sama seorang sahabat putih-abu, Budi Nursusilowati cerita, “Fi kamu inget ga, kita punya teman, namanya Erika? ”

Saya: iya, kenapa?

Budi: Menurut kamu dia pinter ga?

Saya: Ya iya lahhh pinter banget….

Budi: Dia juga dulu kecilnya pernah kejang. Menurut literatur yang kubaca, kejang itu ada dua macem. Step-Down (mengakibatkan menurunnya kecerdasan). Ada juga Step-Up, anak jadi pinter. Sekarang Raihana umurnya berapa?

Saya: Setahun.

Budi: Masih dalam masa Golden Age. …. Kalo menurut gue, doain aja Raihana jadi anak yang sholehah, sehat, cerdas, dan loe konsisten kasih protein tinggi. Susu, ikan, telur, keju. Untuk pembentukan sel. Kalau pun ada yang terganggu efek step semoga cepat recover.

Saya berterimakasih atas masukan yang menentramkan ini. Saya nurut. Tiap sholat, tiap sujud, tiap tahajud, saya doain terus, kedua anak saya, tetap sehat, berkembang normal, sejahtera, sholehah, taqwa, segala urusannya dimudahkan Allah.

Saya perhatikan betul-betul asupan gizinya, dan perkembangan panca inderanya. Tiada hari tanpa menyanyi bersama, mendengarkan murotal Quran, bermain. Rumah berantakan, bodo amet.

Umur 3 tahun belum juga nih anak bisa ngomong. Udah diTes, panggil namanya, “Raihana, susu nih.” Nengok sih. Nyamperin. Berarti nggak ada masalah dong, pendengarannya. Tapi nggak satu kata pun yang kami ajarkan, keluar dari mulutnya. Bukankah anak umur segini lagi seru-serunya membeo? Hadeuh, galau lagi si emak. Waktu itu masih jahiliyah, saya sempfet bawa ke dukun, dijampe, disembur. Astaghfirullah! O-on-nya gue, mak.

Sekitar dua bulan sebelum ulangtahunnya ke-4 baru keluar dua kata: Susu, dan Sa-id (sakit maksudnya). Bukan “mama” atau “papa”. Apalagi “ibu”.

Kami masukkan lahh ia dalam kelompok bermain. Lanjut ke TK. SD. Kami nggak pernah berharap yang muluk-muluk. Asal bocah ini senang dalam proses KBM, cocok dengan guru, cocok dengan teman, sudah cukup. Seingat saya, dia benar-benar lancar bicara di usia hampir 5 tahun.

Alhamdulillah mulai kelas dua esde hingga lulus, tiap semester hasil rapornya selalu masuk Top Two. Prestasinya tak hanya di kelas. Aneka lomba yang diikutinya, juga menghasilkan prestasi yang Alhamdulillah.

Masuk pesantren Darul Quran Mulia SMP IT ia mulai menghafal Quran, ini pun, nggak muluk-muluk. Sebagai lulusan SD negeri, kami cukup tahu-diri. Nggak ada target harus hafal sekian juz dalam satu semester. Saya selalu berpesan, “Have fun.”

Dalam organisasi dan events yang dibuat sekolah, dia sering menjadi humas, bawa proposal, presentasi dari kantor ke kantor. Dalam ajang MTQ tingkat provinsi dan Nasional, ia dipercaya masuk kategori Tafsir Bahasa Arab. Dan rezekinya Juara Dua MTQ & STQ Nasional 2016, 2017, 2018. Ma syaa Allah. Tabarakallah.

Alhamdulillah sekarang anak ini kuliah semester dua LIPIA. Kampus impian calon guru agama, calon ahli tafsir, dosen-dosennya native speaker, lulusannya banyak diburu lembaga pendidikan berkualitas. Kuliahnya gratis, dapat uang saku pulak. Tentu saja tidak mudah perjuangannya masuk sini. Ada kerja keras marathon, pengorbanan, doa-doa panjang dan airmata. Ma syaa Allah. Tabarakallah.

Semoga cerita ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi para mahmud (mamah-muda). Manfaatkan masa Golden Age putra putri kita semaksimal mungkin yang kita mampu. Doakan terus anak-anak kita. Lakukan yang terbaik. Harapkan yang terbaik saja. Dan tawakkal, berserahlah hasilnya kepada Allah Sang Maha Pengatur. Allah Karim.

