Mengelola Mual dan Muntah Selama Kemoterapi

Makanlah makanan dalam jumlah sedikit sepanjang hari, agar tidak cepat merasa kenyang.

Makan makanan kering yang cenderung tidak membuat perut sakit, seperti biskuit, roti panggang, dan sereal.

Jauhi makanan berminyak yang mungkin tidak cocok dengan perut.

Cobalah makanan berbahan dasar jahe untuk membantu meredakan mual. Ini termasuk ginger ale, teh jahe, atau jahe yang mengkristal yang dimakan sebagai camilan.

Duduklah setelah makan – berbaring setelah makan dapat mengganggu pencernaan.

Bilas mulut sebelum dan sesudah makan untuk menghilangkan rasa tidak enak yang mungkin membuat mual.

Minta seseorang untuk memasak atau memesan makanan untuk dibawa pulang sehingga dapat menghindari bau menyengat yang mungkin tidak sedap saat memasak.

Tanyakan kepada dokter tentang obat antimual yang dapat diminum sebelum atau bersamaan dengan pengobatan kanker payudara . Ada juga obat antimual yang dapat diminum dengan obat pereda nyeri yang membuat mual.

Pertimbangkan teknik komplementer dan holistik seperti akupunktur , relaksasi , dan visualisasi untuk mengurangi mual.

MENGELOLA MUNTAH

Hubungi dokter segera jika:
muntah lebih dari 4 atau 5 kali dalam periode 24 jam
perut membengkak atau sakit sebelum muntah
tetap muntah meskipun sedang minum obat antimual
mengalami serangan muntah baru yang tidak terduga
karena ini bisa menjadi tanda dari kondisi yang lebih serius.

Jika muntah setelah mendapatkan perawatan, bicarakan dengan dokter. Mungkin perlu mengganti obat. Dokter mungkin akan meresepkan obat antimual.

Untuk membantu meredakan sakit perut dan memulihkan diri dari muntah, cobalah tip berikut ini:

Jangan makan selama beberapa jam setelah muntah agar usus tenang.

Bilas mulut dan sikat gigi setelah muntah untuk menghilangkan rasa tidak enak.

Isap permen peppermint jika rasa tidak enak di mulut masih terasa.

Makanlah dengan sangat perlahan setelah perut tenang.

Minumlah cairan bening seperti kaldu, jus, minuman olahraga, dan air agar tetap terhidrasi dan menggantikan cairan yang hilang akibat muntah.

Makan makanan hambar dan kering seperti agar-agar, buah, nasi, kerupuk kering, roti panggang, atau sereal kering.

TIPS MAKAN SAAT MUAL MUNTAH

Makan makanan kecil sesering mungkin. Jika merasa mual di antara waktu makan, cobalah makan 6 hingga 8 makanan kecil di siang hari dan camilan sebelum tidur.

Makan makanan dingin atau pada suhu ruangan , jangan panas, untuk mengurangi bau dan rasanya.

Jangan makan di ruangan yang hangat. Udara mungkin terasa pengap dan pengap, serta membuat perut terasa lebih tidak enak.

Bilas mulut sebelum dan sesudah makan. Ini membantu menghilangkan rasa tidak enak di mulut.

Duduk atau berbaring dengan kepala terangkat setidaknya satu jam setelah makan jika perlu istirahat. Menjaga kepala tetap tegak membantu mengurangi mual.

Apa yang harus dimakan jika mual:

Makan unggas atau kedelai . Cobalah makanan kalkun, ayam, atau kedelai jika tiba-tiba tidak menyukai daging merah. (Ini bisa menjadi reaksi yang umum.)

Makan makanan kering , seperti biskuit, roti panggang, sereal kering, atau roti tawar, ketika bangun dan setiap beberapa jam di siang hari. Mereka memberikan nutrisi dan membantu menenangkan perut.

Makan makanan dingin alih-alih makanan panas dan pedas . Pertimbangkan yogurt tanpa lemak, jus buah, serbat, dan minuman olahraga. Makanan pedas bisa membuat perut semakin sakit.

Jangan makan makanan yang sangat manis, berminyak, atau digoreng . Mereka mungkin lebih mengganggu perut. Pertimbangkan kentang panggang, rebus, atau tumbuk; Nasi; sup krim yang dibuat dengan susu rendah lemak; gelatin rasa buah; kue pretzel; atau puding rendah lemak.

Cobalah makanan hambar, lembut, dan mudah dicerna pada hari-hari dijadwalkan untuk menjalani pengobatan . Telur rebus BB dengan roti panggang kering atau dada ayam rebus dengan mie tawar adalah pilihan yang baik.

Makan makanan yang tidak berbau tajam . Bau bisa memicu mual.

Terjemahan bebas dari breastcancer.org

dr Dwisanti N (almh)

Begini Demokrasi Dalam Keluarga Kami

Senin pagi mengantar si sulung menuju sesekantor untuk tanda tangan kontrak kerja. Baru sampai Pasar Sunan Giri, dia ngomong, “Barengan kantor yang ini, aku juga daftar di Dinkes, kerjaannya sama, cuma yang di Da**** lamanya 3 bulan karena selang seling 14 hari kerja 14 hari isoman. Sedang di Dinkes masuk terus, jadi cuma enam minggu. Kemarin aku ‘dah ngikhlasin yang di Dinkes, bu. Tapi barusan WA-nya masuk, ngasih jadwal interview. Menurut ibu gimana?”

