Sahabat Sehat Mendadak Kopdar

Lima anggota Komunitas Muslimah Sahabat Sehat mendadak ngadain sharing meeting di Sambel Hejo Sambel Dadak Rawamangun.

Ada yang pulang dari radiotherapy, kontrol, jelang kemoterapi, ada yang stadium satu, dua, dan empat.

Kita ngobrolin macem-macem pola makan sehat, olahraga yang cocok di masa treatment, olah mindset, olah rasa, literasi doa-doa bahasa Indonesia, pengaruh kebiasaan membaca Al Quran secara masif dan dengan suara keras, impian-impian besar ketika nanti diijinkan tetap sehat dan produktif, sampai tips hubungan suami istri. Fixed ini mahh: 100% shalihaat, cantik dan cerdasss semua.

Booking meja di lesehan outdoor, sebenarnya ini smoking area, tapi kita perempuan-perempuan dominan, alias tukang ngatur. Jadi ketika ada tamu lain, merokok, kita kompak sambung menyambung, menegurnya, “Pak, maaf, tolong yaa, rokoknya dimatikan dulu, asapnya mengganggu, kami semua ini penyitas kanker, yang ini masih dalam masa kemoterapi, yang ini pulang radiasi, yang ini juga. Terimakasih ya. ” 😊

Beliau pun tersenyum, mematikan rokoknya. Alhamdulillah.

Saya merasakan energi positif, keikhlasan, dan keyakinan tingkat tinggi, dari obrolan / gurauan kalian. Terima kasih ilmunya, senam sehatnya, motivasinya, inspirasinya. Ma Syaa Allah tabarakaLLaah. 💜

Image may contain: 3 people, including Runita Ruru, people standing and outdoor

Image may contain: 4 people, including Wazdah Nur Ain, people sitting and indoor

SAYA PERNAH MENOLAK KEMOTERAPI

SAYA PERNAH MENOLAK KEMOTERAPI

By: ‘Aafiyah Salma Lathifah.

Sempat tersesat di belantara informasi yang saya jelajah sendiri untuk ‘ngeles dari komitmen kemoterapi. Saya jalanin pola makan intermediate fasting (IF) ketofastosis (KF), yang menargetkan gula darah di bawah 60 untuk pasien kanker agar tidak relaps, katanya.

Saya terpengaruh testimonials, “Banyak lohh yang sembuh, tanpa kemoterapi, yang penting gula darah bertahan 55 atau kurang. Patuh protokol.”

Saya percaya dong. Komitmen bener jalanin pola makan IF-KF ini. Hanya makan lemak ikan dan atau ayam kampung. Ga makan karbohidrat kecuali bumbu. Enam pekan nggak makan sayur sih nggak masalah, karena saya nggak doyan sayur. Tapi terhalang dari buah-buahan? Ini bikin badan saya seperti orang sakaw. Liat orang lain makan pepaya, nanas, pisang, jambu, semangka. Badan panas dingin, pusing, emosi labil, temper, mual muntah, sembelit enam hari. Konsultasi dengan menthornya, slow respon terus. Dan jawaban yang saya terima, tidak pernah memuaskan keingintahuan saya. Makin stress, malah naik gula darah. Muncul lintasan pikiran, nanti kalo sampe kenapa-napa, siapa mau tanggungjawab? Mereka? Nggak yakin gue!

Tapi untuk beralih ke pengobatan alternatif, jejamuan, herbal-herbal, saya juga nggak percaya. Karena di setiap kemasan obat-obatan alternatif tertulis diclaimer, “Bila sakit berlanjut, hubungi dokter.”

Kembali saya googling informasi dengan kata kunci “pengobatan kanker payudara efektif” sambil sholat istikharah mohon petunjuk, jalan mana yang harus kutempuh. Saya mulai memberanikan diri bercerita lewat akun medsos, berharap ada penyitas kanker yang berkenan memberikan informasi yang valid.

Saya mendapat japrian dari sesedokter dan dua penyitas kanker. Saya baca pelan-pelan cerita mereka. Saya mulai membuka hati, mendengarkan pendapat suamiku yang pengalaman mendampingi ibunya kemoterapi tahun 2010. Ok, saya mau diajak ketemu dan diskusi dengan dokter onkologi.

