Empati bagaimana?

Akutu sadar diri banget, sebagai manusia, jauh dari kata suci, aku taudiri punya banyak dosa. Aku juga paham, harus ridha, sabar, tawakkal dalam menyikapi ujian, karena memang cuma itu pilihannya.

Tapi kalo denger atau baca komentar orang lain, “Sabar ya, sakitmu menggugurkan dosa-dosamu.” Koq masih aja terasa nyelekiit ya. Menurutku, nggak perlu dipertegas secara verbal kekgitu.

Pertanyaanku, sedemikian hebatnyakah dosa-dosaku, hingga pantas dikasih hukuman kanker, sedangkan si komentator enggak? Lalu bagaimana dengan ulama, ustadz, ustadzah, yang Qadarullah kena kanker juga, apakah si komentator yakin punya amalan lebih unggul dari pada sang ulama?

Manusia berbeda-beda, ada yang peka dan mau belajar, ada yang “ah yang penting gue udah berempati.”

Silakan aja pakai cara lama. Tapi jangan bete nerima respon pasien yang tak diharapkan. Beberapa pasien, termasuk saya, bila kurang berkenan dengan ucapan empati orang lain, akan menjawab balik, dengan kalimat yang bisa bikin tersinggung.

Sensitip banget sih. Ya, emang. Yang harus sabar bukan hanya pasien dan keluarganya. Lingkungannya pun, harus sabar. Berani nasehatin sabar, berani amalkan sabar juga dong. Walk the talk.

Jangan yang kedua: Jangan nanyain penyakitnya, kecuali si pasien sendiri yang cerita.

Jangan yang ketiga: Jangan menasehati, kecuali diminta.

Kita bisa koq, berempati dengan cara yang lebih menyenangkan.

Kalo ada saudara atau teman yang sedang diuji penyakit berat, yang terbaik utama, adalah mendoakan pasien dan keluarganya, semoga dikuatkan dalam iman islam istiqomah husnul khotimah. Doakan secara sembunyi-sembunyi.

Kedua, kalo tinggal berdekatan, atau jaraknya mudah dijangkau kendaraan, alangkah baiknya sempatkanlah berkunjung, bawa buah-buahan warna warni, rimpang-rimpangan, madu, kurma, omega 369, atau buku bacaan (kalau pasiennya hobi membaca). Atau mengucapkan kalimat pujian, ketika pasien telah menyelesaikan satu tahapan terapi. Liat-liat juga karakter pasiennya.

Ketiga, kalo tinggal berjauhan, boleh komunikasi via medsos, tanya kabar, lagi ngapain, tadi sarapan apa, ngobrolin hal-hal yang menarik bagi pasien misalnya makanan favorit atau destinasi wisata atau buku bagus atau film baru. Bisa juga, broadcast cerita atau video humor, tapi pastikan dulu cocok dengan selera humornya pasien.

Ada lagi nggak, cara asyik berempati?

===

Fotbar salah seorang motivator pribadiku.
Ma Syaa Allah tabarakallah. πŸ’–

Kamera Xiaomi, ngapa muke gue jadi gini, sikk.. πŸ€”πŸ’­

Menemukan Rasa

Tahu jalannya’ dan ‘pernah melaluinya’ adalah dua hal yang sangat berbeda.
.

Dimana letak perbedaannya? . ‘Rasa’. .

Di zaman sekarang ini, untuk sekadar ‘tahu jalannya’ sangatlah mudah, cukup buka google maps, ketik lokasi tujuan, terlihat detail semua jalan menuju kesana, beserta ragam alternatif pilihan.
.

Tapi ketika berbicara tentang kualitas dan ‘rasa’ perjalanan, akan jauh berbeda dibandingkan jika kita pernah melaluinya.
.

Kita bisa tahu persis dimana saja letak polisi tidur sepanjang jalan, tukang sate gerobak kaki lima favorit, lubang-lubang jalan yang perlu dihindari, sampai spot-spot terbaik untuk foto-foto.
.

Dan ucapan orang yang ‘pernah melaluinya’ akan terasa begitu bertenaga (powerful) saat menunjukkan jalan kepada mereka yang membutuhkan arahan.
.

Ngomongin ikhlas itu mudah, sampai kita benar-benar dihadapkan pada situasi yang memaksa kita untuk melaluinya.
.

Mengajar tentang ‘rendah hati’ itu enteng dan manis di lidah, sampai kita bertemu dengan kondisi untuk menguji bisakah mempraktekkannya.
.

Menganjurkan orang lain untuk mau memaafkan itu ringan, sampai kita berada dalam keadaan yang membuat kita harus sungguh-sungguh melakukan apa yang dianjurkan.
.