Minat kamu lebih condong kemana?

“Dinkes.”

Siap, ga… Kehilangan semuanya?

  • bengong – bingung –

Kalo menurut teman-temanmu gimana?

“Da*— bu, yang sudah jelas diterima.”

Hatimu? Sejujurnya?

“Dinkes.”

Ya udah, kita pulang. Tapi kamu harus ikhlas, tidak boleh ada penyesalan di kemudian hari.

“Ehh entar dulu bu, tanya Ayah ya.”

(Dia telpon ayahnya)

Dalem hati emak nih, “Bakalan disuruh pulang deh. Ayah ibumu tuh kompak Nak, pasti dukung passion anak-anaknya.”

Abis teleponan Ayah, dia bengong lagi.

Emak bawel, “Sama, kaaann. Sekarang yang jadi masalah, apa?”

“Gimana cara pamitannya bu, sekarang sudah jam 09.45. Training mulai jam 10.”

Bismillah, kamu pasti bisa Nak. … Bulan lalu nulis 2000 kata di website
jurnal kesehatan aja bisa. (ibuk lagi males mikir) auto putar-balik setir arah pulang.

Lamaaa dia ketak-ketik pesan. Ngelamun lagi. Ngetik lagi. Ngelamun lagi. Kayak mau nangis gitu.

Kenapa Nak?

“Mereka jawab, sebenarnya kurang baik cara seperti ini, tapi mereka bisa mengerti. Aduh aku ngerasa ngga enak bu.”

Ya pasti ngga enak. Tapi cuma beberapa hari doang, entar juga lupa. Dari pada kamu maksain nerusin di Da*—-, terus kepikiran Dinkes, terus kamu baca cerita bahagia mantemanmu yang di Dinkes. Kamu bisa didera rasa ngga enak, penyesalan, for the rest of your life. Mau?

Dia menggeleng.

===

Anak ini akan hidup di jamannya nanti. Kami mengajarkannya berani mengambil keputusan (walaupun di kemudian hari ternyata keputusan itu salah, nggak apapa, kita belajar dari kesalahan) dan move on. Kami pun konsisten, memberikan anak-anak kebebasan memilih sekolah, pekerjaan, sesuai kecondongan hatinya. Kecuali dalam hal akidah, akhlak, adab, tidak ada demokrasi, harus taat, sami’na wa atho’na.

Kalo soal jodoh? Ayah ibuk ngasih term and conditions, harus yang bla bla bla, tapi orangnya mereka boleh pilih sendiri.

Sekolah dulu ya Nak, yang tinggi, karena ayah ibuk nggak bisa kasih warisan harta. Maka ilmu itulah bekal terbaik hidupmu, agar kelak menjadi hamba yang dicintai Tuhan oleh sebab ketinggian ilmunya.

Bukan Salah Nikah Mudanya, Tapi..

Turut sedih prihatin dengan keputusan pasangan muda Larisa dan Alvin, anak menantunya mendiang Ustadz Arifin ilham. Semoga Allah kuatkan teguhkan iman Islam keduanya.

Pernikahan memang bukan melulu tentang kebahagiaan, kemesraan, bikin ‘ngiri para jomblo. Tapi tentang jihad, menerima kekurangan pasangan dan mensyukuri kebaikan-kebaikannya seremehtemeh seretjeh apapun. Tentu tidak mudah. Apalagi bagi mereka yang masih sangat muda, populer, dengan latar belakang bak bumi dan langit.

Banyak orang mengibaratkan pernikahan seperti sebuah kapal melintasi samudera, gelombang badainya pasti dahsyat. Maka kapalnya harus kuat, bahan bakar harus cukup, sparepart cukup, mekanik handal, nahkodanya harus paham tujuan, rutenya, serta cukup bekal ilmu dalam menghadapi kejutan-kejutan di perjalanan.

Mencintai karena Allah, itu bukan lip service. Bukan sebatas quote sok bijak. Mudah diomongin, dihadiahkan sebagai nasehat, tapi ngejalanin sendiri, termehek-mehek.

Kita perlu banyak belajar dari orangtua-orangtua kita jaman dulu yang menikah tanpa pacaran, tapi langgeng sampai usia pernikahan 50-60 tahun, hingga maut memisahkan. Kita mungkin perlu mengadopsi pola kesuksesan mereka dan memodifikasinya dengan sikon sekarang.

Tapi jika mempertahankan hubungan pernikahan itu berpotensi menciptakan toxic relationship, menzalimi satu sama lain, lebih besar mudharatnya dari pada manfaatnya, maka hal yang dibenci-Nya itu boleh menjadi pilihan. Wallahu’alam.

Semoga Allah kuatkan ikatan cinta kita dan pasangan, makin sakinah, kokoh, langgeng, sehidup sesurga.