Saya akui, waktu itu saya takut banget ngga kuat efek sampingnya. Saya pernah melihat pasien kemoterapi, bolak-balik transfusi, muntah-muntah, nggak bisa jalan, kepala botak, kulit menggelap, kurus kering, jelek. Saya takut sel-sel sehat saya ikutan hancur juga. Saya takut setelah kemoterapi, malah kesehatan saya memburuk, malah mati. Saya juga takut nggak sanggup membiayai pengobatan yang super mahal. Saya takut kami jatuh miskin gara-gara ngobatin saya. Tahun itu kami mau naik haji. Sudah manasik tiap Sabtu, saya kuatir banget gagal berangkat.

Dokter onkologi berhasil meyakinkan saya bahwa efek samping bisa diminimalisir. Obat kemoterapi jaman now udah canggih, premedikasi nggak bikin mual muntah hebat. Namanya juga badan sehat, terus dimasukin obat. Ada hari-hari nggak nyaman sedikit, tapi masih bisa beraktifitas, sholat, olahraga, dan tetap produktif. Botak, iya. Tapi setelah pengobatan selesai, tumbuh lagi kok rambutnya, lebih bagus.

Biaya gimana?

Kami memastikan ke pihak asuransi dan BPJS peluang jaminan pengobatan 6x kemoterapi dan 18x herceptin. Saya sudah mempersiapkan mental untuk jawaban terburuk. Saya pasrahkan diri kepada Ar Rahman Ar Rahiim.

“Ya Rabb, penyakit ini Engkau hadiahkan kepadaku pasti sepaket dengan hikmahnya dan jalan keluarnya. Jika umurku masih panjang, pasti Engkau beri jalan kesembuhan. Jika usiaku tak lama lagi, mohon ampuni dosa-dosaku dulu semuanya Ya Rabb. Dan aku tidak pernah kecewa (setelah berdoa) kepada-Mu. ”

Saya bicarakan rencana-rencana kepada keluarga, mana asset yang diwakafkan, mana yang saya akan jual. Bahkan saya sudah berwasiat kepada anak-anak, apapun yang terjadi, mereka harus tetap berjuang, melakukan yang terbaik, all-out, untuk meraih cita-cita. Saya datangi keluarga besar, minta maaf, minta keridhoan mereka. Tiap kopdar, saya minta maaf pada teman-teman. Dan mereka mendoakan kesembuhan saya dan kemudahan segala urusan kami. Saya mensyukuri karunia, keluarga dan sahabat mendukung penuh pilihan-pilihan saya.

Lima kali kemoterapi, delapan belas kali targeted therapy herceptin yang harganya luarbiasa, dan tiga puluh kali radiotherapy, Allah menolong kami. Fisik saya dikuatkan. Haji 42 hari nggak kena batuk-batuk, dikasih kekuatan jalan kaki belasan kilometer, makan apaaa aja terasa nikmat, ma syaa Allah. Biaya pun, dikasih jalan keluar yang tidak kami sangka-sangka, sehingga mobil yang kami jual untuk bekal pengobatan malah Allah ganti dengan yang lebih baik. La haula wa la quwata illa biLLaah.

11 Mei 2020 evaluasi keempat Alhamdulillah amaan bersih dari si caca. Allahu Akbar! ✊

Kami berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kekambuhan dan ujian penyakit berbahaya lainnya. Kami memohon kepada-Nya sehat wal’aafiyat di sisa usia. 🤲

Tidak semua yang kita harapkan, terwujud. Tidak semua yang kita kuatirkan, terjadi. Rencanakan saja yang terbaik, lakukan yang terbaik, tulus, team work, dan berserah diri kepada Allah Rabbul’alamiin. Dia Yang Paling Tahu apa yang terbaik buat kita.

Gimana caranya sabar?

Saya nggak tahu jawabannya. Tapi dari pengalaman kejadian ini, saya mengambil hikmah, banyak bersyukur dan makin berserah diri, bisa menjadi kekuatan dari sabar itu sendiri. Wallahu’alam bish showab.

