Sekilas Mindfulness

Kelas Mindfulness jaman now sedang happening ya, banyak dipakai manfaatnya untuk meningkatkan kualitas hidup, kebahagiaan, dan kesehatan seseorang. Bermanfaat juga dalam proses belajar mengajar, meningkatkan efisiensi menyerap ilmu.

Mindfulness Dalam Islam, bukan seperti konsep mindfulness ala barat yang pake sesi mengosongkan pikiran. Dalam Islam, pikiran orang beriman nggak boleh kosong, karena bisa langsung disabotase syaithan.
Saya lebih sepakat tujuan Mindfulness itu, untuk mendiamkan pikiran. Ya karena pikiran kita emang suka lari-larian kemana-mana, pan? 🙂

Mindfulness yang sederhana bisa dipraktekkan sehari-hari ketika, mandi, rasakan aliran airnya, dengarkan bunyi gemericiknya, nikmati wangi sabun dan samponya, fokus pada kulit yang digosok dipijat disabuni.

Atau ketika berkebun, nyiram kembang, ajak ngobrol kembangnya. Ajak ngobrol tanamannya. Ajak ngobrol tanahnya, pupuknya. Sepenuh hati.

Atau ketika makan, sadari dan syukuri, suapan demi suapan, perhatikan bentuknya, warnanya, nikmati detil rasanya, maniskah, asinkah, bumbu apa yang dominan, bagaimana aromanya.

Atau ketika makan bersama, ngobrol dengan pasangan, dengan anak-anak, dengan sahabat, juga usahakan mindful. Senyapkan ponsel. Abaikan dulu.

Atau ketika piknik ke kebun teh, hiking, dengarkan alunan “musik” air sungai, celupkan jari-jari tangan, rasakan dinginnya. Hirup udara segar dalam-dalam, cium bau dedaunan atau tanah. Sentuh batang pohon, rasakan teksturnya, perhatikan warnanya.

Mindfulness dalam Islam itu ada ketika kita sholat. Kan harus khusyu, tuma’ninah, pikiran dan hati mentadaburi bacaan, gerakan sesuai kaidah fiqh sholat.

Mindfulness dalam Islam juga ada ketika membaca Al Quran, ketika tilawah mengamalkan kaidah tajwidnya. Kita memberikan hak dan mustahaknya setiap huruf, step by step. Nggak tergesa-gesa penn cepet-cepet selesai hingga makhrajnya geser ke huruf lain, sifat huruf dan kaidah tidak terpenuhi, panjang pendek nyelonong, tasydid ghunnah ketuker.

Yang mengganggu Mindfulness emak-emak ketika sholat dan tilawah itu, banyak. Suara Kang Sayur lewat aja bisa bikin Mindfulness gatot. Ye kaaan. 🙂

Solusinya mungkin bisa dari persiapan. Sebelum sholat, pastikan sebelum wudhu, kompor udah dimatiin, pager udah dikunci misalnya. Atau bahan masakan udah komplit. Bila perlu matiin mobile data di hape, ya kalii ada notifikasi masuk nanya harga, pengen order.

Pasang niat juga perlu Mindfulness, apa yang mau dituju, apa yang diharapkan. Ketika berwudhu pun praktekin mindfulness. Mulai dari buka keran air, rasakan tetesan pertama, rasakan aliran dan usapan demi usapan ke wajah, tangan, hingga kaki. Demikian juga ketika berdoa, hayati maknanya.

Setahun terakhir saya ikut kelas virtual Mindfulness tiap Selasa jam 8 pagi. Coachnya orang Bali, namanya Made Teddy Artiana. Selama ini saya tidak melihat ada hal-hal berbau klenik atau yang menyimpang dari keyakinan tauhid saya. Semua ilmiah. Prakteknya hanya mengatur napas, mata tidak melulu harus terpejam, kadang melihat ke satu titik, satu objek, kadang melihat ke bawah. Pikiran diajak piknik membayangkan tempat-tempat favorit, atau membayangkan wajah orang-orang yang kita sayangi, keadaan-keadaan yang kita harapkan, kejadian-kejadian yang kita mau maafkan/terima. Kita boleh bertanya, atau diskusi, atau menyimak sharing orang yang berpengalaman. Kadang mirip manajemen qolbunya Aa Gym, kadang mirip Low of Attraction, NLP, atau seminar psikologi yang mahal-mahal. Tapi kelas Selasa ini free, gretong, gratis. Pesertanya Indonesia Raya.

Kami menemukan hal-hal baru tentang mengelola rasa, belajar mindful dalam setiap aktivitas.

Suplemen Hati

Dua hari terakhir lagi butuh banget suplemen hati, Alhamdulillah ‘nemu rekaman ceramah Ustadz Oemar Mita Lc, ngaji kitab Tadzkiatun Nafs Bab Niat.

Beberapa linknya :








Simpulan untuk diri saya :

“Sakit, sehat, sedih, senang, semuanya adalah hak ALLaah” – ini mindsetnya orang beriman. Kita pernah mendengar cerita, ada orang yang komitmen disiplin menjalani gaya hidup sehat dan manajemen stress, tapi QadaruLLaah jatuh sakit juga. Sebaliknya, ada orang yang makan sembarangan, perokok berat, sampai usia 80 tahun baik-baik saja. Demikian juga dalam hal ketaatan, ada orang yang taat tetap diuji sakit, sedangkan para koruptor, para dukun, hidupnya sehat banget dan bahagia (kelihatannya) 😀

Baik sakit atau sehat, miskin atau kaya, sedih atau senang, jomblo atau berpasangan, punya keturunan atau enggak. Bagi orang beriman, ini semua adalah ujian tauhid. Ketika dikasih nikmat, dia bersyukur nggak. Ketika dikasih masalah, dia bersabar nggak. Jadi kufur atau makin taat.

