Refleksi satu setengah semester

Alhamdulillah satu setengah semester kulalui dengan selamat, berkat doa banyak orang. Terima kasih keluarga dan manteman.

Aku mulai menikmati irama tugas makalah, presentasi, ketiduran pas diskusinya anyep, bolak balik perpusnas, batal piknik gegara tugas dadakan deadline hari yang sama, batal piknik karena dokumen lembar jawaban ujian pas dibuka di laptop pak dosen Zonk! Kosong, dong! Alhamdulillah diijinkan mikir ulang ngetik ulang.

Jadi paham, mayoritas umat Islam di Indonesia beraqidah ahlussunnah wal jamaah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Cirinya kenal senandung sifat dua puluh; wujud, qidam, baqa, qudrat, iradat, wahdaniyah, dst.

Ternyata sekte Syiah itu cem-macem, terpecah beberapa sub sekte, ada yang radikal, dan ada juga yang moderat sekilas mirip Sunni (tidak menghujat ibunda ‘Aisyah & sahabat radhiallohu ‘anhum).

Ternyata golongan yang mengklaim dirinya Salafi itu Wahabi. Cuma karena nama Wahabi terlanjur negatif citranya, ganti nama Salafi. Ada yang gayanya woles lembut santun banget, tapi tidak sedikit yang tengil.

Aku juga banyak mengikuti sesi diskusi panas dengan 22 Asatidz/ah yang jam terbang ceramahnya ngeri-ngeriii. πŸ˜„ Gue doang emak berdaster. Berisik pulak. Kadang lupa kalo yang kuhadapi ustadz-ustadz. Gas, gas, gaasss. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ™

Salah gapapa yang penting ngegas dulu. :-p

Awalnya terkaget-kaget juga sih. Ada yang pemikirannya polos banget, naif banget, kolot banget, idealis banget, kurang piknik. Kayaknya mereka enggan buka mata melihat realita / kenyataan yang saat ini ada di masyarakat. Mana enteng banget ngejudge pulak. You know lahh golongan apakah itu.

Ada juga yang pertanyaan atau pernyataannya cenderung liberal, tapi sebenarnya enggak. Saya sering jejaprian karena penasaran.

Jadi ketauan siapa-siapa yang benar-benar terjun berenang di lautan permasalahan umat dan siapa yang berada di zona nyaman. 😊

Aku belajar, ternyata boleh ya kita berbeda pendapat asal jelas referensinya. Boleh beda pandangan tapi nggak boleh baper. Nggak emosional fanatik berlebihan, karena nanti jadi nggak rasional, taklid buta, salah pun mencari dalil pembenaran. Tak kenal maka ta’aruf dooung. Aku menjaga jarak, tapi tidak memusuhi. Aku tidak antipati, tapi bodo amat. 😊

Wallohua’lam.

Refleksi Belajar Ilmu Kalam

Esai refleksi ini lumayan panjang dan agak berat, jadi kalo kamu malas baca silakan skip aja ya. Terima kasih.

Mata kuliah yang paling menantang pada semester satu kemarin adalah Teologi Islam atau Ilmu Kalam.

Kami “dipaksa” meneliti sejarah pemikiran aliran-aliran dalam Islam, sejak pasca wafatnya junjungan kita Rasulullah Saw.

Beliau Saw memang tidak pernah berwasiat tentang siapa penggantinya dan bagaimana memilih pemimpin umat.

Abu Bakar Sidiq ra terpilih sebagai khalifah pertama. Setelah beliau wafat, Umar ra. menjadi khalifah kedua. Ketika ‘Umar ra. cedera dan mengira hidupnya tak lama lagi, ia menetapkan Utsman bin ‘Affan ra. menjadi khalifah ketiga.

Fitnah perpecahan pertama yang terjadi adalah ketika khalifah Utsman ra. terbunuh.

Gara-gara apa, mau tau?
Politik! 😊

Perbedaan pandangan politik yang terjadi di kalangan sahabat radhiallohu ‘anhum serta perbedaan penafsiran tentang bagaimana memilih dan siapa pengganti yang pantas memimpin umat Islam, khalifah versus imamah, berujung menyedihkan. Terjadilah perang Jamal, perang Sifin, arbitrase antara ‘Ali ra. dan Muawiyah ra., hingga munculnya sekte Khawarij, kaum yang mengkafirkan golongan yang menerima arbitrase.

Sekte Syiah berkeyakinan bahwa pengganti Nabi Muhammad Saw yang mereka akui hanya ‘Ali ra. dan keturunannya. Mereka tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar ra., ‘Umar ra., Utsman ra. dan yang selain keturunan Nabi Saw.

Ya memang ada (sub sekte) yang ekstrim penafsirannya melebar sampai ke ranah teologi. Kita tahu ada sub sekte Syiah yang melaknat ibunda ‘Aisyah ra dan para sahabat radhiallohu ‘anhum.

Sedangkan sekte Khawarij berkeyakinan bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar, auto kafir, dan darahnya halal (boleh dibunuh). Al Quran ditafsirkan seenak udelnya.