Menyuruh orang lain untuk menahan amarah dan bersabar itu gampang, sampai dihadirkan kejadian yang akan memperlihatkan kemampuan kita untuk mengamalkannya.
.

Apa-apa yang sering kita serukan akan berubah menjadi ‘tukang tagih’, hadir dihadapan, meminta untuk dilakukan.
.

Semata-mata sebagai wasilah untuk menaikkan kualitas diri dan menghujamkan rasa dalam hati.
.

Memang bagian yang paling sulit menjadi seorang pembicara, trainer, mentor, guru, untuk orang lain ataupun sebagai pengajar dan pendidik untuk sebuah keluarga kecil kita adalah “Walk the Talk”. Menyelaraskan apa yang dilakukan dengan apa yang diserukan dan diajarkan.
.

Semua jurus-jurus yang sudah kita tahu tak pernah teruji sampai Allah hadirkan kesempatan untuk ‘latih tanding’.
.

Teruslah berada dalam jalan kebaikan.. perjalanan cinta seorang hamba…
semoga setiap langkah kita selalu dibimbing olehNya.
.

Terimakasih inspirasi paginya Kang @hendy_triyunianto

Istiqomah dalam bertobat.

Tema kajian Subuh pada hari Jumat 6 Desember 2019 di Masjid Daarut Tauhiid Bandung, adalah tentang istiqomah dalam bertobat.

Perumpamaannya gosok gigi tiap hari dan enam bulan sekali gosok gigi. Mandi tiap hari dan mandi sebulan sekali. Tentu saja hasil akhirnya pasti berbeda.

Salah satu waktu terbaik bertaubat adalah di waktu Sahar, yaitu sekitar setengah jam sebelum Subuh, atau pada waktu imsak menjelang Subuh.

Dan Allah Maha melihat hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: β€˜Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka’. (Yaitu) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahar.” (QS. Ali Imron: 16-17)

Makan Alpukat lagi.

Setelah dua puluh purnama, saya kembali berselera makan alpukat. Koq bisa?

Awal 2018 saya pernah menjalani ketofastosis. Puasa sekian belas jam, salah satu menu buka puasanya, buah ini. Setiap hari.

.

Beberapa hari sebelum kemoterapi pertama, 12 Mei 2018, saya kembali menganut pola makan karbohidrat. Sumber karbo saya makan dari sayuran dan buahan warna-warni yang kaya antioksidan. Tapi belum tertarik makan alpukat sampai pagi ini. Sarapan sayur, sudah. Masih craving. Pingin ngganyem.

.

Teringat paket pesanan saya sama Mbak Dyan @dapur_mandaa Dyan Kalandra Shs jenisnya alpukat mentega. Beli 3 kilogram, saya cek, semuanya dalam keadaan, pas matang bagus, pilih dua butir, siram jeniper, minyak zaitun, bubuk daun kelor, lada, garam, rasanya so-yummy. πŸ’– Ma Syaa Allah tabarakallah.

Sebelum komentar ‘nanya, “Gimana tu, rasanya? Emangnya enak?” Sebaiknya baca dulu yang ini, yaa 😊😊

Jauh masa sebelum kena kanker, walaupun belum istiqomah, saya sudah membiasakan diri memilih makan makanan yang halal dan thoyyib.

Jadi, sekarang, ketika nasehat dokter hanya boleh makan makanan yang sehat saja, saya harus memperkuat Mindset: semua makanan sehat itu Enak, atau enaaakk banget.

Saya juga banyak nonton tutorial #vegan di IG dan uji coba di dapur sendiri. Rasanya enak-enak aja, ada yang seger kayak asinan Bogor, ada yang manis kayak es krim atau panekuk cokelat, ada yang pedes kayak gulai.

Jadi kalo saya lagi semangat posting menu sarapan atau kudapan saya, kamu nggak usah nanya rasanya gimana, karena kamu nggak pernah jalanin pengobatan kanker. Bersyukurlah kalo saat ini kamu masih punya pilihan makan junk food.

It’s all about mindset.

Mindset saya: Semua makanan itu enaak, atau enaaak banget, ketika dia halalan thoyyiban. Thoyyiban/ baik / sehat menurut standar ahli gizi. Bukan standar lidah orang awam yang nggak punya riwayat kanker. πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™

.

Mabit di DT

Mabit di Daarut Tauhid 5-6 Desember 2019.

Hari Senin pagi masih di Cirebon, iseng-iseng booking penginapan via aplikasi Tr*v***k* untuk Kamis-Jumat 5-6 Des 2019. Alhamdulillah berhasil dapat kamar di bed and breakfast Daarul Jannah Cottage.