Lokasi: RS Hermina Depok.
Bezoek ponakan yang demam efek virus. Mohon doanya, yaa. 🙏

The Best Supporters

Kalo dibilang nggak pernah ngeluh, salah banget. Saya adalah orang yang rewel, berisik, nyebelin, ketika merasakan ketidaknyamanan efek pengobatan setahun terakhir ini. Gremet-gremet, bagaikan abis berenang 20 rit setelah 2 tahun nggak olahraga sama sekali. Sakit-sakit ototnya kan? Pengen dipeluk tapi kesenggol dikit aja nyeri lebay. Sembelit, atau diaree. Ketambahan morning sickness. Mual, muntah, keliyengan, nyesek. Nggak cuma di pagi hari, tapi sepanjang hari.

.

Level toleransi terhadap rasa sakit, bisa dibilang rendah. Apalagi ketika jarum masuk dalam vena terus dibelok-belokin, itu saya bisa ngucap tahlil kenceng-kenceng sampeee jarum dicabut. And then, saya nangis minta paramedis yang jagoan ajaa yang nusuk.

.

Ya.. saya baper, sensi, kalo ada orang yang sehat walafiyat, nggak pernah dikemoterapi & radiotherapy, tapi ngasi nasehat, “Sabar ya. ” Beuh… Erosi, inyong.

.
.

Bersyukurnya, aneka rasa tidak nyaman ini ada siklusnya. Ada hari-hari normal sehat saya bisa petakilan. Antar jemput anak kuliah. Duduk nyimak kajian. Kopdar di Bandung. Gabung Aksi Bela Islam di Monas, pelatihan jurnalistik di Hambalang. Nemenin emak ke Bangkok. Alhamdulillah.

.

Bersyukurnya, Allah melengkapi hidup saya dengan the best supporters, suami dan anak-anak yang luar biasa sabarnya. Ma syaa Allah tabarakallah. Saya sangat yakin dan percaya, doa-doa keluarga, sahabat, handai taulan yang tulus menyayangi saya, telah menjadi wasilah, datangnya pertolongan Allah, kemudahan segala urusan, kekuatan bagi saya menjalani terapi hingga detik ini.

.

Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmush shalihaat. Terima kasih dukungan dan doanya. Mohon maaf lahir bathin. Ma syaa Allah. Tabarakallah.

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Tutorial daily make up

Masih suka nonton tutorial daily make up. Terasa manfaatnya ketika, sempfet mengalami kebotakan hingga di bagian wajah. Efek samping kemoterapi.

Bagi saiyah, polesan make up bisa mengubah mood. Lebih positif, lebih semangat menjalani aktifitas. Males banget jawab pertanyaan, “Kok pucet sih? Sakit ya? “

Mindset Saiyah

Kemarin saya nyimak nasehat Dr Mirna (spesialis ongkologi radiotheraphy) mengenai diet / pola makan. Beliau bilang, selama masa terapi, baik itu kemoterapi, pun radiotheraphy, makan apa saja, bebas. Merdeka.

Setelah selesai masa terapi, kembali ke pola makan gizi seimbang. Banyak sayuran, buahn-buahan, air, karbohidratnya maksimal 50% tergantung berat badan juga. Olahraga juga menjadi Menu WAJIB 2-3 kali seminggu. Olahraga yang ringan seperti berenang, yoga, senam pernafasan, sepeda santai, jalan kaki.

.

Kelola stress.
Selama masih hidup kita tidak mungkin menghindar dari stress / masalah. Meditasi, sembahyang, akan membuat pikiran lebih rileks.

Saya memahaminya sebagai terjemahan surat Al Baqarah ayat 45, perbanyak sabar dan sholat, dan surat Ar Ra’d ayat 28 perbanyak mengingat Allah, dzikir, membaca Al Quran, yang membuat hati menjadi lebih tentram.. Pasrah. Berserah, dan tetap semangat ikhtiar sehat.

……….

Saya sering mengingatkan diri sendiri. Hidup ini cuma numpang lewat. Sakit atau sehat, tetap saja kita pasti mati. Sekarang yang penting kita bersangka baik kepada Allah, yang ngasih ujian ini, pasti baik, pasti baik, baik buat kita, baik buat keluarga, baik buat teman-teman.

Kalo lagi “lempeng bener” saya bisa merasa bersyukur banget dikasih ujian kayak gini, berharap dosa-dosa diampuni, dibersihkan, sebersih-bersihnya. Bersyukur dikasih peluang dikabulkannya doa-doa. Aji mumpung. Jadi berdoalah sebanyak-banyaknya, minta apapun hajat, seremeh temeh apapun, minta sama Allah.

Bersangka baik, Allah mau kasih hadiah, lewat ujian ini. Dan hadiahnya nggak mungkin cuma kipas angin. …. Karena pahala orang-orang yang Ridha atas ketentuan-Nya, hanyalah Surga. …. Banyak sujud syukur atas sekecil apapun kebahagiaan yang diterima. Walaupun sekedar denger omongan dokter: Sudah boleh mandi ya bu, guyur-guyur dulu tapinya…. (rasanya pengen langsung mincrak meluk Dr Mirna, loncat2 nari2)

😁🤭 Biarin, dianggap, lebay….