Image may contain: one or more people and outdoor

Kegagalan ituu Vitamin

Kegagalan itu Vitamin.

By: ‘Afiyah

 

Bukan nggak mau berempati. Tapi realistis aja. Kalo udah terkait kebijakan, apalagi ada bau politik. Yahhh emang biasanya rakyat bisa apa? Mengubah kebijakan? Lo jadi Luhut dulu.

 

Belajar dong, ngajarin anak menerima kekecewaan. Jadi orangtua juga belajar terus dong, rela menerima perubahan. Jangan mau jadi korban keadaan. Berdamai dengan apalah namanya, nasib, takdir, qadha, whatever.

 

Gw ngomong pake pengalaman. Sejak gw mulai masuk sekolah taon 1979, tiap ganti menteri, ganti kebijakan. Kagak ada yang enak. Usia masuk SD, skill calistung. Bayar SPP. Buku paket. Iuran POMG. Ebtanas berubah jadi Ujian Nasional. Sistim rayon. Sistim zonasi. UMPTN jadi SBMPTN. Ujian berbasis komputer. Semua gaduh. Suka atau tidak, tetep harus nurut ikut peraturan.

 

Anak tu perluuu nyicipin vitamin kegagalan. Karena entar di kemudian hari, tidak semua harapannya terwujud, tidak semua kekuatirannya terjadi. Tidak semua kerja keras berujung sukses. Tapi sukses pasti adalah buah dari kerja keras dan pengorbanan. Jalannya bisa lewat mane ajee.

 

Kenalin dong, deketin ke Tuhannya. Libatkan Allah dalam setiap langkah dan pengambilan keputusan. Selipin rukun iman. Percaya semua takdir itu baik. Sering-sering ajak ngobrol tentang Kemahakuasaan Allah. Pelajaran aqidah adalah tanggungjawab orangtua. Bukan guru. Nanti di akherat, orangtua yang diminta pertanggungjawaban.

 

Ajarin juga anak-anak bermimpi besar, jauuh, nggak secetek sekedar bangga keterima di sekolah favorit. Kalo mau jadi orang sukses, jangan tanggung, mau yang kekgimana. Pelajari karakter sukses. Akhlak orang sukses. Termasuk cara mengelola konflik dan menerima kekecewaan.

 

Banyak cerita, anak pinter rajin belajar sayang ngga keterima di PTN impian. Sebaliknya, anak santuy malah lolos. Pas berkarir, dia yang rajin datang lebih pagi, mengerjakan project dengan sempurna, tapi yang dapet promosi temannya yang modal carmuk. Pas bisnis, dia yang riset, dia yang prospek, dia keluar duit entertainment, ehh competitornya yang closing. Jodoh juga, udah lamaran, udah sewa gedung, nyebar undangan, ehh ditikung, nikahnya ama orang lain. Jangan nuduh, ini bukan pengalaman gue! 😊

 

Ya, intinya, ajarin anak-anak belajar berdamai dengan takdir. Sukses itu bisa lewat sekolah mana aja. Tergantung anaknya, tergantung bimbingan orangtua dan lingkungannya. Saat ini Lo boleh kecewa, Lo boleh marah, Lo boleh maki-maki Anies, tapi jangan lama-lama. Karena anak Lo tetep harus sekolah, kan? Mereka masih punya cita-cita, kan?

 

Masa depan mereka lebih membutuhkan kekuatan mental spiritual dan akhlak, dari pada ijasah sekolah impian. Bacalah bareng-bareng, biografi orang-orang sukses. Diskusi, bagaimana perjuangan mereka bangkit dari kekecewaan. Bagaimana sikap mental mereka. Nggak ada orang sukses yang “jadi” dari keadaan yang serba nyaman, serba terpenuhi keinginannya. Semua orang yang super sukses itu 100% melalui jalan berliku. Nah, anak kita mau kita arahkan jadi orang biasa-biasa aja kayak orangtuanya, atau jadi orang yang kemudian mampu mengubah dunia semakin baik?