Biasanya gagal terus, fully booked terus, kalah cepet terus. Kamis sampai Ahad di pekan pertama memang penginapan terdekat dengan masjid ini selalu dipenuhi oleh jamaah lintas provinsi.

Saya menginap bersama sahabat, Hariyani Kaharudin Said asal Cibubur, dan
dan Heti Tarheti jamaah asal Subang.

Penginapan ini hanya berjarak sekitar 100 meter dari Masjid DT dan selalu sold out setiap Kamis sampai Ahad pekan pertama, dipesan oleh jamaah dari mana-mana.

Ada banyak pilihan penginapan di sekitar Masjid, tapi yang saya lihat di aplikasi ag*d*, reddoorz, dan trav***** hanya MQ guest house, allure guest house, daarul jannah cottage. Selain tiga itu, booking harus by phone dan kirim bukti transfer via fax/email ke pihak penginapan.

Sebetulnya bisa juga mabit di masjid, jamaah wanita di lantai tiga. Tapi naik turun tangganya kalo perlu ke toilet atau berwudhu, lumayan cihuy. Juga pertimbangan keamanan barang berharga dan kenyamanan beristirahat. Secara, kondisi Heti dan saya sudah tidak sama lagi dibanding tahun-tahun sebelum menjalani kemoterapi.

Jadi, tiap ke DT saya selalu memesan kamar pribadi di penginapan. Masjid hanya untuk sholat, dan nyimak kajian.

Takjub liat Kang Parkir DT, buka puasa, makannya nggak berdiri, basmalah, tawadhu, jaga adab banget. Ma Syaa Allah πŸ’–

Kado Milad ke-47

Kado Milad dari keluarga hebat. Ma Syaa Allah tabarakallah.

Perjalanan santuy jalur darat rute Jakarta – Semarang – Kudus – Dieng – Cirebon – Jakarta. Lewat jalan toll super mehong! Subhanalloh! Lihat saldo e-money. Saya kaget! 😊😊

Di Semarang, hanya main ke Lawang Sewu, Simpang Lima, dan Kota Tua.

Di Kudus, mengunjungi sepupu dari keluarga bapak. Seorang sepupuku usianya 74 tahun, lebih senior 4 tahun dari ibuku, dan aku harus memanggil beliau, “Mbak Farida. ” …. O my God. 😊

Di Dieng Wonosobo, saya terima tantangan suami, “Jam 3 pagi jalan nanjak 800 meter medan agak terjal, kamu kuat nggak Fi? ”

Saya cuma jawab, “Semoga Alloh ijinkan, ya..”

Alhamdulillah berkat pertolongan Alloh, setelah satu jam lebih mendaki, 3-4 kali istirahat, ambil napas panjang, kadang menaiki anak tangga harus setengah sujud, dengkul sempfet gemeteran, tapi senyum-senyum melihat ulah anak muda tinggi besar yang mengeluh minta countepain 😊😊 kami sampai di Gardu Pandang Utama Puncak Sikunir.

Turunnya, tak kalah menantang juga. Banyak wisatawan yang terpeleset, jatuh duduk. Karena tanahnya licin dan anak tangganya tinggi. Ada sih batang kayu buat pegangan. Tapi banyak rusak, goyang, kurang stabil.

Saran saya, pakai alas kaki yang memang peruntukannya, naik gunung. Kurangi beban bawaan. Atur napas. Jangan tergesa-gesa dan jangan terlalu lambat juga. Dzikrullah yang banyak. Takbir. Tasbih. La haula wa la quwata illa biLLah. Sholawat.

Penginapan, kami pesan kamar lewat aplikasi agoda dan reddoorz, cari mana yang lebih iyes hemat, lokasi strategies, dekat pasar atau minimart, akses jalannya bagus, dan lahan parkir luas.

Wisata kuliner Lunpia Cik Me Me (sertifikat Halal MUI), Soto Bangkong, Garang Asem Sari Rasa Kudus, Nasi Jamblang Bu Nur Cirebon, dan tentu saja blusukan jajan makanan lokal di pasar.

Segala puji bagi Allah yang dengan kehendak-Nya segala ni’mat menjadi sempurna. 🀲

28 Nov – 02 Des 2019.

Tuhan, jangan ambil imanku.

Bismillah.

Mohon ijin berbagi lagi, ya.
Bulan Juni 2019 hasil PetCT saya kurang menggembirakan. Tak perlu saya ceritakan detil, ya.

Awalnya reaksi saya, menangis satu jam di parkiran RS.

Pulang, nyetir sendirian, dalam keadaan… Marah, sedih kacau.