Yang saya pahami….. Sembuh itu Bonus dari Allah…… yang lebih penting sekarang menjalani sisa usia dengan menebar manfaat sebanyak-banyaknya, semampu kita. Mohon ampunan Allah lebih sungguh2…. Karena ketika…

Ketika Allah telah mengampuni dosa, maka semua masalah kita di dunia dan akherat.. Selesai. Happy ending.

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Lokasi: RS Mitra Keluarga Kemayoran.
Jumat, 8 Maret 2019.
Antri terapi MLDV.
Ketemu Zr ipunk yang baik hati, disiapkan kamar buat besok pagi, Sabtu 9 Maret 2019.
Jelang terapi target Herceptin ke-15. Mohon maaf lahir dan bathin.

Resiko Pilihan

Fi, jangan bahas politik mulu. Orang yang lagi dikemoterapi, ditembakin sinar radiasi, dan setelah selesai masa terapi semuanya pun, harus jaga pikiran tetap rileks.

Yaah aku maunya pun begitu, mbakyu. Pernah deaktivasi akun-akun medsos dua pekan dua hari, pasca operasi, bulan April-Mei 2018. Tapi dari sahabat handai taulan yang datang berkunjung, nyimak cerita mereka, hati ini tergerak ikut berjuang, lebih dari sekedar doa-doa malam.

Lagi pula, medsos ini bagi saya telah menjadi salah satu sarana menebar inspirasi, motivasi, bagi orang-orang yang senasib. Saya bisa sharing yang simpel-simpel, menu masakan, parenting, travelling, sharing video bayi-bayi, bocah ngapak yang bikin senyum-senyum, dan pamer kenorakan – karena pada dasarnya semua orang suka pamer, yang membedakan hanya level kenorakannya. 😁 🤭

Fokus aja Fi, ibadah.

Yahh, ibadah itu kan #tidak hanya sholat, puasa, zakat, haji. Om. …. Amar ma’ruf nahyi mungkar, pun termasuk ibadah yang utama. Mosok saya harus diam saja, melihat ulama dipersekusi, difitnah, Al Quran dinista, Islam dinista, dan hukum di jaman rezim ini terlihat terang-terangan amat sangat tidak adil.

Justru, kalo saya diam saja, hati ini bergejolak, kzl, marah, sedih, prihatin, ngga karuan. Maka saya memutuskan, speak-up. Rasanya tuw… kayak abis BAB, kan…. Plong! 🤭😁🤭

Nggak majallah, diomelin orang-orang senior, ditinggalkan teman-teman dan saudara yang berbeda pilihan. Resiko pilihan. Resiko perjuangan, ya harus berani berkorban.

Semoga Allah mengampuni kita semua, dan semoga Allah selalu melimpahkan taufiq hidayah-Nya kepada kita semua, termasuk diri dan keluarga saya. Aamiin Ya Robb.

Jangan Ajari ikan Berenang

Jangan Mengajari Ikan Berenang.

Terpaksa ikut mengulas isu sensitif ini, karena saya merasa nggak nyaman liat oknum (islam bukan tapi) sotoy demen lompat pager keyakinan orang. Saya merasa perlu menyampaikan ilmu, terserah mau terima atau enggak.

Dalam bahasa Arab, kata “kafir” berasal dari kata “ka-fa-ro” atau “kafara” yang artinya: menutup. Dalam kamus bahasa Inggris, kata kerja “cover” artinya 11-12 kan: menutup.

Makna “kafir” yang dimaksud Al Quran adalah orang yang menutup hatinya dari ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak mengakui Allah sebagai satu-satunya Dzat yang diibadahi, dan tidak mengakui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai utusan-Nya.

Sedangkan arti kata “Muslim” adalah orang yang selamat.
Dan.. arti non-muslim adalah… orang yang tidak selamat. Atau adakah makna lain (non-muslim) yang saya belum ketahui?

Isu ini dilontarkan dua professor yang jelas-jelas kurang amanah dalam menyampaikan sirah nabawiyah. Saya sihh ikutnya apa kata mayoritas kyai saja. Saya ikut apa kata mayoritas ulama.

Saya berharap sih jangan sampai ada teman-teman yang berbeda keyakinan dengan kami, nekad lompat pagar belagak sotoy dengan istilah-istilah di dalam kitab suci Al Quran. Lakum dinukum waliyadiin. Bagimu (uruslah) agamamu sendiri, dan bagi kami (kami urus) agama keyakinan kami sendiri. Agama lain, ora urus, bodo amet.