Ada sekte Jabariyah, yang memiliki keyakinan bahwa setiap hal yang terjadi adalah takdir. Semua usaha dan pilihanmu adalah takdir. Kamu buang angin sembarangan pun, itu juga takdir.

Sedangkan sekte Qadariyah kebalikan Jabariyah. Kelompok ini mengingkari adanya takdir. Kamu sukses karena kerja kerasmu, karena kepintaranmu, karena priviledge yang kamu punya, dsb. Mereka menafikkan ketetapan / ijin / kehendak Allah Swt.

Ada lagi sekte berpaham Mu’tazilah versus aqidah Ahlussunnah wal jamaah (Asy’ariyah & Maturidiyah) yang berbeda penafsiran tentang akal manusia, pilihan tindakan manusia, Kemahakuasaan dan Kemahaadilan Allah.

Hikmah yang saya cerna adalah (pertama) Al Quran nya sama, tapi karena pemahaman orangnya berbeda-beda, maka penafsirannya pun berbeda-beda, akhirnya sikap mental dan tindakannya pun berbeda-beda.

Kedua, kadang saya jengah liat orang dakwah di youtube/tiktok/instagram itu seperti berdagang. Pedagang yang takut kehilangan pelanggan, bukannya memperbaiki kualitas layanan, malah menjelek-jelekkan toko sebelah. Ngenes aja sama ustadz model gini. Jamaahnya juga kadang ikut-ikutan enteng banget menghakimi orang yang berbeda pandangan dalam hal ranting. DikitΒ² nuduh Syiah, Liberal, bid’ah, padahal baru “katanya” dan ironisnya mereka meyakini ayat Tabayun, tapi praktiknya? πŸ€”πŸ’­

Gak heran dakwah yang digandrungi kaum millenial adalah yang adem, chill, santuy, fun, sehat buat mental. Which is, yang kamu bilang “katanya” brand toko sebelah, Syiah.

Nahh kalo kita gak mau pelanggan beli di toko sebelah, ya fokus saja perbaiki layanan toko kita. Karena menghujat toko sebelah nggak ngefek Bro, malah jadi iklan gratis yang bikin penasaran, akhirnya pada mampir belanja deh di toko sebelah.

Ketiga, ketika melihat berita yang janggal belum jelas kebenarannya, saya malah kepo, malah saya follow/subscribe kanalnya, simak postingannya dengan cermat, sampai “klik” dapet nih dia jawabannya.

Saya belajar menahan diri dari ikut-ikutan men-judge orang. Karena perbedaan penafsiran itu pasti terjadi sepanjang masa. Beda jaman, beda latar belakang sosial budaya, beda tingkat pemahaman, beda konteks, wajar saja jadi beda penafsiran dan beda fatwa. Karena 4 imam besar berbeda madzhab tidak pernah saling mentahdzir. Wallohua’lam.

Throw back in 2018-2019

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalam ‘ala Rosulillah. 🀲🀲

Flashback 2018-2019 pengobatan kanker yang kami ikhtiarkan, prioritas medis, bukan herbal. Ngamalin dulu Al Baqoroh ayat 45; mintalah pertolongan Alloh lewat sabar (nggak grasagrusu) dan sholat.

Mulai dari memilih dokter, memilih RS, mau operasi, kemoterapi, dan sebagainya, pake sholat istikhoroh dulu. Kami nggak mau kepedean percaya kata orang dokter ini bagus, RS ini bagus, herbal ini bagus, blablabla. Jadi sebelum ambil keputusan, sholat dulu.

Gabung dengan komunitas kanker untuk berbagi semangat dan dapetin informasi sebanyak-banyaknya, tips, trik, solusi, mencegah dan mengatasi berbagai keluhan.

Rangkaian pengobatan pun kami jalani dengan komitmen, disiplin. Semangat atau lagi nggak semangat, tetap dijalani. Selesaikan dengan sebaik-baiknya. Yakin dan percaya, semua ikhtiar akan jadi penggugur dosa dan tambahan catatan amal shalih. In Shaa Allah.

Dari semua ikhtiar pengobatan yang kami tempuh, ini yang paling penting: hati yang sakinah, tenang, rileks, tentram, ridho dan bersangka baik atas semua ketetapan Allah, siap sembuh sehat wal’afiyat dan siap “pulang” πŸ™πŸ™

Jikalau masih ada impian cita-cita, ikhtiarkan semampunya,
jangan diforsir.
Stay relaxed, stay happy, stay positive.
Bawa dalam doa. Perbaiki niat.
Jika DIA ridho niscaya ada pertolongan, atau DIA ganti dengan sesuatu yang lebih baik.
Allahu Akbar! ✊

Fokus memperbanyak taubat, dzikir, bersyukur atas karunia ni’mat yang countless (tak terhitung) dan berusaha tetap produktif memberikan legacy manfaat bagi banyak orang. La haula wa la quwwata illa biLLaah. 🀲🀲


Tetap semangat πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯tetap optimis yaaa sayang 😊

Afiya.
Menulis, berbagi inspirasi dan menguatkan diri sendiri.

===

Makasih banyak support dan doanya.