Sampai di rumah, nangis lagi. Sampai capek, ketiduran. Suami pulang, nangis lagi. Nggak bisa ngomong apa-apa.

Suamiku bilang, “Kita lanjutkan perjuangan. Aku temenin kamu.”

Setelah saya sudah lebih tenang, suami ngomongin persiapan-persiapan menghadapi kemungkinan-kemungkinan ikhtiar yang akan kami tempuh.

Kami sholat di tengah malam, di ruang berbeda, karena rumah kami belum ada mushollanya, kamar pun kurang luas untuk dipakai sholat bareng.

Baru takbiratul ihram ajaa, saya udah nangis lagi. Dalam sujud saya bertanya, “Ya Allah, saya sudah berobat selama setahun, saya sudah berdoa, ibu saya pun sudah berdoa kepada-Mu, sahabat-sahabat sholeh sholehah saya mendoakan saya juga. Tapi hasil PetCt koq kayak gini?”

Sepekan itu saya sempat merasa gagal paham, kecewa, marah, sedih. Saya keluar dari beberapa WA-group. Uninstall medsos. Untuk menenangkan diri.

Saya bertemu Dr Findy, konsultasi, dan beliau kelihatan tidak sependapat dengan simpulan hasil pembacaan Dr Aulia, dengan beberapa alasan. Hasil PETct saya dibawa ke RSCM untuk second opinion.

Tiap sholat saya berdoa, kembali memohon kekuatan, menerima pendapat dokter-dokter RSCM nanti. Saya mohon diberikan hati yang ridha menerima ketentuan Allah.

Pasrah… kalo emang masih harus melanjutkan terapi, semoga tubuh dan jiwa ini, kuat, sabar, ridha.

Alhamdulillah dipertemukan dengan Ummu Aufa di Sahabat Sehat, yang pernah berjuang bertahun-tahun dengan kasus yang jauh *tidak* lebih baik dari saya, tidak bisa jalan, mengalami berkali-kali anfal, divonis tidak bisa punya keturunan, berobat sampai berhutang ke (maaf) rentenir, dikejar-kejar debt collector….. Siapa yang menyangka, sekarang beliau sangat aktif nggak ada capeknya, punya sekolah tahfidz, setahun lalu melahirkan anak keenamnya. 😍

Ma Syaa Allah πŸ’–

Saya jadi ngerasa, ihh cemen banget gue. 🀭 baru dikasih segitu aja udah nangis berjam-jam. Malu sama Allah.. ☺

===

September 2019 harusnya jadwal CT-scan (ulang) tapi Dr Findy bilang, nggak usah. Hasil darahnya bagus semua. Hasil pemeriksaan fisik juga tidak ditemukan benjolan. Pesan beliau hanya, usahakan kontrol per 3 bulan tepat waktu ya.

Bersyukur dan mengambil pelajaran:

1⃣ terdapat perbedaan manhaj/madzhab di kalangan dokter

2⃣ hasil pemeriksaan di atas kertas, bisa benar, bisa juga salah. Tergantung siapa yang baca.

3⃣ Manusiawi, kalo kita merasa sedih, kecewa, marah. Tapi jangan kelamaan ya. Jangan biarkan hasil pemeriksaan, vonis dokter, merusak keyakinan kita kepada Allah. Tetap lanjutkan ikhtiar, all-out. Totalitas.

4⃣ Kembalikan semuanya kepada Yang Memberi Ujian, dan terus bangun Sangka Baik kepada Yang Memberi. …. Bagaimana besok, adalah hasil ikhtiar dan keyakinan kita hari ini. πŸ˜ŠπŸ™

5⃣ ikhtiar sungguh-sungguh, all-out, totalitas, disiplin.

Dan jangan kepedean dengan mengatakan “saya pasti sembuh karena dokternya terbaik , RS terbaik , obatnya paten, saya sudah disiplin, jaga makan, dsb.” …. Jangan sampai jatuh menuhankan ikhtiar.

Walaupun jalur medis masih jadi yang terbaik mengatasi kanker.. Pengobatan medis, selamanya, tidak akan pernah mempercepat atau pun menunda kematian. Kesembuhan itu mutlak hak prerogatip Allah.

Ada yang Allah beri sembuh dengan cepat, mungkin dengan kesembuhannya itu dia lebih produktif dan lebih bermanfaat bagi umat manusia. Ada juga yang Allah tunda, karena Allah masih rindu doa-doa mesranya, ketawadhu’annya, sedekahnya yang jor-joran, Allah jaga, Allah lindungi dari berbuat kurang baik, atau Allah lebih ridha menyaksikan keindahan akhlak pasien pada pasangannya, keluarganya, sahabatnya. Wallahu’alam bish showab.