Dia Yang menciptakan, pastinya hanya Dia Yang Maha Tahu kapasitas kemampuan dan kebutuhan makhluk ciptaan-Nya.
Sebagai orang beriman, kita tetap wajib beriktiar, wajib tahu ilmunya, dan ‘ngamalin semampunya. Gimana jalannya untuk punya pasangan yang diridhoi Allah, gimana caranya hidup tetap sehat, gimana caranya lebih sukses, lebih pintar, lebih kaya untuk bekal akherat. Enggak cukup hanya berdoa dan pasrah diam saja. Harus ada perjuangan dan pengorbanan.
Hasil akhirnya dikembalikan lagi kepada Yang Maha Kuasa, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Adil, Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Makan, olahraga, perawatan, niatnya cuma untuk sehat doang, atau agar keliatan in-shape, atau supaya pasangan makin cinta, atau senang dipuji orang, “Wow, masih cantik aja, masih ganteng aja, awet muda yaa, kayak anak kuliahan yaa.” dan sebagainya, maka ketika jatuh sakit, berubah jadi kurang cantik, kurang ganteng, ceking kerempeng atau menggendats, pasangan cuek egepe, ujung-ujungnya bapeerrr.

Ketika sholat tahajud, dhuha, baca Quran, bersedekah, ngumpulin anak yatim, niatnya hanya untuk kelancaran bisnis, demi omset semata, atau latah pengen kaya, atau demi gebetan, maka ketika bisnisnya bangkrut, atau jodohnya belum juga datang, pasti jadinya kecewa, marah, bingung dan sedih.

Ketika sakit, kalo berobat niatnya hanya untuk mendapatkan kesembuhan, maka ketika hasilnya tidak kunjung sembuh, atau penyakitnya malah makin parah, pasti jadinya kecewa, marah, sedih, lelah, putus asa. Na’udzubiLLaahi min dzalik.

Ketika belajar hanya untuk jadi juara, atau demi masuk PTN favorit, maka ketika gagal, pasti jadi merasa kecewa, kesal, ngedumel, atau menyalahkan keadaan. Demikian juga ketika bekerja keras niat hanya untuk cari uang, sesuap nasi, segenggam berlian. Kalau pun Allah berkenan “ngasih” apa yang diniatkan, ya udah sebatas itu aja yang didapat. Terus nanti di akhirat kita dapet apa dong?

Idealnya, niat nomer satu itu untuk Allah, agar mendapat ampunan-Nya, ridho-Nya, kasih sayang-Nya, rahmat-Nya, dan berharap masuk surga. Lapisan kedua dalam rangka mensyukuri nikmatnya. Lapisan ketiga untuk melakukan semakin banyak kebaikan, berbagi manfaat seluas-luasnya. Lapisan keempat dan seterusnya, barulah berdoa meminta rezeki yang berkah, panjang umur dalam sehat dan taqwa, keturunan shalih, hingga minta sendal baru atau mobil baru.

Jangan menipu Allah, karena Dia Maha Tahu hal yang ghaib, sekecil sehalus apapun isi hati kita. Niat itu amalan hati. Menjaga kebersihan niat itu dari awal, pertengahan, sampai akhir hayat. Tidak mudah. Butuh banyak istighfar dan taubat. Bahkan mengistighfarkan istighfar itu sendiri.

Semoga kita termasuk golongan orang yang diberi taufiq dan hidayah, dimampukan, untuk selalu berusaha membersihkan niat dalam setiap keadaan.

===

Menulis, mengikat ilmu.

Dokter Rini Julianty

Kalo ditanya kejadian apa yang paling berkesan dalam hidupku, pasti kujawab: Haji.

Berangkat sepekan pasca kemoterapi kelima, dalam keadaan 2L2B. Lemah, letoy, belekan, bisulan, efek samping kemoterapi. H-1 wukuf, naik bus ke ‘Arofah, masuk tenda, dan aku pun jatuh pingsan, kena heatstroke. Pasien kemoterapi memang darahnya kental. Jadi sehari minum 3 liter pun, dengan cuaca di ‘Arofah, nggak kekejar memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Tetep butuh infus.

Dokter cantik ini dengan berani “memaksa” Ustadz dan bapak-bapak membuka tenda lebih banyak pintu supaya pertukaran udara lebih lancar.

Karena setelah aku, menyusul 4 jamaah pingsan juga. Satu tenda isi 300 orang. Pintu tenda cuma 4. Akhirnya tenda terpal itu digunting (petugas orang Arab).

QadaruLLaah sorenya angin kuenceeng banget. Liat tenda udah doyong, Ustadz pembimbing kami memandu istighfar bersama-sama.

Teman-teman satu keloter (ibu-ibunya) keroyokan bantuin dokter. Ada yang ngambilin es batu, ada yang nyiramin kepalaku, ada yang mengendurkan baju dalamku, ada yang mijitin kaki, ada yang ngajak ngomong manggil-manggil namaku. Ma shaa Allah.

Jadi ketika dokter cantik ini menyapaku barusan, setelah 3 tahun tak bertemu, termehek-mehek dooong gue. 😭 haruuu. Bahagia. Surprised.. dan kangen!